Ini Penyebab Gagalnya Koalisi ‘Bangjo’ di Kota Malang

0
96
Ilustrasi PDIP dan PKB (Sumber,: MalangTODAY)

Nusantara.news, Kota Malang – Koalisi ‘Bangjo’ yakni PDIP dan PKB di Pilkada Kota Malang terancam gagal. Terlebih setelah beredar kabar DPP PDI-P merekomendasikan pasangan Ya’qud Ananda Gudban – Ahmad Wanedi sebagai Calon Walikota – Calon Wakil Walikota Malang yang juga diusung oleh Parta Hanura, PAN dan PPP.

Berbeda pada helatan Pilgub Jatim 2018 ketika PDIP dan PKB nampak mesra mengusung Gus Ipul dan Azwar Anas menjadi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Di Malang proses koalisi yang akhirnya gagal itu memang sudah diperkirakan sebelumnya.

Tidak terwujudnya Poros Koalisi Bangjo, ungkap sejumlah sumber, terganjal oleh sikap Walikota Petahana M Anton yang dinilai tidak bisa menjaga komunikasi antar kedua partai menuju kesepakatan dalam berkoalisi.

Sebelumnya, ungkap Sekretaris DPC PDIP Kota Malang Abdul Hakim, komunikasi antara kedua partai cukup baik dan ada sebuah komitmen bersama untuk mewujudkan koalisi ‘Bangjo’ untuk membangun Kota Malang yang lebih baik.

Namun dalam berbagai pertemuan lanjutan, lanjut Abdul Hakim kepada wartawan, Jumat (29/12). kesepakatan yang sudah dibangun kedua partai memudar. “Kami tak bisa lagi menunggu lebih lama lagi mengingat waktu pendaftaran ke KPU tinggal beberapa hari lagi,” jelas Abdul Hakim.

Satu di antara komitmen yang gagal dipenuhi oleh Walikota yang sedang menjabat, adalah calon wakil walikota yang diajukan PDI-P diganjal oleh sejumlah kriteria yang dibuat-buat oleh Tim Sukses M Anton. Padahal PDI-P sudah menyodorkan sejumlah nama agar dipilih salah satunya oleh Walikota petahana.

Kader-kader PDIP yang disodorkan mendampingi petahana antara lain Sri Rahayu, Sri Untari dan Abdul Hakim sendiri. Namun di tengah perjalanan M. Anton mengajukan syarat susulan, antara lain harus mendapatkan restu dari Kiai dan berasal dari generasi nilenial. Permintaan susulan itu yang membuat PDI-P meragukan niat M. Anton merangkul partainya dalam berkoalisi.

Sejauh ini PDIP telah berupaya secara maksimal dalam membangun koalisi dan menjaga komitmen untuk terwujudnya koalisi Bangjo. “Kalau Bangjo tidak bisa dibangun ya kita robohkan saja, buat apa kalau memang tidak bisa dibangun dan menemui titik temu,” tegasnya.

Ia menilai kurang teguhnya dalam memegang komitmen rencana koalisi. “Pihak petahana kurang menunjukkan komitmen yang baik, maka dalam waktu ini PDIP akan mengambil sikap politik yang lain,” tandasnya.

PDIP Rekom Nanda

PDIP memberi rekomendasi kepada politisi cantik Yaqud Ananda Gudban dan Ahmad Wanedi sebagai bakal calon Walikota dan Wakil Walikota Malang pada Pilkada 2018 mendatang.

Hal tersebut dijelaskan Abdul Hakim, sejauh ini komunikasi terus dilakukan PDIP dengan berbagai partai. Terutama untuk sederet partai yang belum menunjuk satu nama sebagai jagoan mereka. Karena PDIP sendiri memiliki beberapa syarat untuk bisa dipenuhi bagi calon yang akan didukung.

“Pertemuan sudah kami jalin dengan semua partai, dan dalam waktu dekat saya harap akan ada pertemuan lagi dengan semua partai besar,” terangnya pada wartawan.

Nanda Gudban, Anggota Komisi B DPRD Kota Malang

Wakil Ketua DPC PDIP Kota Malang I Made Rian membenarkan kabar yang telah beredar terkait isu yang menguat PDIP akan berikan rekom kepada Nanda dan Wanedi  “Benar, rekom keluar untuk Nanda dan Wanedi,” terangnya, Kamis (28/12/2017) lalu.

Dengan begini PDIP akan masuk dalam Poros Koalisi Harapan Pembangunan, yakni Partai Hanura, PAN, dan PPP. Namun, secara resmi surat rekomendasi dari DPP PDIP belum turun di kala isu yang berkembang sangat cepat dan kuat.

Sekedar informasi, saat ini ada dua poros koalisi yang terbentuk, pertama yakni Poros Koalisi Petahana terdiri dari PKB, PKS dan Nasdem yang mengangkat M Anton sebagai Bacalon Walikota Malang, dan selanjutnya yakni Poros Koalisi Harapan Pembangunan yang terdiri dari PAN, PPP dan Partai Hanura yang mengankat Ya’qud Ananda Gudban sebagai Bacalon Walikota.

Pengamat Politik Kota Malang, Mohammad Muflih menjelaskan kurang menarik jika PDIP masuk dari salah satu poros koalisi yang terbentuk kini.

“Iya kurang menarik, melihat PDIP memliki potensi dan kekuatan yang besar di Kota Malang, jika masuk dari salah satu koalisi jelas koalisi tersebut akan kuat dan terlihat jelas pemenanangnya, ini yang kurang menarik,” jelas dia.

PDIP sebagai partai pemenang di Pileg Kota Malang 2014 lalu memiliki 11 kursi DPRD Kota Malang. Dengan bergabungnya PDI-P, maka Nanda akan didukung oleh 21 kursiSedangkan M. Anton selaku petahana hanya didukung oleh 10 kursi.

Masih ada sisa 14 kursi lagi yang belum menentukan pilihan sehingga Pilkada Kota Malang diperkirakan akan diikuti oleh 3 pasang calon. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here