Ini Sosok Kiai Qosim yang Tangannya Dicium Presiden

0
1308
Presiden Jokowi mencium tangan Kiai Qosim usai memberi potongan tumpeng dalam peringatan HUT ke-72 TNI di Cilegon, Banten, 5 Oktober 2017.

Nusantara.news, Surabaya – Wajahnya renta, penuh keriput, menunjukkan usia yang tak lagi muda. Maklum, sudah 87 tahun. Semua rambutnya memutih. Tubuhnya agak membungkuk, karena dimakan usia.

Dia duduk sendirian di ruang tamu. Mulutnya tak henti-hentinya berzikir menyebut asma Allah. Di samping tempat duduknya, ada banyak kitab. Bertumpuk. Tebal. Dia tampaknya tak mau jauh dari kitab-kitab tersebut. Barangkali sudah ‘makanan’ sehari-harinya.

Itulah keseharian K.H. Sholeh Qosim, atau biasa disapa Kiai Qosim, pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Al-Islami, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur. Meski usianya sepuh, namun tutur kata dan gesturnya masih gesit. Kedatangan Nusantara.News di kediamannya, disambut Kiai Qosim dengan sangat ramah.

“Tadi, waktu ke sini, berpapasan tidak dengan jenderal?” tanya ulama yang punya julukan Kiai Ngelom kepada Nusantara.News. Ya, baru 10 menit lalu dia kedatangan seorang jenderal bintang satu dari Surabaya. Tidak diceritakan dengan jelas siapa jenderal yang dimaksud. Kiai Qosim memang tidak asing dengan para tentara Indonesia.

Dalam peringatan HUT ke-72 TNI yakni 5 Oktober 2017, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta Presiden Joko Widodo untuk menyerahkan tumpeng kepada tiga orang terpilih. Mereka adalah Paimin (yang sudah berusia 92 tahun) dan Kiai Sholeh Qosim, dua pejuang bersenjata di masa lalu, dan Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi, sebagai wakil TNI masa kini.

Paimin, menurut Jenderal Gatot Nurmantyo dalam pidatonya saat itu, tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan pada tahun 1949 ikut dalam agresi militer I dan II di Yogyakarta. Dia juga pernah bergabung dalam Batalyon 439, 413 dan Kostrad Jakarta. Selama itu dia ikut menumpas DI/TII di Sumatera dan sisa PKI di Jateng.

Sementara Kiai Qosim, diperkenalkan oleh Panglima, saat perang kemerdekaan bergabung menjadi anggota laskar Sabilillah tahun 1943 dan berjuang pada 10 November di Surabaya. Sehari-hari Kiai Qosim mengasuh Ponpes Bahauddin Al-Islami Sidoarjo.

Namun, yang membuat publik kaget adalah ketika Jokowi memberi potongan tumpeng, dia menyalami Kiai Qosim, dan dengan takzim mencium tangan sang kiai.

Kejadian itu menjadi viral di dunia maya. Banyak kalangan bertanya-tanya siapa Kiai Qosim. Sebagai warga NU, Menpora Imam Nachrowi sering ditanya banyak orang terkait sosok Kiai Qosim yang diperlakukan istimewa oleh Presiden Jokowi dan Panglima TNI.

“Saya ditelepon Imam Nachrowi. Dia cerita, ditanya banyak orang setelah acara itu (HUT ke-72 TNI). Dia tanya, kok bisa sampai begitu. Ya, saya jawab, tidak tahu. Saya cuma diundang saja,” kata Kiai Qosim.

Kiai Sholeh Qosim di kediamannya Pondok Pesantren Bahauddin Al-Islami, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur, menceritakan keterlibatannya dalam laskar Sabilillah.

