Ini Penyebab Maraknya Terorisme di Indonesia

1
338

Nusantara.news, Jakarta –  Tidak lama setelah reformasi, aksi terorisme terus terjadi di Indonesia. Tahun 1999 ada kasus bom di Masjid Istiqlal Jakarta. Sejak saat itu hanya tahun 2001, 2006, 2007, 2008, 2014 saja tidak ada aksi terorisme. Tahun tahun selebihnya selalu ada aksi terorisme, dalam satu tahun terjadi sekitar tiga atau empat aksi terorisme. Sejak 2003 sudah ada UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pindana Terorisme. Mengapa teroris tidak takut terhadap UU Terorisme? Apa yang membuat aksi terorisme tak kunjung berhenti di Indonesia?

Terorisme Sejak 1999

Terorisme di Indonesia sudah ada sebelum reformasi. Tahun 1981 muncul kasus terorisme yang dilakukan oleh orang yang mengaku anggota Komando Jihad  yang dikenal  dengan kasus Woyla. Tahun 1985, Candi Borobudur dibom juga dengan motif jihad.

Sejak reformasi nyaris hanya beberapa tahun saja yang kosong dari aksi terorisme, yakni 2001, 2006, 2007, 2008, 2014.

Tahun 1999, terjadi satu aksi terorisme, yakni bom di Masjid Istiqlal Jakarta.

Tahun 2000 ada tiga kasus. Yakni bom di kediaman resmi Duta Besar Filipina untuk Indonesia, Jakarta, menewaskan 2 orang, bom di basement Bursa Efek Jakarta, menewaskan 15 orang dan bom di beberapa gereja di Jakarta dan provinsi lainnya, menewaskan 18 orang.

Tahun 2001 kosong dari aksi terorisme. Namun tahun 2002 muncul kasus  besar yang dikenal dengan Bom Bali 1 yang menewaskan 202 orang.

Tahun  2003 terjadi 2 kali aksi terorisme. Yakni bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang, dan bom di pasar malam, Aceh, menewaskan 10 orang.

Tahun 2004 juga terjadi dua kasus terorisme. Yakni, bom di luar gedung Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Jakarta, menewaskan 9 orang, dan bom di Poso, Sulawesi Tengah, menewaskan 6 orang dan mencederai 3 orang.

Tahun 2005 terjadi 3 kali aksi terorisme. Yakni bom di Pasar Tentena, Sulawesi Tengah, menewaskan 22 orang dan mencederai 40 orang lebih. Bom bunuh diri di Jimbaran Beach Resort dan Kuta, Bali, menewaskan 23 orang dan mencederai 100 orang lebih, dan bom di Pasar Palu, Sulawesi Tengah, menewaskan 8 orang dan mencederai 53 orang.

Tahun 2006, 2007 dan 2008, tidak ada aksi terorisme. Namun Tahun 2009 muncul lagi kasus terorisme besar yang dikenal dengan bom bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott, Jakarta, menewaskan 7 orang dan mencederai 50 orang lebih.

Tahun 2010 terjadi satu kali aksi terorisme kecil yakni penembakan warga sipil di Aceh. Tahun 2011 terjadi perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, ledakan bom di Masjid Mapolresta Cirebon, ledakan bom Gading Serpong, ledakan bom di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah.  Tahun 2012 terjadi ledakan bom di Pospam Gladak, Solo, Jawa Tengah.  Tahun 2013 terjadi ledakan bom di depan Masjid Mapolres Poso, Sulawesi Tengah. Tahun 2014 tidak ada aksi terorisme.

Tahun 2015 ada empat kali terjadi aksi terorisme. Yakni di pemukiman padat penduduk di Tanah Abang, ledakan di Mal Alam Sutera Tangerang Banten terjadi dua kali dalam waktu yang berbeda, dan ledakjan di Duren Sawit Jakarta Timur.

Tahun 2016, terjadi 5 kali aksi terorisme, yakni ledakan bom dan baku tembak di sekitar Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, ledakan bom di halaman Markas Kepolisian Resor Kota Surakarta, Jawa Tengah,  ledakan bom di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Jalan Dr Mansur Kota Medan Sumatera Utara,  ledakan bom di depan Gereja Oikumene Kota Samarinda, dan bom di Vihara Budi Dharma, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Tahun 2017, muncul bom Kampung Melayu, Jakarta. Sepanjang tahun 2018 ini sudah terjadi 5 kali aksi terorisme yakni di Mako Brimob Depok, ledakan bom di tiga gereja di Surabaya, ledakan bom di Susun Sidoadjo, ledakan bom di Poltabes Surabaya, dan aksi teroris di Polda Riau.

