Polisi Bertarung di Pilkada 2018 (2)

Ini Penyebab Kalah yang Harus Dihitung

0
287

Nusantara.news, Jakarta – Masuk ke dunia politik memang banyak menjadi pilihan para pensiunan Polri dan TNI. Alih profesi menjadi wakil rakyat di DPR atau wakil daerah di DPD, sudah banyak yang sukses. Tetapi, belum banyak mantan jenderal yang berhasil di kontestasi kepala daerah.

Untuk Polri, menurut catatan Nusantara.news, hanya ada dua pati Polri yang memenangkan pilgub. Pertama, Komjen Pol (Purn) Sjacroedin Zainal Pagaralam yang memenangkan pilgub Lampung tahun 2008. Berpasangan dengan Joko Umar Said, mantan Kapolda Sumsel dan Jabar ini menang dengan meraih 1.513 juta suara atau 43,27 persen. Dia diusung oleh PDIP.

Pati Polri kedua, Komjen Pol I Made Mangku Pastika yang meraih sukses gemilang dalam Pilkada Bali 2008. Made Mangku juga diusung oleh PDIP. Berpasangan dengan A.A.G.N Puspayoga (yang sekarang menjadi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia), Pastika memastikan kemenangan dengan meraih 55,04 persen suara.

Selain itu, ada satu pamen Polri yang juga menuai sukses, yakni AKBP Hendrajoni. Mantan Kanit II Subdit V Dit IV Narkoba Bareskrim Polri ini terpilih menjadi bupati di kampungnya, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dalam Pilkada tahun 2015. Joni yang didukung PAN, Partai Gerindra, dan Partai Nasdem, mendapatkan 47 persen dari total sekitar 250.000-an suara.

Selain sebagai putra daerah, Hendrajoni praktis tidak punya modal politik besar. Dia tak pernah bertugas di daerah tersebut, sehingga persentuhannya dengan publik pemilih sangat terbatas. Ini berbeda dengan dua pati bintang tiga di atas.

Sjachroedin memenangkan pilkada langsung 2008, karena sebelumnya dia sudah menjabat Gubernur Lampung 2004-2008 melalui pemilihan di DPRD setempat. Menjelang pilkada langsung 2008, dia mengundurkan diri untuk dapat mengikuti pilkada. Waktu itu ketentuannya, pejabat negara yang menjabat harus mengundurkan diri pada saat pencalonan. Dia digantikan oleh Wagub Syamsurya Ryacudu. Selain itu, Sjachrodin memang keluarga terpandang di Lampung. Ayahnya, Zainal Abidin Pagaralam, adalah Gubernur Lampung 1966-1967 dan 1967-1972.

Sedangkan Made Mangku Pastika memang sangat terkenal di Bali. Dia adalah ketua Tim Investigas Bom Bali I yang sukses membongkar teror yang mengguncang Bali tahun 2002. Setelah itu, Pastika dipercaya menjadi Kapolda Bali, dan berakhir di jabatan Kalakhar BNN.

Reputasinya itulah yang memudahkan jalannya menjadi Gubernur Bali 2008. Apalagi dia diusung oleh PDIP, partai dominan di Pulau Dewata itu. Tetapi, khusus bagi Pastika, reputasi pribadinya lebih menentukan ketimbang faktor partai. Sebab, ketika di Pilkada 2013, dia maju melalui Partai Demokrat, dan berhasil mengalahkan wagubnya, AA Puspayoga, yang diusung PDIP.

Kemenangan Made Mangku kedua kali ini bisa kajian sosiologis menarik, karena sistem masyarakat Bali yang berkasta-kasta. Made Mangku adalah gubernur pertama dari kasta Sudra, kasta terbawah dalam strata masyarakat Pulau Dewata. Sementara lawannya, Anak Agung Puspayoga, berasal dari kasta Ksatria, dua tingkat di atas Sudra. Lagi pula, sepanjang sejarah Bali, gubernur selalu dijabat oleh tokoh dari kasta Brahmana atau Ksatria. Mereka antara lain, gubernur pertama Anak Agung Bagus Sutedja, Ida Bagus Oka, Ida Bagus Mantra dan lain-lain. Memang pernah ada gubernur dari kasta Wesia, yakni Dewa Made Beratha, tapi kasta ini masih setingkat di atas Sudra.

Selain Sjachrodin, Made Mangku dan Hendrajoni, semua pati Polri yang mengadu nasib di Pilkada berakhir dengan kekalahan. Misalnya, Irjen Pol Dikdik Mulyana Arief Mansur di Pilkada Jabar tahun 2013. Mantan Kapolda Sumsel ini maju lewat jalur independen, dan terkapar di posisi juru kunci dengan perolehan suara 1,79 persen.

Di Pilkada Sumsel 2013 juga ada mantan kapolda setempat yang bertarung, yakni Irjen Pol Iskandar Hasan. Berpasangan dengan Hafisz Tohir, adik Hatta Rajasa, Iskandar juga berakhir di nomor buncit karena hanya meraih 9,26 persen suara.

Tahun 2015 lalu, dalam Pilkada Sulawesi Utara, mantan Deputy Penindakan BNN Irjen Pol. Benny Joshua Mamoto yang dicalonkan Partai Golkar juga kalah dari pasangan Olly Dondokambey-Steven Kandou yang diusung PDIP. Tapi, nasib Benny tak setragis Iskandar Hasan atau Dikdik Mulyana, karena selamat dari posisi juru kunci dengan meraih 389.462 suara atau 30,97 persen.

Kemenangan Made Mangku serta kekalahan Dikdik Mulyana,  Iskandar Hasan dan Benny mesti menjadi bahan kajian bagi pati-pati Polri yang hendak berlomba di pilkada nanti.

Seperti dijelaskan, Made Mangku, selain putra daerah, dia sangat terkenal karena berhasil mengungkap teror fenomenal yang sangat memukul orang Bali.  Sementara Iskandar Hasan atau Didik Mulyana, kendati sama-sama putra daerah, tidak punya rekam jejak fenomenal yang menancap di ingatan publik pemilih di daerahnya.

Artinya, faktor popularitas-akseptabilitas-elektabilitas pribadi sangat menentukan. Faktor ini bisa jadi lebih menentukan ketimbang kemampuan mesin partai pendukung. Kemenangan Made Mangku periode kedua bisa menjadi contoh. Meski tak lagi diusung PDIP, partai terbesar di Bali, dia tetap menang.

Bandingkan misalnya dengan kasus Letjen TNI Bibit Waluyo. Mantan Pangkostrad ini menang dalam Pilkada Jateng tahun 2008. Berpasangan dengan Bupati Kebumen Rustriningsih dan diusung oleh PDIP, Bibit meraih kursi gubernur. Tapi, dalam pilkada 2013, Bibit yang berpasangan dengan Rektor Universitas Negeri Semarang, Sudijono Sastroatmodjo, tidak lagi diusung PDIP. Akibatnya Bibit kalah, dan calon PDIP, Ganjar Pranowo, terpilih menggantikannya sebagai kepala daerah.

Jadi, jenderal-jenderal polisi yang tengah mengincar kursi kepala daerah, memang harus menghitung secara presisi “TO”-nya. Jika tidak, hanya membuang-buang peluru karena “salah tembak”.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here