Ini Permainan Trump di Balik “Game of Throne” Arab Saudi

1
709
Donald Trump dan Pangeran Alwaleed bin Talal pernah bertarung di akun twitter yang intinya Alwaleed mendesak Trump mundur dari pencalonan /Foto Twitter

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa jam setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk di Arab Saudi, tercatat 11 Pangeran dan 4 Menteri dibekuk dengan tuduhan korupsi.  Berita heboh akhir pekan kemarin itu dianggap sebagai permainan kekuasaan (game of throne) yang diduga melibatkan Presiden Trump.

Ada dua alasan kuat yang mempertegas pernyataan di atas. Pertama, KPK dipimpin langsung oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang berkepentingan mengamankan kekuasaan dari rongrongan internal keluarga kerajaan. Dan kedua, ditangkapnya pengusaha kelas dunia Alwaleed bin Talal yang memiliki hubungan “pasang surut”dengan Donald Trump.

Terus apa kepentingan Presiden Trump menyingkirkan Alwaleed yang bukan bagian dari ancaman langsung tahta Raja yang kelak disandang Mohammed bin Salman, dan bagaimana jalan ceritanya yang membuktikan keterlibatan Trump? Berikut ini gambaran dari hubungan segi tiga antara Alwaleed, Mohammed bin Salman dan Trump.

Pangeran Alwaleed Bin Talal

Pangeran Alwaleed Bin Talal adalah salah satu anggota keluarga kerajaan Saudi yang paling terkenal di dunia – tapi di lingkungan istana sendiri tidak dianggap. Buktinya, dia bersama 10 pangeran Arab Saudi lainnya ditangkap dengan dugaan korupsi.

Bin Talal adalah investor miliarder yang mengelola Kingdom Holdings dan memiliki saham besar di perusahaan seperti Twitter dan News Corp. Dia juga berkomentar secara teratur selaku pelaku ekonomi di televisi Barat, antara lain berbicara kepada CNBC pada bulan Oktober tentang masa depan kendaraan ringan dan mobil listrik.

Miliarder itu berpendidikan AS dan seorang dermawan: Pada tahun 2015, Bin Talal mengumumkan dia akan menyumbangkan seluruh kekayaannya untuk membantu upaya-upaya mewujudkan dunia yang lebih toleran, setara dan kesempatan yang lebih baik untuk semua orang.

Putra Mahkota Mohammed Bin Salman

Meskipun pejabat Saudi mencirikan penangkapan akhir pekan sebagai bagian dari perang melawan korupsi, banyak orang melihat penahanan yang mengejutkan sebagai permainan kekuasaan (game of throne) oleh Putra Mahkota Mohammed Bin Salman.

Karir politik Putra Mahkota berusia 32 tahun itu meroket luar biasa, dan bahkan keluar dari fatsun kerajaan setelah dia diangkat menjadi Putra Mahkota dan penasehat tertinggi ayahnya. Bahkan beberapa jam setelah diangkat menjadi Ketua KPK Arab Saudi dia melakukan penangkapan besar-besaran.

Selain memimpin KPK, Bin Salman juga memimpin “Visi 2030 Kerajaan Arab Saudi”yang antara lain melakukan transformasi nasional terkait program mendiversifikasi perekonomian Arab Saudi agar tidak terlalu bergantung kepada minyak. Sejumlah pengamat meyakini, tokoh ini memiliki peran penting di balik keputusan Arab Saudi mengisolasi Qatar.

“Ini adalah tindakan konsentrasi kekuasaan terakhir di Saudi,” ujar Hasnain Malik, kepala riset ekuitas global di bank investasi Exotix Capital, menambahkan bahwa “yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kontroversial mungkin, pemusatan ini mungkin juga merupakan kondisi yang diperlukan untuk mendorong agenda penghematan dan transformasi. Nah, Bin Salman diberikan peran itu.

