Ini Janji Zuckerberg Setelah Mengaku Bersalah

0
618
CEO Facebook Mark Zuckerberg dlalam pernyataannya kepada pers di kantornya, Kamis (22/3) atau Jumat dini hari waktu Indonesia Bagian Barat/ Foto : Financial Express

Nusantara.news, Jakarta – Pendiri Facebook (FB) Mark Zuckerberg telah mengakui media sosial yang dikelolanya “berbuat salah” yang menyebabkan data jutaan pengguna FB “dicuri” oleh konsultan politik “Cambridge Analytic” (CA) untuk kepentingan pemenangan kliennya.

Dalam pernyataan pertamanya setelah skandal itu terungkap ke publik, Zuckerberg mengakui dalam posting FB telah terjadi “pelanggaran kepercayaan”. Untuk itu dia berjanji akan melindungi pengguna FB dengan cara mempersulit akses bagi aplikasi untuk mengunduh data dan informasi pengguna.

Tujuh Poin yang Dijanjikan

Chief of Executive Officer (CEO) FB ini juga menegaskan: “Kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi data anda, jika kami tidak mampu maka kami tidak pantas melayani anda.” Zuckerberg juga menandaskan: “Saya memulai Facebook, dan pada akhirnya saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada platform kami.”

Untuk itu Zuckerberg menjanjikan akan mengatasi masalah yang terjadi sekarang dan sebelumnya dengan upaya-upaya sebagai berikut:

Pertama, perusahaannya akan meyelidiki semua aplikasi FB yang memiliki akses ke sejumlah besar informasi sebelum platform diubah “untuk secara dramatis mengurangi akses data” pada tahun 2014.

Kedua, perusahaannya melakukan audit menyeluruh terhadap aplikasi apa pun dengan aktivitas yang mencurigakan.

Ketiga, pihaknya melarang pengembang aplikasi yang tidak menyetujui audit menyeluruh.

Keempat, membatasi akses data pengembang “lebih jauh” untuk mencegah penyalahgunaan dalam bentuk yang lain.

Kelima, pihaknya akan menghapus akses pengembang ke data pengguna jika pengguna belum mengaktifkan aplikasi pengembang selama tiga bulan.

Keenam, pihaknya akan mengurangi data yang diberikan pengguna saat mereka masuk hanya untuk memberi nama, foto, profil dan alamat email.

Ketujuh, mengharuskan pengembang untuk mendapatkan persetujuan dan juga menandatangani kontrak untuk meminta siapa pun untuk mengakses pos mereka atau data pribadi lainnya.

Selain tujuh point yang dijanjikan, Zuckerberg juga menambahkan: “Meskipun masalah khusus ini melibatkan Cambridge Analytica seharusnya tidak lagi terjadi dengan aplikasi baru sekarang ini, itu tidak mengubah apa yang terjadi di masa lalu.”

“Kami akan belajar dari pengalaman ini untuk mengamankan platform kami lebih lanjut dan membuat komunitas kami lebih aman untuk semua orang maju,” pungkas Zuckerberg.

Tidak Ada Maaf

Menanggapi pernyataan Zuckerberg yang baru muncul ke public, wartawan bidang teknologi informasi BBC wilayah peliputan Amerika Utara – Dave Lee- menulis dengan judul “Tidak Ada Maaf”. Bahkan dia menilai – meskipun diucapkan secara keras dan jelas – Facebook tidak siap untuk disalahkan atas apa yang telah terjadi.

Penyesalan tidak akan pernah menjadi point kuat Zuckerberg, tulisnya – dan pernyataan ini – hari-hari tidak mengubah apa pun, Jadi, saran Lee, tidak perlu meminta maaf kepada pengguna, investor – atau staf – tentang bagaimana “kecurangan” ini diizinkan bisa terjadi oleh kebijakan data yang ada sekarang ini.

Terlebih lagi, tandas Lee, tidak ada penjelasan mengapa – setelah mempelajari data yang disalahgunakan seperti ini pada tahun 2014 – dan Zuckerberg lebih memilih berputar-putar dengan apologinya ketimbang melarang mereka langsung.

