Ini Janji Kandidat, Catat dan Tagih Jika Ingkar

0
80
"Debat Publik Pertama Pilgub Jatim’ digelar di Dyandra Convention Center Surabaya"

Nusantara.news, Surabaya – Masyarakat harus mencatat dan mengingat janji-janji pasangan cagub dan cawagub yang maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018. Komitmen untuk menyejahterakan rakyatnya, jika terpilih menjadi kepala daerah. Misalnya, calon nomor urut satu Khofifah Indar Parawansa, dari sejumlah hal yang disampaikan untuk memperbaiki dan mewujudkan masyarakat Jatim yang sejahtera di antaranya dengan melakukan perbaikan mutu pendidikan.

Pendidikan harus mendapat prioritas penanganan termasuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di tingkat pusat seyogyanya juga berlaku untuk Madrasah Diniyah. Dengan memberikan bantuan kepada anak didik di jenjang SMA/SMK dan Madrasah Diniyah. Selain bantuan untuk lembaga pendidikannya, kepada guru untuk peningkatan jenjang pendidikan juga harus diberikan. Bantuan juga perlu ditujukan kepada para siswa agar setelah lulus memiliki ketrampilan sebagai bekal untuk bersaing di pasar tenaga kerja. Atau yang ingin melakukan pengembangan diri bisa melanjutkan kuliah.

“Mereka (siswa) bisa mendapatkan penambahan skill, yang diberikan pada hari Sabtu dan Minggu. Untuk yang unskilled labour mulai hari ini perlu diberikan special treatmen. Jika selesai atau tamat sekolah akan memiliki ketrampilan tertentu. Termasuk jika akan menjadi TKI atau TKW ke luar negeri bisa menjadi tenaga terampil,” urai Khofifah, di acara ‘Debat Publik Pertama Pilgub Jatim’ digelar di Dyandra Convention Center Surabaya, Selasa (10/4/2018) malam.

Khofifah juga membeber bahwa, kesempatan mendapat pekerjaan di daerah sendirinya (di wilayah Jatim) sejatinya juga masih terbuka lebar. Dia memberikan contoh, misalnya di sektor agro bisnis di wilayah Kabupaten Blitar, disebutkan ada peternak yang juga suplier telur yang sukses. Bisa memasok 60 persen kebutuhan telur untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Jatim. Namun, peternak tersebut hingga saat ini masih kekurangan pasokan jagung. Dia mengartikan, jika pemuda-pemuda menangkap dan memanfaatkan peluang itu dengan menanam jagung dipastikan hasil tanamannya akan terserap ke peternak tersebut. Dan, itu akan meningkatkan produktifitas dan mampu menyalurkan tenaga kerja di Jatim. Terkait itu pihaknya akan memberikan fasilitas berupa pelatihan-pelatihan.

Sementara, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut dan akan menjalankan komitmennya. Untuk mengantisipasi atau meminimalisir pelanggaran serta musibah yang menimpa TKI/TKW di luar negeri, para pekerja migran, disebutkan harus memiliki syarat-syarat cukup dan berstandar internasional sebelum dinyatakan sah berangkat ke luar negeri. Untuk mewujudkan itu pihaknya akan bekerjasama dengan stagholder terkait lainnya, guna mencegah berangkatnya tenaga kerja tanpa keahlian ke luar negeri.

“Ke depan tidak boleh ada lagi pekerja migran ke luar negeri tanpa syarat dan tanpa memenuhi syarat. Kita juga akan memperkuat SMK-SMK, dan BLK-BLK. Pendek kata, kita semua punya kewajiban besar untuk mempersiapkan tenaga kerja kita agar mereka memiliki keterampilan yang memadai untuk bisa bersaing masuk ke bursa pasar kerja,” urai Gus Ipul.

Pendapatan Tinggi Kemiskinan Juga Masih Tinggi

Soal kemiskinan di Jatim, tak luput dari debat oleh kedua pasangan. Khofifah menyoroti, di Jatim masih tingginya terjadi kesenjangan dan kemiskinan. Dikatakan, kesenjangan kemiskinan antara kota dan di desa sangat tinggi, yakni dua kali lipat kemiskinan di desa dibanding di kota. Soal itu, mantan Menteri Sosial RI sempat menyentil tupoksi atau posisi Wakil Gubernur Jatim (Gus Ipul), sambil membandingkan dan menyebut di daerah lainnya di Indonesia, tugas itu diemban oleh wakil gubernur, wakil walikota atau wakil bupati sebagai ketua tim penanggulangan kemiskinan.

