Ini Penyebab Berita Hoax Cepat Datang Cepat Pergi

0
141

Nusantara.news, Jakarta – Berita hoax atau berita bohong, sifatnya cepat datang dan cepat pula pergi. Dalam jangka panjang memang tidak berbahaya karena akan dilupakan. Tetapi dalam jangka pendek bisa “mematikan.” Selain itu, juga membingungkan untuk tidak disebut merusak otak. Karena itu berbagai pihak kini berupaya mengeliminir berita hoax dengan cara masing-masing, termasuk operator twitter, google, facebook. Di Indonesia penyebar berita hoax kini menjadi salah satu musuh Polri. Mengapa berita hoax cepat datang cepat pergi?

Memori Otak dan Sesat Pikir

Setidaknya ada dua penyebab mengapa berita hoax cepat datang dan cepat pergi. Pertama terkait dengan memori otak manusia. Menurut Atkinson dan Shirfriin, memori manusia memiliki tiga jenis, yaitu SM (Sensory Memory), STM (Short Term Memory), dan LTM (Long Term Memory).

Pertama, sensory memori, yakni segala memori yang didapatkan dari dunia indrawi. Proses mengingat ini terjadi sangat cepat dan singkat. Berdasarkan beberapa penelitian eksperimen disimpulkan bahwa individu hanya dapat mengingat sebuah informasi dengan beberapa item saja, tidak dapat menyimpannya secara lama.

Kedua, short term memory atau working memory, yakni memori jangka pendek yang memiliki kemampuan paling mendasar dari individu untuk merecall atau memanggil kembali informasi yang pernah diserap secara singkat.

Ada dua jenis memori ini, yaitu primacy portion (kemenonjolan), misalnya sesuatu dapat diingat dengan sangat cepat mialnya karena paling tinggi, paling  besar dan sejenisnya. Satu lagi, recency portion (kebaruan), dapat dipanggil dengan sangat cepat karena yang pertama diserap.

Short term memory akan lebih mudah diaktifkan ketika seseorang berada dalam keadaan sadar dan memberikan sebuah atensi pada informasi yang diberikan.

Apabila short term memory tidak memenuhi bagaimana proses mengingat yang melebihi dari konsepnya, maka proses itu mengambil dari informasi long term memory yang merupakan proses penyimpanannya bersifat permanen. Karena itu seseorang akan mudah mengingat jika ia dalam situasi yang sama ketika proses tersebut diberikan pada kode sebelumnya.

Ketiga, long term memory atau penyimpanan informasi dalam otak yang bersifat permanen. Long term memory atau memori jangka panjang, akan tersimpan  dalam otak hampir untuk selamanya.

Terdapat dua tipe long term memory. Yakni, declarative memory yang merujuk pada proses pembelajaran secara sengaja atau pengetahuan secara sadar.   Contoh, seseorang dapat menyebutkan alamat dan nomor teleponnya setiap saat tanpa perlu berpikir dua kali.

Satu lagi, nondeclarative memory yang merujuk pada proses secara tidak disengaja,  atau pengetahuan bawah sadar.  Jenis ini meliputi  kemampuan procedural motor skills seperti mengendarai sepeda, mengendarai mobil dan sejenisnya.  Atau distimuli oleh pengalaman masa lampau, misalnya pernah melihat bongkahan emas besar dan sejenisnya.

Berita hoax dikatakan cepat datang karena proses pembuatannya hanya membelokkan berita yang sudah ada, atau mengarang bebas terhadap suatu yang terkait dengan objek yang diingingkan. Singkatnya, pembuatannya tidak melalui proses pembelajaran dan juga tidak dilakukan secara berulang. Oleh sebab itu, berita hoax cepat pula pergi karena hanya tersimpan di sensory memori yang keberadaannya sangat singkat.

Buktinya, begitu banyak berita hoax yang beredar dan sempat sangat menghebohkan. Dari semua berita hoax itu, masih adakah yang ingat beberapa di antaranya saat ini, tanpa proses googling?

Berita politik hoax, masih adakah yang ingat misalnya berita yang mengatakan Turki dukung demo 411 yang menuntut Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dibawa ke meja hukum atas tuduhan penistaan agama? Berita itu ketika itu muncul di media sosial tersebar gambar Wakil Menteri Pertahanan Turki, H.E. Şuay Alpay yang melihat-lihat demo dan dituduh merupakan dukungan Turki atas aksi demo 4111.  Atau masih adakah yang ingat berita hoax yang mengatakan Panglima TNI akan diganti awal November 2019 yang beredar di medsos?

