Ini Rumah Prisma yang Membuat Mafia Garam Ketir-Ketir

2
8012
Dengan beratapkan terpal sejenis plastik berbentuk di kolam penggaraman, petani garam bisa memanen garam sepanjang musim tanpa gangguan cuaca, produksinya pun meningkat dari 80 ton hingga 400 ton per hektar per tahun atau sekitar 5 kali lipat/ Foto Istimewa

Nusantara.news, Jakarta – Sudah sejak 2014 silam, Samian Arifin (63), warga Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan mengenalkan teknik pembuatan garam yang bisa terus berproduksi tanpa terhalang cuaca.

Caranya tidak begitu rumit. Lahan yang menampung air tua dan kolam penggaraman diberi atap plastik berbentuk piramid atau prisma. Arifin menyebut kreasinya sebagai Rumah Garam Prisma, Dengan teknik ini petani tidak perlu lagi khawatir tiba-tiba turun hujan, atau datang angin basah yang membuat proses penguapan terhenti.

Selain itu, beber Arifin, garam yang dihasilkan lebih banyak dan lebih berkualitas. Apalagi jika teknik Rumah Prisma ini dipadukan dengan teknik geo-membrane, yaitu melapisi kolam penggaraman dengan bahan sejenis terpal yang membuat garam tidak bercampur dengan tanah. “Dengan teknik ini petani garam bisa panen setiap hari, bisa tetap berproduksi di musim hujan,” jelas Arifin.

Keunggulan lain dari Rumah Garam Prisma, papar Arifin, panas yang dihasilkan oleh plastik geotermal lebih fokus dan tahan angin. Sebab Rumah Garam hasil kreasinya bisa tahan terhadap hujan ataupun embun, yang bisa membuat proses pembuatan garam berlangsung lebih lama. “Musuh petani garam itu hujan, sekali saja kena hujan, maka proses penggaraman akan hilang,” tegasnya.

Ada pun tentang harga pembuatan Rumah Garam Prisma, Arifin menyebut per unit yang mencakup lahan 1 hektar membutuhkan biaya Rp4,5 juta. Karena garam berproduksi setiap hari akan ce[at balik modal.

Arifin juga menyebut perbedaan mendasar antara rumah garam prisma dengan tambak garam konvensional. Apabila membuat garam dengan teknik konvensional hasilnya hanya berkisar 60-80 per hektar pada musim normal.

“Dengan metode rumah garam prisma ini bisa menghasilkan 120-125 ton per hektar atau bahkan 400 ton per hektar setahun di musim normal karena bisa terus produksi selama 1 tahun,” terang Samian Arifin.

Importir Ketir-Ketir

Apabila pemaparan Arifin benar, gagasan itu tampaknya perlu dikembangkan secara nasional dengan tidak mengabaikan Arifin selaku pemrakarsa. Paling tidak gagasan inovatif Arifin yang sudah dipraktekkan sejak 2014 membuka mata para pejabat yang bertanggung-jawab atas ketersediaan pasokan garam. Cerita pilu tentang produksi garam nasional yang hanya mencapai 4 persen dari target pada 2016 lalu tidak boleh berulang.

Namun gagasan Arifin ini apabila dikembangkan secara nasional sudah pasti akan membuat segelintir mafia importir garam ketir-ketir. Paling tidak rezeki dari impor garam, baik industri maupun konsumsi yang setiap tahunnya mencapai lebih dari 2 juta ton akan berkurang. (Lihat Tabel).

Tidak terlalu mengherankan pula apabila tingkat produksi garam nasional yang berasal dari 2 sumber, masing-masing dari PT Garam (Persero) dan garam produksi rakyat, dibonsai atau setidaknya dibiarkan terus bergantung kepada faktor cuaca untuk berproduksi paling banyak setengah dari kebutuhan garam nasional.

Dengan melihat tabel produksi nasional, terlihat jelas gambaran yang membenarkan besarnya faktor cuaca dalam produksi garam nasional. Itu terlihat dari fluktuasi produksi yang tidak menentu baik itu garam nasional yang bersumber dari PT Garam (Persero) maupun garam yang diperoleh dari petambak garam milik rakyat di sejumlah sentra penghasil garam.

Padahal faktor cuaca dapat diatasi dengan teknologi yang tidak terlalu rumit. Hanya memerlukan biaya Rp4,5 juta per unit yang lebih dapat menjamin kepastian pasokan dari dalam negeri? Kenapa itu tidak segera dilakukan, bahkan oleh PT Garam (Persero) yang tingkat fluktuasi produksinya lebih parah ketimbang garam rakyat?

Maka tidak salah apabila muncul anggapan ada unsur kesengajaan dalam menghambat produksi garam nasional, karena itu terkait dengan kepentingan para importir garam yang rejekinya pasti akan tergerus apabila muncul inovasi yang lebih memungkinkan produksi garam nasional bisa panen di sepanjang musim.

Hitung-hitungannya begini, dengan tingkat impor sekitar 2 juta ton per tahun, taruhlah ada margin keuntungan Rp100 per Kg, paling sedikit ada rezeki tahunan yang tergerus sekitar Rp.200 miliar. Maka sangat kecil bagi importir untuk menghalangi berkembangnya industri garam nasional dengan mengatur regulasi dan perizinan yang membutuhkan biaya sebut saja Rp50 miliar untuk melanggengkan kepentingannya.

Apabila pemerintah tergerak mengembangkan teknologi Rumah Prisma yang dirintis oleh Arifin dan kabarnya sudah dikembangkan secara lebih canggih oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), maka akan membuat ketir-ketir segelintir importir yang bukan tidak mungkin akan terus menghambat melalui regulasi yang bisa diatur.

Sekarang tinggal sikap pemerintah, apakah berpihak kepada jutaan petani garam sebagai upaya memangkas kesenjangan sosial atau menjadi bagian dari sabotase ekonomi nasional dengan berpihak kepada segelintir importir garam yang mungkin lebih menguntungkan kepentingan pribadinya?

Nah, kebijakan garam nasional khususnya dan pangan pada umumnya yang tidak berdaulat itu sesungguhnya sebagai faktor yang membuat trend kesenjangan sosial semakin menggila sejak 2011 lalu. Apakah kita akan meneruskan kebijakan yang melanggengkan kesenjangan sosial itu? []

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here