Organisasi Teroris di Indonesia

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo ini merupakan balasan atas penangkapan pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang terafiliasi ISIS di Indonesia, yaitu Aman Abdurrahman. Bom kali ini tidak hanya terkait aksi teror ISIS tingkat global, tapi juga pembalasan atas peristiwa yang terjadi di tingkat nasional. “Saya sampaikan, diduga pembalasan kelompok JAD karena pimpinannya, Aman Abdurrahman pada Agustus lalu tak dibebaskan,” kata Tito Karnavian di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Senin (14/5/2018).

Siapa JAD yang dipimpin Aman Abdurrahman yang berafiliasi dengan ISIS?

Mantan Deputi Bidang Kerja Sama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan mantan Direktur Penindakan Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Petrus R Golose, dalam seminar bertajuk “Cara Terbaik Menangani Terorisme” yang diprakarsai Mahasiswa Program Doktoral STIK/PTIK, Februari 2018,  menilai jaringan organisasi terorisme di Indonesia merupakan jaringan organisasi yang sama tetapi berbeda karena terpecah.

Secara keseluruhan Petrus R Golose mengemukakan, jaringan teroris di Indonesia berawal dari kelompok Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (NII). Kelompok  Darul Islam terpecah dan berdirilah kelompok Jamaah Islamiyah atau JI pada 1 Januari 1993.  Kelompok ini kemudian berkembang dan berganti sebutan menjadi kelompok Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada 5 Agustus 2000.

Pada September 2008, kelompok MMI berkembang dan dikenal dengan sebutan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (AAT). Kelompok NII dalam perkembangannya eksis dengan sebutan kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB).

Dari JAT dan MIB, kemudian berkembang jaringan-jaringan teroris Jamaah Anshorut Syariah (JAS), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK).

Faktor Internasional dan Nasional

Sejak 2003 sudah ada UU Terorisme. Sejak itu sudah cukup banyak anggota organisasi teroris yang ditangkap. Beberapa bahkan sudah dihukum mati seperti pelaku Bom Bali yakni Amrozi Cs.

Pertanyaanya, apa yang salah? Mengapa aksi teroris tetap saja marak terjadi?

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dalam uji kelayakan dan kepatuhan (fit and proper test) di Komisi I DPR‎, Jakarta, Rabu (6/11/2017), memaparkan sejumlah isu strategis bersifat global yang perlu dicermati sebagai bagian ancaman pertahanan. Isu tersebut antara lain munculnya aktor nonnegara dalam konflik dunia, hingga ancaman perang siber.

Dikatakan, konstelasi politik global saat ini ‎menunjukkan telah terjadi polarisasi kekuatan dunia yang semula hanya Blok Barat vs Blok Timur, lalu adidaya tunggal yang tak stabil, hingga muncul polar-polar kekuatan baru di berbagai belahan dunia.

Konstelasi saat ini adalah unimultipolar, di mana negara adidaya tidak mampu melaksanakan tindakannya secara unilateral, tanpa bantuan kekuatan-kekauatan regional lainnya. Namun dalam realitanya, entitas yang mendominasi permainan itu bukan hanya aktor negara, tetapi ada juga aktor nonnegara yang membuat konflik lebih sering bersifat asimetris, proxy, dan hibrida.

“Aktor-aktor nonnegara masuk mengusung berbagai kepentingan individu maupun kelompok dalam berbagai kemasan seperti ideologi, agama, suku hingga murni motif ekonomi,” kata Hadi.

“Beberapa kasus seperti ini di terjadi Suriah dan Irak, terorisme terbukti berujung pada proxy war atau hybrid war dengan melibatkan berbagai aktor baik aktor negara maupun nonnegara,” kata Panglima TNI Hadi Tjahjanto.

Di sisi lain mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton yang mengatakan, ISIS yang dipimpin Abu Bakr al-Baghdadi dan pembentukannya diumumkan 5 Juni 2013, adalah organsiasi buatan dan dibiayai Amerika Serikat untuk memecah belah Timur Tengah.

Pengkauan ini secara tak langsung membenarkan paparan Panglima TNI Hadi Tjahjanto.

ISIS dengan demikian adalah organiasi teroris yang terbentuk dengan melibatkan aktor negara (AS) dan aktor nonnegara yakni Abu Bakr al-Baghdadi.

Ini membuktikan tidak benar klaim ISIS mengusung pembentukan khilafah yaitu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran Islam di mana aspek-aspek yang berkenaan dengan pemerintahan seluruhnya berlandaskan ajaran Islam.

ISIS kini sudah bangkrut setelah terdesak di Raqqa Suriah dan terusir dari Marawi Pilipina.  Pimpinan ISIS Abu Bakr al-Baghdadi sendiri bahkan diklaim Rusia sudah terbunuh, walau ada spekulasi masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat.