“Pendidikan harus mendapat prioritas penanganan termasuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di tingkat pusat seyogyanya juga berlaku untuk Madrasah Diniyah”

Ketimpangan kemiskinan di desa disebutkan 15,58 persen dan kemiskinan di kota 7,7 persen. Ditambahkan, mereka yang tinggal di pelosok pedesaan banyak yang belum tersentuh oleh pemerataan kesejahteraan. Termasuk, ketimpangan daerah di wilayah utara dan selatan Jatim yang juga masih tinggi. Kemudian, juga kondisi petani di Jatim yang hanya memiliki lahan 0,3 hektar. Dia mencontohkan, salah satunya soal kebutuhan pupuk untuk pertanian juga belum lancar.

“Maksud saya, bagaimana selama sembilan tahun ini (soal jabatan wakil gubernur dua periode yang diemban)?. Bukan soal kemiskinan tetapi soal ketimpangan, karena kemiskinan di desa dua kali lipat dibanding kemiskinan di kota, dan datanya masih tinggi. Bagaimana selama sembilan tahun?,” tanya Khofifah.

Namun, Khofifah juga memuji kinerja Pemerintahan Provinsi Jatim, yang mampu meningkatkan pertumbuhan termasuk meningkatnya nilai ekspor ke luar negeri. Pertumbuhan yang terus meningkat, diikuti perolehan dari hasil migas. Dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan yang terus meningkat, termasuk sumber pendapatan dari sektor ekspor, namun kemiskinan masih tinggi.

Di Jatim, pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, ekspor tertinggi di Indonesia, termasuk dari pertumbuhan PDRB yang bagus. Migas juga terbesar kedua setelah Riau. Sumber pendapatan atau ekonominya juga bagus. “Namun kenapa di desa masih banyak yang miskin dan ketimpangan yang masih tinggi,” tanyanya.

Mendapat lontaran pertanyaan itu, Gus Ipul dengan gesit juga membeber fakta, bahwa dirinya sebagai Wakil Gubernur Jatim (dua periode) tidak bisa begitu saja melangkahi kewenangan, yang dilakukan selalu dengan arahan dan kontrol Gubernur Jatim (Soekarwo).

“Saya selalu berada di samping Pak Gubernur (Soekarwo) ketika menangani masalah kemiskinan. Wakil Gubernur tidak bisa berjalan sendiri, anggaran juga yang menentukan Pak Gubernur. Dan, itu menjadi komitmen kami untuk menangani kemiskinan dan meningkatkan pemerataan di semua daerah,” balas Gus Ipul.

Lanjut Gus Ipul, pembangunan itu harus berkelanjutan dan tidak boleh dilihat saat ini saja. Tetapi harus juga dilihat ke belakang, yakni perkembangan yang terus meningkat dan semakin membaik.

“Pertumbuhan harus kita ratakan di berbagai tempat, dan Alhamdulillah penurunan kemiskinan di Jatim cukup bagus. Termasuk seperti program yang kita lakukan di Madura, dengan program Satria Madura (Satu Triliun untuk Madura),” terangnya. Meski soal Satria Madura itu disergah oleh Khofifah, sambil menegaskan yang ditanyakan adalah kondisi atau kedaaan sebenarnya desa-desa di pelosok Jatim banyak yang masih tertinggal. Itu diartikan pembangunan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi tidak merata.

Gus Ipul kembali menjelaskan, salah satu penyokong terjadinya kemiskinan di desa dan daerah terpencil adalah saat petani panen semua komoditas yang dihasilkan harga jualnya menurun. Itu membuat petani terus merugi dan terus terpuruk dalam kemiskinan. Dirinya, bersama pasangannya Puti Guntur bertekad melakukan pemerataan dan berkomitmen meningkatkan pertumbuhan di semua daerah di Jatim.

Memperbaiki Mutu Pendidikan

“Pendidikan bisa maju itu yang pertama adalah faktor guru. Yang belum S1 (Sarjana) akan kita diberikan bea siswa untuk melanjutkan pendidikan”

Komitmen memperbaiki mutu pendidikan juga tak luput menjadi debat dan bahasan seru. Pasangan nomor urut dua Gus Ipul-Puti Guntur meyakinkan masyarakat. Jika terpilih menjadi gubernur dan wakil Gubernur Jatim pihaknya akan melakukan yang terbaik untuk rakyatnya. Selain perbaikan mutu pendidikan, kesejahteraan jenjang pendidikan guru juga akan diprioritaskan, dengan memberikan bantuan beasiswa pendidikan. Gus Ipul menyebut, di Jatim hingga saat ini dari sebanyak 2000 lebih sekolah hanya 40 persen atau 800 sekolah yang terakreditasi A. Untuk itu, jika terpilih menjadi gubernur dirinya akan terus melakukan perbaikan mutu pendidikan.

