Ini Kiprah dan Hal Ikhwal Khofifah Indar Parawansa

0
482
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Nusantara.news, Surabaya – Hampir semua orang, saat ditanya tentang Khofifah Indar Parawansa, mengaku mengenal. Dan menyebut perempuan asal Surabaya itu sebagai Ibu Menteri.

“O, saya kenal, Ibu Khofifah adalah Menteri Sosial juga Ketua Muslimat NU,” ujar Anik seorang ibu yang juga guru PG/TK di Sidoarjo saat ditanya Nusantara.news.

Sejumlah orang lainnya, warga Kelurahan Waru, Sidoarjo juga mengaku tidak asing dengan sosok Khofifah.

“Khofifah adalah Menteri Sosial di Kabinet Presiden Jokowi-Jusuf Kalla,” ujar Elis kepada Nusantara.news.

Benar, menteri perempuan yang satu ini namanya semakin melambung. Khofifah dikenal sebagai menteri yang energik, cekatan dan mampu tampil di berbagai medan.

Khofifah tercatat banyak menyabet penghargaan, baik dari dalam dan luar negeri. Sebut saja saat dirinya menggelar Millenium Development Goals. Sebuah gerakan menanam pohon yang dilakukan di lingkungan Muslimat NU se-Indonesia, dan tercatat mencapai 1.8 juta pohon yang telah ditanam di tahun 2003-2007. Terkait itu, pada 2011 Khofifah mendapat penghargaan dari Menteri Kehutanan atas kontribusi yang telah dilakukan.

Kemudian, tahun 2011, Khofifah dinobatkan sebagai Tokoh Penggerak Masyarakat dari Islamic Fair of Indonesia.

Sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU, ia juga pernah menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dalam pembentukan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme di beberapa propinsi di Indonesia.

Termasuk juga tercatat sebagai Penggerak Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Sejak tahun 1996 Khofifah telah memiliki komitmen untuk membangun koperasi. Hasilnya, tahun 2008, Muslimat NU berhasil membentuk Induk Koperasi, dan Khofifah sebagai inisiator Koperasi An-Nisa’, mendapat penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM. Penghargaan serupa juga diperoleh dari Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013.

Terbentuknya koperasi tersebut, dikisahkan saat dirinya mengaku prihatin saat melihat perekonomian masyarakat yang terjepit. Saat itu dia masih kelas 2 SMP.

“Saat itu setiap sore, saat pulang mengaji saya melihat masyarakat harus membayar kredit bank dengan bunga cukup tinggi. Itu kemudian menginspirasi saya membuat koperasi simpan pinjam,” ujar Khofifah.

Dikisahkan, pada tahun 1984 dirinya mengajak anggota keluarganya untuk mengumpulkan uang sebagai modal awal pembentukan Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Bersamaan saat itu dirinya masuk di PP Muslimat NU, pada tahun 1995. Di organisasi perempuan tersebut Khofifah dipercaya sebagai Ketua Bidang Koperasi. Hingga saat ini, koperasi tersebut terus berkembang dan bergulir menjadi dana pinjaman yang banyak membantu meringankan beban ekonomi masyarakat.

Saat menjadi anggota DPR Periode 2004-2009, ia pun pernah menjadi Ketua Komisi VI (2004-2006) yang membidangi Industri, perdagangan, BUMN dan Koperasi.

Selanjutnya mulai tahun 2010 menjadi Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia yang membidangi pemuda, wanita dan hubungan daerah hingga sekarang.

Lima tahun terakhir, perempuan yang pernah menjadi aktivis PMII dan IPPNU ini juga rajin menghadiri berbagai pertemuan Koperasi Internasional yakni International Cooperative Alliance (ICA). Sehingga dia memiliki jaringan luas dengan gerakan koperasi dunia.

Tak hanya itu, dirinya juga aktif di bidang kesehatan, melalui Global Alliance for Vaccine Immunization (GAVI) telah melatih lebih dari 21 ribu kader kesehatan di tingkat desa. Melalui layanan kesehatan itu, dirinya juga mendapatkan penghargaan dari Menteri Kesehatan bahkan sampai dua kali, tahun 2006 dan 2014 melalui jaringan layanan di Muslimat NU, serta penghargaan dari BKKBN tahun 2014.

