Ini Penjelasan 50 Terkaya Indonesia Masih Yang Itu-Itu Saja

1
333
Tampilan Majalh Forbes yang mengumumkan daftar 50 terkaya Indonesia pada Rabu (6/12) ini

Nusantara.news, Jakarta – Di antara 50 terkaya Indonesia yang diumumkan oleh Majalah Forbes Rabu (6/12) tidak banyak yang berubah. Hanya formasinya saja yang bergeser, misal Murdaya Poo yang tersingkir dari 10 besar dan posisinya digantikan oleh bos Mayora Jogi Hendra Atmadja yang sebelumnya menduduki posisi 35.

Tahun sebelumnya Murdaya Poo yang juga pemilik Jakarta International Expo masih duduk di peringkat ke-9 dengan total kekayaan USD 2,1 miliar. Tahun ini, meskipun total kekayaan pengusaha senior yang juga bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit naik menjadi USD2,2 miliar, posisinya justru terlempar dari 10 besar dan bertengger di urutan ke-12.

Cerita mengejutkan datang dari bos Mayora, Jogi Hendra Atmadja. Perusahaan makanan dan minuman yang sempat berkonflik dengan warga Serang dan Pandeglang terkait penguasaan sumber air minum itu posisinya melejit dari urutan ke-35 tahun lalu dan bertengger di urutan ke-10 tahun ini. Tahun lalu kekayaan Jogi hanya hanya USD 850 juta, tahun ini kekayaannya melejit USD 2,7 miliar. Kini Mayora ekspansi ekspor produk makanan dan minuman ke-90 negara.

Sedangkan di urutan pertama, selama 9 tahun berturut masih diduduki oleh dua beradik Michael dan Budi Hartono. Apabila digabung, kekayaan pewaris perusahaan rokok Djarum mencapai USD 32,2 miliar atau setara dengan 436 triliun, alias 7 kali lipat APBD Provinsi DKI Jakarta tahun 2017.

Kekayaan Michael dan Budi melonjak dari USD 17,1 miliar menjadi USD 32,2 miliar antara lain ditopang oleh melonjaknya harga saham Bank Central Asia hingga 50 persen yang sebagian besar saham (55 persen) dimilikinya. Tahun lalu dua beradik ini hanya memiliki 47 persen saham BCA yang sebelum krisis 1998 saham mayoritas masih dimiliki oleh Antony Salim.

Total kekayaan 50 terkaya Indonesia sebagaimana pernah dirilis nusantara.news pada pekan sebelumnya berdasarkan versi online Majalah Forbes, naik USD 27 miliar dari sebelumnya USD 99 miliar menjadi USD 126 miliar alias Rp1.688 triliun (kurs Rp13.400 per 1 USD) atau Rp1.701 triliun dengan kurs terbaru Rp13.500 per 1 USD.

Melonjaknya nilai kekayaan 50 terkaya Indonesia, sebut Forbes, tak lain adanya program tax amnesty yang membuat mereka mendeklarasikan kekayaannya. “Ini berarti untuk pertama kalinya total kekayaan 50 terkaya Indonesia melebihi USD 100 miliar,” ujar Chief Editorial Advisor Forbes Indonesia, Justin Doebele.

Melonjaknya nilai kekayaan 50 terkaya Indonesia sebenarnya bukan prestasi yang hebat bagi perekonomian Indonesia. Apabila dikontruksikan dengan pendapatan masyarakat kelas menengah ke bawah yang daya belinya cenderung melemah (Survei Nielsen Oktober 2017), peningkatan kekayaan itu justru lebih menjelaskan iklim kesenjangan sosial di Indonesia yang berlangsung sejak lama.

Gagal Melahirkan Entrepreneurship 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro juga menggaris-bawahi tidak adanya perubahan berarti tentang siapa saja yang masuk 10 terkaya Indonesia. Di antara 10 terkaya Indonesia setiap tahunnya hanya ada pergeseran 1 atau 2 nama. Sebut saja Murdaya Poo digantikan oleh bos Mayora.

“Iya (dari dulu tidak banyak berubah). Artinya kita belum berhasil entrepreneurship dalam jumlah yang signifikan,” ungkap Bambang sebagaimana dikutip dari detikFinance pada Rabu (6/12) ini.

Artinya, kinerja perekonomian Indonesia yang tampak kinclong itu belum menghasilkan jiwa kewira-usahaan (entrepreneurship) atau pengusaha hebat dalam jumlah yang banyak. Dari waktu ke waktu, orang-orang terkaya Indonesia dihuni oleh sosok yang itu-itu saja.

“Karena ‘kan orang kaya muncul dari entrepreneur, nah entrepreneur pun enggak semua langsung jadi orang kaya, jadi basisnya harus diperbesar dulu supaya nanti akhirnya ada yang menjadi orang kaya,” imbuh Bambang.

Kaya Karena Warisan

Selain itu, hampir semua 50 terkaya Indonesia berasal dari warisan generasi sebelumnya. Itu juga menjelaskan kebijakan ekonomi pemerintah sejak era sebelum reformasi hingga sekarang tidak memicu gairah entrepreneurship. Ini lain dengan China atau Korea Selatan yang banyak melahirkan pengusaha sukses.

Sebut saja dua bersaudara Michael dan Budi adalah pengusaha yang mewarisi perushaaan rokok Djarum asal Kudus yang rajin mensponsori event bulutangkis nasional. Sedangkan 3 orang diantara 50 terkaya dalam kelompok usia jelita, jelang lima puluh tahun, ketiganya juga mewarisi perusahaan keluarga.

Sebut saja Cilandra (41) atau yang termuda di antara ketiganya. CEO First Resources yang melantai di bursa saham Singapura ini anak dari Martias yang menguasai saham 2.3 dari perusahaan perkebunan kelapa sawit ini. Kekayaan Cilandra USD 1,42 miliar atau setara Rp 18,9 triliun dan masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia.

Meskipun mewarisi perusahaan keluarga, namun sebelum memimpin First Resources Cilandra belajar dulu dengan menjadi pegawai di Merrill Lynch divisi investasi perbankan di Singapura. Maka usaha keluarganya yang go public itu dijamin terus berkembang saat perusahaan jatuh ke tangannya.

Termuda kedua setelah Ciliandra adalah Iwan Lukminto (43). Iwan adalah anak dari pendiri pabrik tekstil, Sritex, asal Solo, HM Lukminto. HM Lukminto mendirikan Grup Sritex pada 1966 dengan memulai membuka toko batik di Solo. Kekayaan Iwan mencapai USD US$ 490 juta atau setara Rp 6,6 triliun. Karena itu, dia berada di urutan ke 48 di dalam daftar 50 orang terkaya RI.

Ada juga Arini Subianto, pewaris Persada Capital yang menjabat Presiden Direktur. Di usianya ke-47 Arini memiliki kekayaan US$ 820 juta atau sekitar Rp 11,07 triliun, atau di posisi ke-37 di antara 50 terkaya Indonesia.  Persada Capital Investama bergerak di bidang investasi yang mengendalikan berbagai sektor komoditas di Indonesia.

Kisah 50 terkaya Indonesia itu cukup menjelaskan, pertama awetnya iklim kesenjangan sosial, kedua perekonomian Indonesia tidak melahirkan pengusaha dalam jumlah yang banyak, dan ketiga, kebanyakan kaya karena warisan dan unsur kedekatan dengan kekuasaan. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here