Ini Syaratnya Indonesia Bisa Menang Lawan Bluffing Trump

0
88
Rizal Ramli memberikan tausyiah di hadapan santri dan jamaah pada acara Haul Ke 8 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Nusantara.news, Jombang – Klaim Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel merupakan kasus geopolitik terbesar yang sengaja diciptakan untuk mengembalikan citra Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di mata dunia. Tidak hanya itu, dengan adanya klaim tersebut, Trump sekaligus memastikan daya beli persenjataan oleh sekutu-sekutunya akan meningkat. Selama ini AS memang saling kejar-kejaran untuk penjualan senjata dengan lawannya Rusia.

Mantan Menko Maritim Rizal Ramli mengingatkan, Indonesia mestinya ingat, bahwa kasus Yerusalem bukanlah kasus agama semata. Melainkan ada kemerdekaan dan kemanusiaan yang diperjuangkan.

“Kita hutang budi pada Palestina. Karena sebelum Indonesia merdeka, kiai besar Palestina di masjid Al Aqsa sudah mengakui kemerdekaan Indonesia. Itu sebelum Mesir mengakui,” ujar Rizal di sela-sela haul KH Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Testimoni Santri Kesayangan Gus Dur (1)

Kepada Nusantara.News, Rizal mengatakan jika Indonesia memiliki hutang budi dari segi sejarah pada Palestina. Karena itu sejak awal Indonesia sudah menegaskan ingin memperjuangkan kemerdekaan semua bangsa, terutama Palestina.

“Saya kira penting ya karena Indonesia sejak awal itu ingin memperjuangkan kemerdekaan semua bangsa-bangsa di dunia. Itulah mengapa kita dihormati di Asia dan Afrika. Karena Indonesia ujung tombak pemimpin kemerdekaan negara berkembang. Dan yang namanya klaim Trump atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel merupakan penjajahan atas Palestina yang bertujuan untuk kepentingan AS dan Israel. Ini adalah bentuk penjajahan. Itu semua Palestina dianeksasi (dicaplok), dirampas pakai kekerasan, akhirnya Palestina makin kecil dan kedua makin hilang, padahal di situ ada masjid Al-Aqsa,” ujarnya.

Diakui Rizal, tadinya Palestina merupakan sebuah negara. Tapi pelan-pelan diambil alih oleh Israel secara kekerasan. Sebetulnya solusi yang ditawarkan sudah optimal. “Sudah bagi dua saja deh. Satu negara Israel dan satu negara Palestina. Ibu Kota juga dibagi, satu Yerusalem Barat dan satu Yerusalem Timur. Menurut saya solusi dua negara ini solusi yang bagus. Tapi tetap saja negara barat terutama AS maunya semua diambil alih Israel. Ini jelas tidak bisa diterima,” terangnya.

Klaim sepihak Trump ini, dinilai Rizal sebenarnya untuk menciptakan kondisi yang nyaman dalam diri Trump, sekaligus kegaduhan baru tersebut meningkatkan trust politik baru dengan negara sekutu agar lebih dinamis.

Dari segi presidental, selama ini tidak sedikit oposisi Amerika terutama dari Demokrat yang ingin meng-impech Trump sejak terlibat skandal di Rusia. Dengan dia mendukung Yerusalem Timur menjadi Ibu Kota Israel, Trump mendapat dukungan sangat kuat dari para pendukung Israelnya di Amerika.

“Dia bisa membalikkan peta politik di Amerika. Selain menguasai media, dia punya uang dan pengaruh. Jadi dari segi Trump, dia berusaha untuk mengamankan diri supaya tidak di-impeach. Dia ingin menunjukkan pada dunia bahwa skandal Rusia itu tidak ada. Dengan pengakuan Yerusalem tersebut, Trump ingin semua orang tahu bahwa AS berseberangan dengan Rusia,” urai Rizal.

