Ini Penyebab Hubungan Ahok dan PDI-P Merenggang

0
1355
Ahok dan Megawati dalam sebuah acara PDI-Perjuangan

Nusantara.news, JAKARTA – Hubungan PDI- Perjuangan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dikabarkan merenggang pasca  majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara memvonis Ahok 2 tahun penjara terkait kasus penodaan agama.

Tanda-tanda keretakan hubungan Ahok dengan PDI-Perjuangan itu mulai terlihat saat seorang pendukung Ahok atau Ahokers bernama Veronica Koman menyebut rezim Jokowi lebih parah daripada rezim SBY.

Saat tu, Veronica menyampaikan orasi di hadapan ratusan Ahokers lainnya, usai Ahok dijebloskan ke Rutan Cipinang pada Selasa (9/5) lalu. “Rezim Jokowi lebih buruk dari rezim SBY,” teriak Veronica yang dikenal juga sebagai aktivis Hak Azasi Manusia (HAM) ini.

Suara veronica itu sontak membuat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo naik pitam. Tjahjo yang juga kader PDIP itu mengancam akan melaporkan Veronica kepada pihak kepolisian jika selama 7X24 jam tidak mengklarifikasi dan menjelaskan maksud dari orasi yang disampaikannya.

Tak sampai di situ, pihak Kemendagri bahkan menyebarkan foto copy kartu tanda penduduk (KTP) Veronica ke masyarakat.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai wajar sikap Ahokers, karena selama ini Ahokers merasa PDI-P atau Presiden Jokowi yang menjadi ‘teman setia’ Ahok.

“Manusiawi kalau merasa kecewa. Makanya wajar kalau pendukung Ahok kecewa sama Pak Jokowi, karena Ahok ditahan. Meski memang ada juga pihak yang salut dengan Pak Jokowi yang selama ini terkesan melindungi Ahok, tapi nyatanya semua diserahkan pada proses hukum,” kata Syarwi beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, suara-suara Ahokers yang kecewa dengan PDI-Perjuangan mulai terasa saat aksi kawal sidang vonis Ahok di depan Kementerian Pertanian (Kementan) pada Selasa (9/5). Sebagian pengunjukrasa pro-Ahok menilai Jokowi yang paling bertanggungjawab jika sampai Ahok dipidana penjara atas kasus tersebut. Nyatanya, Ahok divonis bersalah oleh majelis hakim.

Dan, Jokowi pun meminta semua pihak untuk menghormati putusan hukum. Ia juga meminta masyarakat menghormati upaya banding yang dilakukan Ahok terkait vonis dua tahun yang diterimanya. “Yang paling penting kita semua percaya terhadap mekanisme hukum yang ada,” kata Presiden Jokowi sesaat setelah vonis hakim itu. Saat itu presiden bersama rombongan tengah melakukan kunjungan kerja di Provinsi Papua.

Kekecewaan Ahok dan pendukungnya sebenarnya bukan hanya sebatas vonis majelis hakim itu, tapi juga lantaran sikap PDI-P yang terkesan tidak menghargai Ahok. Saat, Ahok baru saja ditahan, Mendagri  langsung mengeluarkan keputusan mengangkat Djarot sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI menggantikan Ahok.

Belakangan muncul kabar, Ahok menolak kedatangan Ketum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Plt Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat yang hendak menjenguknya di rumah tahanan (Rutan) Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis, Depok.

Sebuah media nasional memberitakan bahwa Ahok hanya mau menerima kunjungan sejumlah orang yang merupakan keluarga dekatnya. Di antara tamu yang mau ditemui Ahok adalah sang istri Veronica Tan dan tiga anaknya, yakni Nicholas Sean, Nathania, dan Daud Albeenner dan adik kandung Ahok bernama Basuri Tjahaja Purnama.

Kini kita menantikan, apakah hubungan Ahok dengan partai pengusungnya di Pilkada DKI itu akan kembali normal atau akan berakhir seiring diketoknya palu vonis dari majelis hakim PN Jakut.

Apakah hubungan Ahok dan PDI-P yang berakhir buruk akan mempengaruhi peta pertarungan politik 2019 nanti? Yang pasti, Ahok kerap disebut mengantongi bukti-bukti sejumlah kasus yang melibatkan sejumlah elit.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here