“Menurut saya, pendidikan bisa maju itu yang pertama adalah faktor guru. Yang belum S1 (Sarjana) akan kita diberikan bea siswa untuk melanjutkan pendidikan,” katanya.

Selain bantuan peningkatan jenjang pendidikan untuk guru, bantuan juga akan diberikan untuk lembaga sekolahnya. Untuk siswanya, Gus Ipul punya konsep akan terus meningkatkan mutu dan keahlian para siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA), juga SMK dan Madrasah Diniyah.

Hal yang sama, juga akan dilakukan Khofifah, soal peningkatan mutu pendidikan pihaknya menerapkan program Tistas (Gratis dan Berkualitas) yang diterapkan untuk SMA, SMK dan Madrasah.

“Kita akan lakukan, gratis tetapi tetap harus terjaga kualitasnya. Agar, jika masuk ke pasar kerja telah memiliki bekal ketrampilan yang cukup,” terangnya.

Peningkatan mutu pendidikan menjadi pekerjaan rumah atau tanggung jawab semua pihak. Pihaknya juga menekankan, para siswa SMA/SMK jika akan melanjutkan kuliah juga bisa difasilitasi dan mendapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Jatim.

Menurut Khofifah, untuk peningkatan jenjang pendidikan guru baik GTT maupun PTT bisa dianggarkan dari APBD. Dicontohkan untuk sekolah swasta mutlak harus dilakukan, misalnya untuk meningkatkan kemampuan guru Fisika, karena kalau di sekolah negeri itu telah dilakukan periodik. APK harus diberikan dukungan, pendidikan gratis dilakukan di SMA/SMK dan Madrasah. Untuk lembaga (pengelola sekolahnya) juga diberikan sarana dan prasaran yang cukup guna keberlangsungan belajar mengajar.

Semua yang disampaikan oleh kandidat yang maju di ajang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, 27 Juni 2018, harus dicatat. Masyarakat juga harus berani menagih janji jika kelak mereka terpilih untuk memimpin Provinsi Jatim. Itu penting, selain untuk memberikan pembelajaran kepada semua pihak tentang berperilaku jujur alias tidak boleh ingkar janji.

Keberanian dan kejujuran adalah hal penting untuk mewujudkan semangat dan cita-cita menuju Provinsi Jatim yang lebih baik. Terwujudnya pemerataan pertumbuhan, meningkatkan kesejahteraan serta peningkatan mutu pendidikan harus merata. Karena semua masyarakat di Jatim memiliki hak yang sama untuk mendapatkannya.

Di akhir acara debat, sikap santun ditunjukkan oleh kedua pasangan kandidat. Mereka, meski terlibat adu tanya jawab terkesan sengit. Kedua pasangan saling memberikan salam, dan berjabat tangan, di penghujung acara.

Sekedar Tahu

Dikutip darihttps://www.cnnindonesia.com/laporanmendalam/nasional/20180410/cekfakta-debat-publik-i-pilgub-jawa-timur/index.php

CEK FAKTA DEBAT PUBLIK I PILGUB JAWA TIMUR

Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno beradu gagasan serta program dalam debat pertama Pilkada Jatim yang diselenggarakan oleh KPUD Jawa Timur. Tema yang diusung dalam debat perdana ini adalah ‘Kesejahteraan Rakyat’. Topik pembahasannya meliputi kesejahteraan bidang pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan, keagamaan, sosial budaya, sosial kemasyarakatan, konflik sosial serta ideologi, HAM, kebangsaan, kepemudaan, dan keperempuanan. CNNIndonesia.com kali ini membedah pernyataan para kandidat dan mengecek kesesuaian pernyataan mereka dengan data serta hasil riset dari berbagai sumber.

Khofifah menyampaikan bahwa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di tingkat pusat seyogyanya juga berlaku untuk Madrasah Diniyah

Faktanya, (Sesuai)

Dalam data Bappeda Pemerintah Provinsi Jawa Timur, selama ini Madrasah Diniyah di Jawa Timur dibantu melalui pembiayaan APBD. Misalnya pada 2011, telah dialokasikan sedikitnya Rp280 miliar untuk program BOS Daerah khusus bagi Madrasah Diniyah di Provinsi Jawa Timur.

Sementara, Gus Ipul mengatakan, saat ini dari 2000 lebih sekolah hanya 40 persen atau 800 sekolah yang terakreditasi A.

Faktanya, (Tidak Sesuai)

Dalam pemberitaan sebuah media pada 2016, Sekretaris Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP S/M) Suparno mengatakan sebanyak 13.393 sekolah di Provinsi Jawa Timur tidak masuk kuota akreditasi sekolah/madrasah dari pemerintah pusat pada 2017.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here