Jadi Lee menyimpulkan tidak ada alasan mengapa FB gagal memberi tahu kepada pengguna tentang data mereka mungkin telah “dicuri”.  Dengan kata lain pernyataan Zuckerberg bukan penjelasan, melainkan pembelaan hukum dan politik. Karena FB tahu dia memasuki ke wilayah pertempuran di berbagai bidang.

Kronologi Skandal

Tahun 2014 FB mengundang pengguna untuk mengetahui kepribadian mereka melalui kuis yang aplikasinya dikembangkan oleh peneliti Cambridge University – Dr. Aleksandr Kogan – yang disebut “This is Your Digital Live”.

Tercatat ada sekitar 270 ribu pengguna yang mengikuti kuis itu. Tapi ternyata aplikasi ini juga mampu menyedot data dari teman-teman pengguna.  Dalam hal ini setidaknya FB telah lalai dan belum memiliki perlindungan memadahi untuk mengantisipasi aplikasi pengembang yang seperti ini. Jadi memang sudah semestinya Zuckerberg mengaku bersalah.

Ternyata, ungkap Christopher Wylie – ada sekitar 50 juta data pengguna FB yang diunduh untuk kepentingan bisnis “Cambridge Analytica” – sebelum aturan tentang persetujuan pengguna diperketat seperti sekarang.

Wylie juga menegaskan data itu dijual ke Cambridge Analytica – yang tidak ada hubunganya dengan Cambridge University – yang selanjutnya digunakan untuk mempengaruhi psikologis pemilih dan kampanye massif agar memilih Donald J Trump dalam Pemilihan Umum Presiden AS pada tahun 2016 lalu.

Yang lebih menghebohkan CEO Cambridge Analytica Alexander Nix – yang diskors oleh perusahaannya pada Selasa lalu – saat direkam secara tersembunyi oleh wartawan Channel 4 News yang menyamar – mengakui perusahaannya yang berbasis di London itu mendapat order kampanye digital untuk kemenangan Donald J Trump.

“Kami melakukan semua penelitian, semua data, semua analitik, semua penargetan, kami menjalankan semua kampanye digital, kampanye televisi dan data kami menginformasikan semua strategi,” ucap Nix yang tidak menyangka pernyataannya itu direkam dan selanjutnya disiarkan di stasiun televisi.

Satu tokoh kunci lainnya dalam skandal konsultan politik adalah Dr Kogan. Tapi Kogan mengaku telah diberitahu oleh Cambridge Analytica bahwa yang mereka lakukan adalah sah. Dan Kogan tidak ingin menjadi “kambing hitam” yang harus disembelih dalam pertikaian antara Cambridge Analytica dan Facebook.

Cambridge Analytica yang ternyata memiliki klien peserta pemilu di sejumlah negara menyangkal telah melakukan kesalahan apa pun.

Facebook mengatakan data pengguna diperoleh secara sah namun Cambridge Analytica gagal menghapus data pengguna di aplikasi ketika Facebook memintanya untuk menghapus. Cambridge Analytica juga berkelit data sudah dihapus ketika FB memintanya.

Senator AS juga telah meminta Zuckerberg bersaksi di depan Kongres tentang bagaimana perusahaannya melindungi data pengguna. Dan yang lebih mengerikan adalah ketika mucul informasi Federal Trade Commission – lembaga perlindungan konsumen di AS yang dikenal tegas menghukum siapa saja yang bersalah dikabarkan membuka penyeldikan ke FB.

Kepala Parlemen Eropa juga mengatakan akan menyelidiki untuk melihat apakah data-data pengguna di FB sudah disalahgunakan. Ketua Komisioner Informasi Inggris Elizabeth Denham juga sedang berusaha mendapatkan surat perintah pengadilan agar bisa mengakses laman dan server milik Cambridge Analytica.

Ada juga kabar tentang penyelidikan terkait pekerjaan Cambridge Analytica yang dilakukan selama pemilihan 2013 di Kenya, Afrika.[] Sumber : BBC

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here