Sesepuh NU Sidoarjo tersebut menceritakan sebelumnya ditelepon Gatot Nurmantyo. Dia diundang untuk datang ke Cilegon, Banten. Gatot mengatakan bahwa Kiai Qosim harus datang karena acara tersebut sangat penting. “Panglima bilang, saya harus hadir di Cilegon pada tanggal 5 Oktober. Nanti akan ada orang yang menjemput. Semua sudah dipersiapkan,” cerita pria yang lahir di Sidoarjo tahun 1930, yang tak ingat bulan dan tanggalnya.

Ditanya seputar kedekatannya dengan Jenderal Gatot, Kiai Qosim mengaku sempat bertemu dua kali untuk membicarakan kondisi bangsa. Sayangnya dia enggan menceritakan lebih lanjut tentang pertemuan tersebut . “Alangkah baiknya beliau (Panglima TNI) yang cerita. Itu bukan ranah saya menjawabnya,” jelas sang kiai.

Satu hal yang pasti, Kiai Qosim selama ini ikut aktif menyukseskan acara 171717 yang diinisiasi oleh TNI, yaitu membaca Alquran (khataman) serentak pada tanggal 17 Agustus 2017 pukul 17.00 WIB. Menurut dia, baca Alquran serentak itu penting demi persatuan bangsa karena didengar langsung oleh 70 ribu malaikat.

Menjatuhkan Pesawat Terbang dengan Jari Telunjuk

Peran pejuang muslim dan santri di era kemerdekaan sangat penting. Pantas Jenderal Gatot selalu berkata kaum Muslim adalah benteng atau pertahanan terakhir Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini didasarkan pada kenyataan pada kurun 1943-1945, kaum Muslim terlibat dalam perjuangan mempertahankan NKRI. Saat itu hampir semua pondok pesantren membentuk laskar-laskar jihad. Paling populer dan dikenal hingga sekarang adalah Laskar Hizbullah (Tentara Allah) dan Sabilillah (Jalan Allah). Simbol yang mereka pakai adalah tulisan tauhid Laa Ilaaha Illallah Muhammadarrosulullah.

Pembentukan laskar ini didahului oleh Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945. Namun pembentukan ini tidak mudah. Kiai Qosim bercerita, saat itu Kiai Hasjim Asyari, pendiri NU, sowan ke kediaman Kiai Cholil Bangkalan. Dia mengutarakan maksud dan tujuan. “Oleh Kiai Cholil, Kiai Hasjim disarankan membaca surat Ghafir sebanyak 99 kali selama 41 hari. Kalau zaman sekarang kita membayangkan saja susah, meski hafal surat tersebut. Tapi para ulama saat itu, terlebih Kiai Hasjim begitu yakin dengan kekuatan Alquran. Usai menyelesaikan bacaannya, Kiai Hasjim langsung menemui ayahnya. Namun tanpa mengutarakan maksud, sang ayah langsung menyuruh Hasjim meneruskan apa yang hendak dilakukan,” terang Kiai Qosim.

Walhasil, berbekal kematangan ilmu Kiai Hasjim, seluruh ulama-ulama dikumpulkan. Maka dibentuklah laskar ahlussunnah wal jamaah yang berpedoman pada Alquran, Hadist, Ijma’, dan Qiyas. Pada 21 Oktober 1945, para kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 Oktober dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”.

Di sinilah cikal bakal munculnya laskar Sabilillah dan laskar Hizbullah yang bertujuan untuk membantu perjuangan. Kedua laskar ini didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang, dan mendapat latihan kemiliteran di Cibarusah, sebuah desa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Laskar Hizbullah berada di bawah komando spiritual Kiai Hasjim Asy’ari dan secara militer dipimpin oleh KH. Zaenul Arifin. Adapun laskar Sabilillah dipimpin oleh Kiai Masykur. Konon, pemuda pesantren dan anggota Ansor NU (ANU) adalah pemasok paling besar dalam keanggotaan Hizbullah.

Di bawah pimpinan Kiai Hasyim Asyari, para kiai se-Jawa dan Madura berkumpul pada 22 Oktober 1945 untuk mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”. Di sinilah cikal bakal munculnya laskar Sabilillah.