Ada satu lagi hal yang membuat berita hoax bersifat cepat datang dan cepat pergi. Yakni karena sifat manusia yang cenderung berfikir sesat, atau sesat pikir. Sesat pikir itu dapat digambarkan sebagai berikut. Misalnya tentang satu koin bersisi dua, katakanlah A dan B. Dalam satu 100 kali tos, sisi B muncul sebanyak 70 kali. Karena itu dianggap probabilita sisi B adalah 70 kali dan sisi A hanya 30 kali. Ini jelas sesat pikir, karena probabilitanya tetap 50:50.

Ada berbagai macam jenis sesat pikir yang menjadi celah masuknya berita hoax. Yang paling kuat adalah apa yang disebut ilusi kelompok. Ketika orang berbicara tentang Turki yang mendukung demo 411, maka naluri kelompok membuat seseorang merasa bertingkah laku dengan benar ketika bersikap sama seperti orang lain.

Semakin banyak orang yang mengikuti gagasan itu, semakin seseorang itu menganggapnya benar. Konfirmasi menjadi tidak penting dalam hal ini, karena masing-masing orang akan mencari pola dan pembenarannya masing-masing.

Ilusi kelompok ini beberapa kali terjadi. Misalnya ketika awan dilangit  bergerak membentuk suatu wujud. Katakanlah wujud itu adalah dalam bentuk seekor naga. Maka akan dikaitkan dengan sesuatu peristiwa sosial atau politik yang terkait dengan naga. Seringkali masyarakat menghubung-hubungkan beberapa kejadian sehingga membuat ilusi menjadi cerita yang cukup masuk akal atau membuat hal-hal yang terjadi secara kebetulan menjadi seolah mempunyai hubungan sebab dan akibat.

Alasan berita sosial politik hoax seringkali cepat mendapat pengakuan masyarakat juga dilatari situasi sesat pikir yang disebut dengan pengakuan sosial. Sudah jelas Panglima TNI tidak diganti karena presiden sudah membantahynya, tetapi karena semua orang mengatakan sama, maka berita bohong atau berita hoax itu dianggap sebagai kebenaran.

Ini sering juga disebut disebut naluri kelompok yang dapat membuat seseorang merasa bertingkah laku dengan benar ketika bersikap sama seperti orang lain. Semakin banyak orang yang mengikuti gagasan tertentu, semakin seseorang menganggapnya benar.

Salah satu contoh lain yang pernah marak adalah terkait demam batu akik. Entah apa penyebabnya batu akik sempat sangat sangat tren. Terlebih dengan adanya suatu atribut identitas yang ditonjolkan berupa cincin batu atau dalam bentuk perhiasan lainnya, seolah menambah kesan bahwa orang-orang yang menggunakan perhiasan batu akik tersebut akan mendapat perhatian atau pengakuan sosial tertentu dari masyarakat.

Musuh Polri

Seperti batu akik, berita hoax akan cepat pergi, karena penerimaannya berlandaskan pada pikiran sesat.  Walau cepat pergi karena usia atau daya tahannya singkat, tetapi pengaruh berita hoax bisa “mematikan.”

Dalam pemilu, berita hoax yang penerimaannya lebih karena sifat manusia yang cederung berfikir sesat, maka pilihan dalam pemilu juga akan jatuh pada pilihan sesat.

Nilai tukar rupiah apabila digelembungkan akan terus melemah, dampaknya memicu rush secara besar-besaran dan selanjutnya mematikan perekonomian.

Berita hoax juga membingungkan untuk tidak bisa dikatakan merusak otak. Mengapa, karena otak seseorang akan memberi reaksi tidak sebanding dengan jenis-jenis berita hoax yang begitu berbeda dan tidak relevan. Hilir mudik berita hoax itu akan bertabrakan dalam otak dengan berita yang tidak hoax dan menciptakan kebingungan.

Oleh sebab itu, berita hoax harus ditumpas. Bagaimana caranya? Hentikan membaca berita. Tetapi karena hal ini merupakan suatu yang mustahil, maka tidak bisa dilakukan. Cara lain adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat agar mengurangi cara berpikir sesat. Hal ini juga sulit dilakukan, karena kencederungan berpikir sesat sudah berlangsung lama.

Salah satunya jalan adalah menumpas produsen berita hoax, sebagaimana polisi berhasil membekuk The Family Muslim Cyber Army (MCA).  Produsen berita hoax harus dijadikan musuh sebagaimana polisi menjadikan teroris atau pedagang narkoba sebagai musuh. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here