Sampai saat ini, pelayanan kesehatan di bawah naungan Muslimat NU tercatat ada sebanyak 108 Rumah Sakit dan Rumah Bersalin dan Klinik. Lima tahun terakhir yang dikembangkan adalah klinik Hemodialisa, yakni klinik yang disiapkan untuk melayani pasien gagal ginjal.

Di bidang dakwah, Khofifah juga terus menggerakkan jajaran Muslimat NU guna meningkatkan layanan kepada masyarakat. Dia juga melakukan berbagai upaya promosi Muslimat NU, khususnya melalui Himpunan Daiyah dan Majelis Ta’lim. Tak pelak jaringan Muslimat NU, saat ini telah mencapai 59.650 lembaga.

Kerja sosial kemasyarakatan lainnya adalah melayani anak-anak yatim, anak terlantar dan anak fakir miskin. Baik yang dilakukan dalam sistem panti maupun juga non panti. Saat ini, Muslimat NU telah memiliki 103 Panti Asuhan dengan sekitar 6.500 anak asuh di dalam panti dan lebih dari 7.500 anak di luar panti.

Kiprah di bidang pendidikan juga sudah dilakukan  sejak tahun 2000. Tidak heran kini Khofifah dipercaya sebagai Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah Surabaya. Lembaga Pendidikan Khadijah ini, tercatat mengasuh 2.692 murid, mulai PAUD-TK-SD-SMP dan SMA. Khusus SD, SMP dan SMA sejak tahun 2011 telah mendapatkan ID 268 dari Cambridge University. Bahkan SMA Khadijah telah mendapatkan ISO 9001.

Hingga tahun 2016, Muslimat NU mengelola 14.350 Taman Pendidikan Al-qur’an, dan 9.986 Taman Kanak-Kanak dan Roudlotul Athfal, serta sebanyak 4.622 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, kemudian 1571 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, dan 10 Balai Latihan Keterampilan (BLK).

Dari berbagai aktifitas pembinaan pendidikan yang dilakoninya, Khofifah pada tahun 2008 mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional, terkait kiprahnya dalam pemberantasan buta huruf melalui jaringan Muslimat NU.

“Rasanya melayani umat itu lebih dekat dengan surga,” ujar Khofifah dalam sebuah kesempatan.

Seiring bergulirnya waktu, sebuah acara silaturrahim digelar di rumahnya di Jalan Jemursari 24, Wonocolo, Surabaya. Saat itu, Khofifah sebagai tuan rumah kedatangan tamu Gubernur DKI Jakarta yang Joko Widodo, tepatnya Sabtu 3 Mei 2014, silam.

Di pertemuan itu, Jokowi mengaku telah lama mengenal Khofifah dan beberapa kali beberapa kali bertemu dalam acara yang dihadiri Khofifah. “Kebetulan beliau (Khofifah) berkenan rawuh. Dan, beliau menyanggupi untuk menjadi juru bicara saya,” ungkap Jokowi saat itu.

Saat mantan Wali Kota Solo itu terpilih menjadi presiden, nama Khofifah masuk dalam jajaran menteri dan dilantik menjadi Menteri Sosial RI, hingga saat ini.

Sebelumnya, Khofifah juga pernah menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN di era Presiden KH Abdurrahman Wahid, 1999-2001. Juga pernah menjadi wakil rakyat di DPR RI. Khofifah saat itu tercatat sebagai anggota DPR RI paling muda dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Biografi Khofifah Indar Parawansa

Lahir di Surabaya, 19 Mei 1965

S1 (Sarjana) tahun 1990, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Serta, pernah menjabat Pimpinan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI (1992-1997)

Pimpinan Komisi VIII DPR RI (1995-1997)

Anggota Komisi II DPR RI (1997-1998)

Wakil Ketua DPR RI (1999)

Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa MPR RI (1999)

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1999-2001)

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (1999-2001)

Ketua Komisi VII DPR RI (2004-2006)

Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa MPR RI (2004- 2006)

Anggota Komisi VII DPR RI (2006)

Menteri Sosial Kabinet Kerja (2014 – Sekarang). []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here