Kata Kiai Qosim, laskar Hizbullah dan laskar Sabilillah memiliki tugas masing-masing. Laskar Hizbullah diisi dengan pejuang dan santri muda. Mereka turun dalam pertempuran fisik. Sedangkan laskar Sabilillah diisi dengan kalangan ulama. Pada kurun waktu tersebut kegiatan pondok pesantren adalah berlatih perang dan olah fisik. Bahkan peristiwa-peristiwa perlawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, pada umumnya dipelopori oleh para kiai sebagai pemuka agama, para haji, dan guru-guru ngaji.

Meski tidak semua laskar Sabilillah terjun ke medan tempur, tapi mereka selalu berada di belakang laskar Hizbullah. Kiai Qosim sendiri berada di tengah-tengah antara keduanya. Namun sebagai santri yang dekat dengan ulama, saat itu dia lebih banyak membantu perjuangan laskar Sabilillah.

“Saya justru kebagian tugas mencuri. Tapi jangan disalahartikan, mencuri saya bukan dalam konotasi buruk. Saat itu banyak laskar Hizbullah tidak memiliki senjata untuk berperang. Nah, saya ditugasi oleh para ulama untuk masuk ke benteng pertahanan musuh (Belanda) untuk mencuri senjata,” urainya.

Ya, menyediakan persenjataan dan amunisi sudah menjadi tugas Kiai Qosim dan teman-teman seperjuangannya di laskar Sabilillah. Namun untuk masuk ke markas musuh tidak sembarangan. “Di sinilah peran ulama dan kiai. Mereka banyak yang memiliki karomah. Setiap mau bergerak, kita selalu diberi doa-doa khusus. Masuk ke jantung pertahanan musuh kita selalu dibekali pasir. Bekal itu kita sebar ke markas musuh. Alhamdulillah dengan itu kita menjadi orang yang tidak terlihat oleh musuh. Dan setelah senjata dikuasai, senjata-senjata itu kemudian diserahkan ke laskar Hizbullah,” ujar Kiai Qosim.

Diakui Kiai Qosim, memang tidak banyak orang percaya dengan karomah yang dimiliki ulama, apalagi di jaman sekarang orang cenderung meremehkan ulama. Jujur, saat itu kehebatan para ulama sangat ditakuti penjajah. Kiai Qosim masih ingat ketika dia diberi tusuk sate (sujen) yang ditanam di tanah. “Saya baru percaya setelah melakukannya sendiri. Begitu sujen ditanam, Belanda di depan saya tidak bisa melihat,” tuturnya.

Kehebatan lain, ada ulama Sabilillah asal Cirebon yang cukup menggunakan jari telunjuk untuk menjatuhkan pesawat Belanda yang melintas. “Itu kalau bukan golongan waliyullah tidak bisa. Bayangkan cuma pakai jari telunjuk pesawat bisa jatuh. Ada lagi laskar Sabilillah yang melawan tank musuh dengan ketapel diisi dengan batu kerikil. Tapi berkat doa para kiai, tank-tank itu bisa hancur,” ungkap Kiai Qosim.

Saat perjuangan, Kiai Qosim tidak menampik banyak hal-hal di luar nalar dilakukan para kiai. Namun bukan itu saja kemampuan laskar Sabilillah. Paling utama, menurut Kiai Qosim, adalah menyusun strategi lahir batin. “Saat itu kita punya prinsip yang diterapkan pada laskar-laskar muda Hizbullah yakni maju hidup merdeka mati surga, atau mundur hidup dijajah mati neraka,” terangnya.

Kiai Qosim mengutip sebuah ayat yang sering dijadikan dasar perjuangan laskar Sabilillah dan laskar Hizbullah, qolat innal muluka idza dakholu qoryatan afsaduha wa ja’alu a’izzata ahliha adzillah wa kadzalika yaf’aluna yang artinya sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasaakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina.

