Ini Kiat Demokrat Pulihkan Pamor di Pilkada Jatim 2018

0
95

Nusantara.news, Surabaya – Setidaknya dua kali secara berturut-turut Partai Demokrat (PD) sukses mengantar pasangan Soekarwo – Saifullah Yusuf memenangkan Pilkada Gubernur Jatim. Kini Demokrat yang limbung setelah beberapa pengurus terasnya di tingkat pusat tersandung perkara korupsi berusaha pulihkan pamornya lewat Pilkada Serentak di Jatim 2018. Bagaimana caranya?

Memang, sejak Ketua Umumnya Anas Urbaningrum dan Bendara Umumnya Nazaruddin menjadi terpidana kasus korupsi, pamor Demokrat meredup. Tak terkecuali di Jatim yang menjadi lumbung suaranya. Indikasi itu terlihat dengan rontoknya sejumlah kursi Demokrat pada Pemilu Legislatif 2014 lalu, baik itu DPR-RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota.

Pasca Pileg 2014, menjadi fase krusial fungsionaris Demokrat untuk kembali menguasai panggung politik. Hanya saja, strategi yang diambil tidak terlalu sporadis seperti ketika fokus memenangkan SBY. Bicara target, dari 18 Pilkada Kota/Kabupaten dan 1 Pilgub tepat 27 Januari 2018, Sekretaris DPD Partai demokrat menyebut fokus pemenangan di 15 daerah.

“Itu sudah menjadi target partai. Lainnya memang tidak masuk karena selain tidak diikuti kandidat dari Demokrat baik calon maupun wakilnya, juga pertimbangan hasil Pileg sebelumnya,” terang Sekretaris DPD Partai Demokrat Jatim Renville Antonio kepada wartawan, Selasa (5/11/2017).

Dari 18 pilkada dan 1 pilgub, Demokrat mengusung 16 calon, baik di posisi kepala daerah maupun wakilnya. Pilkada Bondowoso dan Kota Kediri menjadi daerah tanpa partisipasi Demokrat. “Kami tidak mengikuti pilkada di Bondowoso dan Kota Kediri. Sedangkan Pilkada Kota Mojokerto memang tidak masuk target kemenangan Demokrat kendati kita mengusung calon di sana,” beber Renville.

Misi kebangkitan ini kian dipertegas dengan rencana Gubernur Soekarwo untuk mengawal langsung di sisa periode terakhir jabatannya. “Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur akan turun langsung ke 15 kota/kabupaten untuk memenangkan pilkada. Itu juga untuk membangun soliditas hingga daerah-daerah,” tambah anggota DPRD Jatim tersebut.

Melihat rencana itu, memang sah-sah saja selaku kader partai mengawal misi kemenangan Demokrat. Namun harus diingat jika Pakde Karwo, panggilan akrabnya masih memiliki amanah hingga jabatannya resmi berakhir. Ada kekhawatiran dengan perbedaan dukungan di Pilgub (Demokrat mengusung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak), jalannya birokrasi di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim akan tersendat. Sebab, Wakil Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang sudah menemani selama 2 periode maju dengan dukungan PDI Perjuangan-PKB.

Informasi dari berbagai sumber, keputusan Demokrat lebih fokuskan pilkada dibanding pilgub, dilandasi oleh kekecewaan hasil Pileg 2014 yang merosot drastis. Salah satu pemicunya adalah tidak solidnya massa pendukung Gus Ipul kendati melaju bersama dalam satu biduk pemerintahan. Indikasi ini diperkuat dengan enggannya memberi rekomendasi kepada Gus Ipul yang sempat mendaftar.

Sebagai sosok berpengaruh di Demokrat, Pakde Karwo memang dikenal jago strategi politik. Tipisnya kans memenangkan Pilgub diganti dengan memperkuat mesin partai untuk memenangkan pilkada kota/kabupaten di 15 daerah di Jatim.

Sinyal Pakde Karwo tidak berkenan Gus Ipul jadi suksesornya bisa terlihat dari statemen yang dikeluarkan ketika membuka Jambore Inovasi Provinsi Jawa Timur di Surabaya (5/11/2017). “Kunci sukses sebagai pemimpin yang baik harus belajar dari masyarakat. Pemimpin harus selalu dinamis mengikuti kepentingan-kepentingan yang dibutuhkan masyarakat. Kalau pimpinannya peduli, turun dan mau diajak diskusi maka inovasi pada pelayanan publik bisa jalan,” katanya menyinggung kewajiban kepala daerah yang harus dijalankan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here