Ini Kartu Truf Jokowi Pada Pilpres 2019

1
342

Nusantara.news, Jakarta –  Jokowi pegang kartu truf dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Dia berpotensi menjadi capres yang diusung poros Teuku Umar, tetapi juga terbuka kemungkinan diusung oleh poros Cikeas.

Kartu Truf Jokowi

Pilpres yang digelar April 2019, masih jauh. Namun, getarannya sudah terasakan. Ditambah lagi dengan acara silaturahmi nasional (silatnas) pendukung Jokowi yang digelar di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (11/8/2017), membuat getaran Pilpres 2019 kian terasa.

Mantan Walikota Solo itu memang terus jadi pusat perhatian pada Pilpres 2019 mendatang.  Bukan saja perhatian dari relawan pendukung Jokowi yang sibuk minta swafoto dengan Jokowi pada acara silatnas di Kemayoran, tetapi juga di kalangan partai lain.

Jokowi memang bukan satu-satu bakal capres pada Pilpres 2019 mendatang. Masih ada nama lain, misalnya Prabowo Subianto,  Panglima TNI Gatot Nurmantyo, mantan KSAD Muldoko. Jokowi jadi pusat perhatian, karena dari nama-nama yang muncul, Jokowi yang paling moncer.

Moncernya nama Jokowi sebagai favorit Presiden 2019, juga karena ada kemungkinan Prabowo Subianto akan mengurungkan niat maju pada Pilpres 2019 mengingat putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo itu akan memasuki usia 68 tahun pada 2019 mendatang.

Secara fisik, mantan Danjen Kopassus ini masih gagah. Saat naik kuda bersama Jokowi di Hambalang, Prabowo tidak kalah gesit dibanding Jokowi yang kelahiran 21 Juni 1951, dan baru memasuki usia 58 tahun pada 2019.

Namun, faktor usia ditambah pengalaman dua kali kalah dalam even pilpres, yakni kalah ketika berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri di mana Prabowo tampil sebagai calon wakil presiden pada pemilu 2009, dan kalah ketika tampil sebagai calon presiden bersama Hatta-Radjasa pada Pilpres 2014, tidak tertutup kemungkinan Prabowo kapok atau pesimis dan mengurungkan niat maju pada even Pilpres 2019, terutama apabila tidak melihat peluang menang yang besar.

Spekulasi Prabowo akan mengurungkan niat maju pada Pilpres 2019, membuat nama Jokowi semakin moncer.

Nama Jokowi kian moncer lagi setelah bertemu putra Mahkota Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Kamis (10/8/2017).

Dikatakan kian moncer, karena seperti diketahui PDIP sampai saat ini belum menyatakan secara terbuka akan mengusung kembali  Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Hal itu diakui oleh Sekjen  PDIP Hasto Kristiyanto. PDIP, katanya, Hasto kepada detik.com, Jumat (21/7/2017), memang belum menyampaikan apakah akan kembali mengusung Jokowi atau tidak di Pilpres 2019. Menurut Hasto, partainya ingin fokus terlebih dahulu mengawal pemerintahan Presiden Jokowi bersama Wapres Jusuf Kalla

Pernyataan senada dikemukakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah seusai pembukaan Rapimnas Hanura di Bali, Jumat (4/8/2017).

“PDIP tidak mengambil pola penetapan capres dan cawapres di kongres tetapi keputusan diserahkan ke ketum dan menjadi hak prerogatif beliau sesuai AD/ART partai,” kata Basarah.

Sikap PDIP Ini berbeda dengan sikap Golkar, Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura. Lima partai yang berkoalisi dengan PDIP pada  penetapan presidential threshold sebesar 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional ini, masing-masing sudah menyatakan akan mengusung kembali Jokowi pada Pilpres 2019.

Ketua Umum Partai Hanura  Oesman Sapta Odang bahkan mengatakan, partainya tidak akan berpaling memilih yang lain untuk mendukung pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pemilu 2019.

“Insyaa Allah tidak ada. Kami kunci pilihan (ke Jokowi),” kata Oesman di sela Rapimnas Hanura di Bali, Jumat (4/8/2017).