“Para kiai selalu memandang penjajah kalau masuk negara akan membuat derajat pemimpin direndahkan, kalau sudah begitu akhlaq rakyat rusak. Maka jalan satu-satunya adalah bertempur. Inilah yang membuat semangat para pejuang membara. Mereka jihad untuk mati sahid,” kata Kiai Qosim.

Arti jihad, lanjut sang kiai, adalah berperang di jalan Allah. Hanya mati sahid yang mereka cari. Tapi jangan disamakan dengan jihadnya para teroris jaman sekarang yang berjihad mencari mati sahid dan bukan demi Allah. Saat itu jihad bersungguh-sungguh untuk mencari ridho Allah.

Seperti yang dialami ulama laskar Sabilillah asal Bangil Pasuruan yang bernama Kiai Mahfud. Dia diketahui tewas saat bertempur. Tapi begitu tahun berganti tahun, jenazah Mahfud digali dan hendak dipindahkan. Seorang penggali makam, masih tetangga Kiai Qosim bercerita bila jasad kiai Mahfud masih utuh.

Tidak hanya itu, jasadnya mengeluarkan bau harum. Semangat ini yang kemudian menjadi dasar semangat perjuangan anak bangsa yakni melandasi atas sebuah kredo yang menyebut hidup mulia atau mati sahid, selanjutnya istilah ini berkembang di kalangan para pejuang dengan lebih singkat menjadi ‘merdeka atau mati’.

“Itu adalah bukti jihad yang sebenarnya. Para pejuang kala itu murni berjihad demi agama dan negaranya. Mereka berperang dengan segenap kekuatan yang mereka miliki. Kehadiran para ulama dalam perjuangan terutama dengan turunnya KH Masykur dalam pertempuran, menumbuhkan perasaan positif bagi pejuang Islam lain. Anggota laskar Sabilillah saat bertempur di Surabaya berasal dari sejumlah ulama dan pesantren di seluruh wilayah Jawa Timur. Mereka berkumpul dan bertempur di Surabaya bersama di bawah bendera Laskar Sabilillah dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang usianya masih terhitung bulan,” kenang Kiai Qosim.

Secara tekad, laskar Sabilillah dan Hizbullah merupakan salah satu barisan tentara non-militer paling kuat. Pada dasarnya karena berasal dari golongan ulama dan santri, tidak banyak anggota laskar ini yang memiliki pengalaman perang. Selain itu mereka juga hanya menggunakan senjata-senjata curian yang sebenarnya tidak tahu kegunaannya. Oleh karena itu, mereka ditempatkan sebagai salah satu pasukan pembantu yang membantu menjaga garis pertahanan pasukan Republik Indonesia.

Dengan pengalaman dan persenjataan yang minim, kata Kiai Qosim, sebenarnya senjata utama laskar ini adalah semangat dan keberanian yang tinggi. Walaupun memiliki modal yang tak banyak, pada akhirnya laskar Sabilillah dan Hizbullah tetap maju ke garis terdepan pertempuran untuk meningkatkan semangat perjuangan para prajurit. Hasilnya, wilayah Surabaya menjadi sangat sulit ditaklukkan oleh pasukan sekutu dan pertempuran berlangsung berlarut-larut.

Pada akhirnya, pertempuran di Surabaya benar-benar berhenti ketika digelar gencatan senjata pada 14 Oktober 1946. Laskar Sabilillah menunjukkan bahwa perjuangan dan jihad yang dilakukan oleh umat Islam merupakan salah satu penyokong dari bertahannya kemerdekaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Peran kiai dalam perang kemerdekaan ternyata tidak hanya dalam laskar Hizbullah-Sabilillah saja, tetapi banyak di antara mereka yang menjadi anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang merupakan cikal bakal terbentuk TKR, ABRI atau TNI. Dan enam puluh bataliyon tentara PETA, hampir separuh komandannya adalah para kiai.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here