Mengapa jaringan JAD yang berafiliasi ISIS yang dipimpin Aman Abdurrahman masih bisa bergerak seperti sekarang ini?

Ini terkait dengan upaya radikalisasi. Joevarian, seorang peneliti di Laboratorium Psikologi Politik, Universitas Indonesia mengemukakan, beberapa ilmuwan memang menyalahkan ideologi agama. Namun banyak riset selama hampir dua dekade terakhir, termasuk riset yang dilakukan di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, menemukan lebih banyak faktor.

Tokoh-tokoh populer seperti Richard Dawkins dan Sam Harris menyalahkan ideologi agama sebagai penyebab utama terorisme. Tapi sebetulnya aksi kekerasan dan tindakan radikal melibatkan faktor-faktor yang lebih kompleks dari sekadar narasi ideologis (agama). Pada kenyataannya, hanya segelintir orang dengan ideologi jihadis-salafi yang memilih melakukan aksi teror atas nama agama.

Berdasarkan riset yang dilakukan di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia dalam dua dekade terakhir, ditemukan beberapa faktor.penyebab radikalisme. Salah satunya adalah faktor ketidakadilan. Walau persepsi ketidakadilan dianggap sebagai faktor yang kuat, persepsi ketidakadilan tidak mampu menjelaskan mengapa orang-orang di wilayah non-konflik juga mendukung atau bahkan ikut melakukan aksi teror.

Faktor lain adalah perbedaan identitas sosial. Seringkali, keberadaan orang-orang dengan identitas yang berbeda dianggap sebagai suatu ancaman terhadap satu kelompok. Pembangunan gereja, misalnya, dianggap sebagai usaha untuk mempengaruhi orang-orang Islam agar menganut agama Kristen.

Walau tidak terjadi perebutan sumber daya atau perebutan wilayah, perbedaan identitas semata bisa memicu kecemasan atau ketakutan terhadap identitas lain. Ketakutan ini berujung pada legitimasi kekerasan.

Faktor lain adalah hilangnya makna hidup. Biasanya, motivasi untuk melakukan aksi radikal terbentuk karena adanya pengalaman-pengalaman hidup yang negatif. Satu riset menunjukkan bahwa seringkali radikalisme lebih dianut oleh orang-orang yang merasa dirinya gagal, punya riwayat mengecewakan orang tua atau keluarga, didiskriminasi oleh masyarakat atau lingkungan sosial, tidak punya pekerjaan tetap, atau sekadar merasa hidupnya hampa. Dengan kata lain, orang-orang ini merasa hidupnya tidak signifikan. Mereka merasa dirinya tidak bermakna.

Ketidakbermaknaan itu mengarahkan mereka untuk mencari-cari ideologi atau propaganda ekstrim yang bisa membuat hidup mereka lebih bermakna. Dalam hal ini, tokoh agama radikal atau kelompok teroris mampu memberikan makna hidup yang dicari. Mereka menjanjikan keselamatan dalam agama, nikmat mendapat bidadari surga, dan status sebagai pahlawan. Yang perlu dilakukan hanyalah melakukan aksi teror atas nama agama.

Mantan terpidana teroris Indonesia Sofyan Tsauri megemukakan hal senada. Menurutnya, gerakan radikal itu muncul dalam proses radikalisasi melalui cara belajar agama yang terlalu instan. Sofyan menilai kajian agama secara instan ini merupakan sebuah tindakan yang tidak tepat sehingga melahirkan pendalaman agama yang instan pula.

Sofyan mencontohkan, pembelajaran agama yang dilakukan dalam proses radikalisasi itu sangat berbeda dengan cara belajar di ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah. Mereka, dalam memberikan ilmu-ilmu agama dengan cara tepat dan wawasannya luas sehingga masyarakat betul-betul mengerti dan paham.

Cara belajar agama di NU dan Muhammadiyah, kata  Sofyan,  dilakukan dengan memberikan berbagai wawasan dan murid diminta memilih jawaban dari pertanyaan yang lebih disukai yang mana. “(Cara seperti) ini agak kurang disukai oleh masyarakat-masyarakat yang cenderung sukanya belajar instan,” ujarnya.

Sofyan menuturkan, ideologi terorisme cenderung lebih instan. Para mentor di dalam kelompok terorisme akan dinilai sebagai ulama sehingga bisa menjadi cikal bakal pemahaman radikal.

Selain itu, menurutnya, terorisme merupakan komunitas. Para kelompok terorisme akan saling menguatkan antara satu sama lain. Walau di antara mereka ada yang punya niat untuk sadar namun mereka takut dikafirkan. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here