Adapun alasan Hanura, menurut  Oesman adalah, terkait pembangunan infrastruktur. “Kami lihat sekarang pembangunan infrastruktur di daerah-daerah terjadi, maka kami konsisten mendukung dia (Jokowi) sampai Pilpres 2019 yang akan datang,” kata Oesman.

Masalahnya adalah bahwa koalisi  6 partai yang disebut juga dengan poros Teuku Umar (rumah kediaman Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri) itu dipimpin oleh PDIP. Seandainya PDIP tidak mencalonkan Jokowi, maka dukungan yang sudah dinyatakan lima partai lainnya bisa berantakan.

Pertanyaannya, apakah mungkin PDIP tidak mengusung kembali Jokowi?

Seandainya Jokowi manut dan menerima diri sebagai petugas partai, maka PDIP tentu akan kembali mengusungnya.

Tetapi berkembang spekulasi, Jokowi akan bersikap berbeda apabila PDIP mengajukan Puan Maharani sebagai calon wakil presiden.

Jokowi memang belum sepatah kata pun mengatakan enggan apalagi menolak dipasangkan dengan Puan Maharani. Spekulasi itu muncul dari dari pihak lain. Spekulasi itu berkembang karena elektabilitas Puan Maharani diasumsikan rendah, bahkan bisa menggerogoti elektabilitas Jokowi, sehingga apabila benar-benar maju berpasangan dengan Puan Maharani, maka pasangan ini diperkirakan akan kalah.

Konon, karena itu pula Jokowi “memaksakan” diri menerima kunjungan Agus Harimurti  Yudhoyono (AHY) yang datang ke Istana Merdeka, Kamis (10/8/2017) lalu.

Walau kunjungan itu hanya untuk menyampaikan undangan pembukaan The Yudhoyono Institute, tetapi keberadaan AHY sebagai putra mahkota SBY, pendiri dan Ketua Umum Partai Demokrat, maka pertemuan itu dinilai sarat makna politik.

Bagi AHY kunjungan itu merupakan manuver untuk menghidupkan kembali kartu Partai Demokrat yang tidak memungkinkan mengusung satu pasang capres karena peluang berkoalisi hanya dengan PAN di mana gabungan kursi keduanya tidak mencukupi syarat mengajukan capres.

Sementara bagi Jokowi, “keberaniannya” menerima kunjungan putra mahkota SBY yang hubungannya kurang baik dengan Megawati Soekarnoputri, merupakan manuver untuk mempersiapkan perahu sekoci mengantisipasi apabila PDIP akhirnya tidak mengusungnya menjadi capres pada Pilpres 2019 mendatang.

Dengan kunjungan yang dikemas bernuansa kekeluargaan karena kehadiran putra Jokowi Gibran Rakabumi yang datang khusus membawa bubur lemu sebagai hidangan santap siang, maka Jokowi menjadi memiliki peluang menjadikan Partai Demokrat sebagai partai sekoci.

Partai Demokrat memang tidak memiliki kursi cukup untuk mengusung satu pasang calon. Namun, karena figur yang diusung adalah Jokowi yang elektabilitasnya tinggi dan berpasangan dengan AHY yang popularitasnya tinggi, maka kemungkinan partai lain  tertarik bergabung.

Pertemuan Jokowi – AHY mungkin saja akan mengubah sikap PDIP dan Megawati Soekarnoputri untuk kembali menghitung atau berupaya meningkatkan elektabilitas Puan Maharani.

Tetapi, apapun yang akan dilakukan PDIP, bagi Jokowi sendiri, kunjungan AHY itu telah memosisikan dirinya sebagai pemegang kartu truf pada Pilpres 2019 mendatang, di mana jika tidak diusung PDIP maka dia bisa beralih ke Partai Demokrat dan kembali merajut koalisi empat partai (Demokrat, PPP, PAN dan PKB)  yang mengusung AHY-Silvy pada Pilkada DKI beberapa waktu lalu. []

1 KOMENTAR

  1. Penulis yang bodoh dan penuh provokasi. ibu puan itu pemimpin yang berwibawa, pintar dan cantik dan berdarah bangsawan serta baik hati.. ini penulis jangan sembarangan ya! Klo nggak ada wawasan dan ilmu ya jangan nulis.. klo cuma untuk menjelek2an pemimpin.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here