Ini Langkah yang Belum Dimaksimalkan KKP

0
112

Nusantara.news, Surabaya – Keluhan nelayan bermodal cekak akibat perubahan kebijakan yang dibuat Menteri Perikanan dan Kelautan (KP) Susi Pudjiastuti, jadi sorotan akademisi Dosen Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) Heri Supomo. Ia menyebutkan, perubahan kebijakan jika tidak didukung dengan solusi tepat, justru akan berdampak pada periuk nelayan.

“Kebijakan pelarangan cantrang dengan tujuan MSY (Maximum Suatainble Yield Fisheries) sangat bagus. Namun suatu kebijakan harus ditunjang dengan solusi. Dan solusi tersebut harus mendekati performance perikanan laut sebelumnya. Jika kebijakan tersebut banyak merugikan pihak, terutama nelayan strata bawah, maka kebijakan ini akan semakin tidak populer dan perlu kajian ulang,” katanya kepada Nusantara.News, Minggu (29/1/2017).

Memang ada pengganti alat penangkap ikan (API) jenis trawl dan turunannya, termasuk cantrang dan payang, yang diberikan pemerintah melalui Kementerian KP dengan cara subsidi. Namun akan jadi persoalan tambahan jika tidak dibarengi dengan edukasi penggunaan. “Tanpa pemecahan yang komprehensif, kondisi ekonomi masyarakat nelayan akan semakin termarginalkan dan komoditi perikanan laut juga akan semakin terpuruk,” ucapnya penuh kekhawatiran.

Menurut pria yang akrab disapa Heri Korak tersebut, pelarangan cantrang sebetulnya merupakan peluang dan kesempatan bagi pemerintah untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam industri API. Pemerintah bisa membuat industri alat tangkap dalam negeri untuk mendukung kebijakan ini. “Sehingga ada dua aspek yang bisa berkembang. Selain masyarakat nelayan masih bisa beraktivitas secara maksimal dengan penyaluran subsidi jaring, industri alat tangkap juga berkembang,” bebernya.

Sorotan itu memang khusus ditujukan untuk kebijakan di perairan Laut Jawa. Secara geografis, kondisinya memang berbeda dengan perairan yang langsung berhubungan dengan samudera besar, seperti di sepanjang pesisir selatan Jawa atau barat Sumatera. Namun Kementerian KP tetap bersikukuh pada Permen KP nomor 2/2015, kendati cantrang paling efektif untuk menangkap ikan di perairan Laut Jawa.

Cantrang adalah alat tradisional karena paling efektif untuk nelayan dengan modal kecil. Alat tangkap ini bahkan memunculkan usaha filet. Dengan jaring itu maka ikan-kan dasar (bottom fish) ataupun demersal fish dapat dengan mudah ditangkap, termasuk juga jenis-jenis udang (shrimp trawl, double ring shrimp trawl) dan juga jenis-jenis kerang. Hasil tangkapan inilah yang menghidupi tempat pelelangan ikan dan sejumlah pedagang di pasar ikan yang tersebar di Jawa.

Jika kelangsungan sumber daya alam dan lingkungan (MSY) jadi tujuan, nelayan lokal pengguna cantrang cukup arif menggunakannya. Hal ini karena area sapuan cantrang lebih terbatas. Selain itu, tingkat pengadukan dan penggarukan dasar perairan relatif kecil. Jaring cantrang tidak mempunyai kemampuan untuk bergerak saat menyangkut benda-benda dasar berukuran besar, seperti batuan karang, sehingga tidak mengganggu ekosistem dasar laut yang biasanya merupakan tempat pemijahan ikan.

Dibanding “trawl”, cantrang mempunyai bentuk yang lebih sederhana dan pada waktu penangkapan hanya menggunakan perahu motor ukuran kecil. Ditinjau dari keaktifan alat yang hampir sama dengan trawl, maka cantrang adalah alat tangkap yang lebih memungkinkan untuk menggantikan trawl sebagai sarana untuk memanfaatkan sumber daya perikanan demersal.

“Semestinya, klasifikasi kapasitas kapal ikan juga dijadikan pertimbangan pemberlakuan kebijakan, tidak bisa digebyahuyah (disamakan). Terkadang, kebijakan itu salah karena pelaporan dari bawah (lapangan) juga asal-asalan atau asal bapak senang. Data dan fakta yang ada di lapangan harus diberikan secara tepat dan benar. Sehingga kebijakan yang diambil juga benar,” sebut Heri.

Kebijakan pelarangan cantrang  ini memang perlu pendampingan program subsidi alat tangkap dan edukasi, termasuk pengkajian untuk menganalisis tentang berapa kerugian dan roda ekonomi yang macet akibat kebijakan ini.

Subsidi API pengganti cantrang ada 4 jenis. Yakni jenis gillnet monofilamen, gillnet millennium, rawai dan bubu. Namun anggarannya sangat terbatas. Akibatnya, tidak semua nelayan yang mengoperasikan kapal seberat 10 GT ke bawah bisa merasakannya. Padahal satu paket jenis gillnet atau millenium mencapai ratusan juta harganya. Pilihan tentu hanya ada pada jenis rawai dan bubu. Persoalannya, jika itu yang memungkinkan, nelayan kecil tentu tidak bisa menggantungkan penuh nafkahnya karena volume tangkapan yang terbatas. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here