Sebelum diangkat menjadi Putra Mahkota, bulan Juni lalu Raja Salman memecat Pangeran Mahkota Muhammad Bin Nayef dan digantikan anaknya sendiri, Mohammed bin Salman yang sebelumnya Wakil Pangeran Mahkota. Selain menduduki jabatan Wakil Pangeran Mahkota, kala itu Mohammed juga menduduki jabatan Menteri Pertahanan.

Pangeran Mahkota itu mencatat “Sukses Besar” saat berhasil membawa Presiden Donald Trump berkunjung ke Arab Saudi. Karena memang Mohammed bersahabat dengan menantu Trump, Jared Kushner yang menduduki jabatan sebagai penasehat Gedung Putih.

Hubungan Alwaleed, Mohammed dan Trump

Trump memiliki ikatan dengan Putra Mahkota Bin Salman dan investor miliarder Bin Talal. Selain kemungkinan mengatur perjalanan Trump ke Arab Saudi, Bin Salman dilaporkan telah mengembangkan sebuah hubungan dengan penasihat Gedung Putih Jared Kushner – suami dari putri presiden dan sekitar 30 orang kaya Amerika.

Sebelum terjadi penangkapan besar-besaran, dikabarkan Kushner melakukan perjalanan rahasia ke Arab Saudi minggu lalu. Setelah itu muncul gagsan membentuk KPK dan langsung bertindak menyapu bersih sejumlah Pangeran yang diduga melakukan korupsi.

Sedangkan hubungan Trump dan Bil Talal sudah berlangsung sejak awal 1990-an. Antara tahun 1991 dan 1995, Bin Talal datang ke Amerika untuk menyelamatkan Trump, yang kerajaan real estatenya dalam masalah keuangan. Bin Talal membeli kapal pesiar dan sejumlah real estate New York dan menjadi bagian dari kelompok yang menyelamatkan Plaza Hotel yang di ambang kebrangkutan di tangan Trump.

Namun saat Trump mencalonkan diri menjadi Presiden AS, hubungan keduanya merenggang. Pada 2015, melalui akun twitter miliknya, Alwaleed bin Talal mengkritik gaya retorika “populisme”ala Trump dan bahkan memintanya mundur dari pencalonan. “Anda adalah aib tidak hanya untuk GOP tapi untuk semua Amerika,” postingnya di twitter. “Mundarlah dari pemilihan presiden A. Karena Anda tidak akan pernah menang.”

Trump menjawab: “Pangeran Dopey @Alwaleed_Talal ingin mengendalikan politisi A.S. kami dengan uang ayahnya. Tidak dapat melakukannya saat saya terpilih. # Trump2016. Rupanya ancaman Trump itu benar-benar dilaksanakan. Kini Alwaleed yang namanya paling kondang diantara Panegran Arab Saudi dibekuk sebagai pesakitan koruptor oleh sepupunya sendiri, Mohammed bin Salman.

Bagaimana Kaitannya dengan Saudi Aramco? 

Amerika Serikat memiliki banyak alasan untuk tertarik pada Arab Saudi, termasuk minyak dan peran sentral yang dimainkannya dalam politik Timur Tengah, namun Presiden Trump dalam dua hari terakhir memusatkan perhatian pada sesuatu yang lebih spesifik: sebuah kemenangan bagi Wall Street.

Trump meminta Kerajaan Arab Saudi selaku pemilik Saudi Aramco melakukan Initial Public Offering (IPO) di bursa saham New York (NYSE/New York Stock Exchange). IPO Aramco di NYSE diharapkan akan menjadi yang terbesar dalam sejarah dan sekaligus mendorong akumulasi modal dunia berbondong-bondong ke sana.

Keinginan Trump itu diposting lewat akun Twitter miliknya. Selanjutnya Trump mengatakan kepada wartawan yang menyertainya di atas pesawat “Air Force One”, bahwa Raja Salman telah mengatakan kepadanya “Mereka sedang mempertimbangkan untuk listing di New York”.

Artinya, aura dendam pribadi Trump kepada Alwaleed dan kebutuhan investasi AS yang ingin mengendalikan Aramco  turut memanaskan game of throne di Arab Saudi. Bagaimana pula Indonesia mengambil posisi dalam peristiwa besar ini? []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here