Yang kedua, Trump selama ini jago sekali dalam bluffing atau menggertak. Dia mengancam Korea Utara. Sebut saja saat Trump membully Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dengan kalimat “gemuk dan pendek”. Jong-un yang usianya masih 30-an tahun pun membalas Trump sebagai “Manula” dan “Gila”.  Bahkan Trump berjanji akan “menghancurkan secara total” Korea Utara jika negara itu mengancam AS dan sekutu-sekutunya. Saling serang dan balas di antara keduanya terus berlanjut. Menciptakan ketegangan politik kawasan yang tidak disukai oleh sekutu kedua negara. Apa yang didapat Trump dan AS dari bluffing tersebut?

Sebut Rizal, sejak bluffing Trump terungkap dunia, sekutu-sekutunya mulai membeli senjata pada AS. Mereka sebenarnya juga khawatir jika sampai AS menyerang Korut. Saat perang terjadi, maka negara sekutu harus mempersenjatai diri. Korea Selatan akhirnya beli senjata dari Amerika hingga miliaran dollar. Jepang juga takut dengan perang. Kemudian ikutan beli senjata lagi.

Baca juga: Testimoni Santri Kesayangan Gus Dur (2)

Beberapa bulan lalu, Trump juga mengancam Qatar sebagai sumber terorisme. Qatar ketakutan. Akhirnya beli senjata dari Amerika senilai 18 miliar dollar. “Saudi Arabia tidak mau kalah. Melihat Qatar punya senjata modern dari Amerika, negara Arab beli senjata lagi hingga mencapai 80 miliar dollar.

Dengan adanya konflik di Timur Tengah, Rizal menyebut Amerika bisa jadi menjual senjata lebih banyak lagi dengan nilai yang diprediksi bisa mencapai ratusan miliar USD. “Jadi kita jangan salah baca situasi ini. Mereka (AS) sengaja membuat konflik untuk berdagang persenjataan. Adanya konflik Timur Tengah dimanfaatkan sekutu AS membeli senjata. Sedang lawannya membeli senjata dari Rusia. Di setiap konflik senjata, mereka memainkannya dengan senjata. Jadi sebenarnya ini hanyalah konflik antara Amerika dan Rusia. Sementara yang lainnya cuma poksi saja,” sebut Rizal.

Menjadi Pemimpin Negara-negara Asia-Afrika

Selama ini konflik bersenjata di Timur Tengah sengaja dipelihara oleh negara-negara kuat, selain berdagang senjata juga untuk menaikkan harga minyak mentah dunia.

Ramli menduga harga minyak bumi bisa naik dengan adanya klaim Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Jika harga minyak bumi naik dari 40 Dollar ke 100 Dollar per barel, maka itu punya dampak yang tidak kecil bagi Indonesia.

“Jadi kita juga harus awas konflik ini sengaja dipakai, sengaja dipelihara, supaya pada bisa jualan senjata dan menaikkan harga minyak mentah di seluruh dunia. Itu Rusia dan Amerika yang diuntungkan kalau itu terjadi,” kata Rizal mewanti-wanti pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) agar tidak terbius dengan konflik tersebut.

Menurutnya, kalau konflik Timur Tengah terus dipelihara, maka harga minyak bumi akan naik. Perusahaan Amerika dari sektor Migas yang tadinya merugi, sekarang bisa untung lagi. Contohnya Shell Oil. Perusahaan minyak asal AS bisa laku lagi di Indonesia.

Demikian pula dengan Rusia yang ekspor utamanya energi. Kalau naik 100 dollar, mereka dapat untung besar. Sementara negara-negara berkembang dipastikan akan celaka.

“Saat ini kita bukan eksportir lagi seperti 20 tahun yang lalu. Sekarang kita justru mengimpor 1,5 juta barel per hari (bph). Nah kalau naik dari 40 dollar ke 100 dollar, Indonesia jelas nomboki sebanyak 60 dollar per barel. Coba saja itu dikalikan 1,5 juta bph. Totalnya mencapai 900 juta dollar sehari. Atau hampir 1 miliar per hari kita nomboki. Rupiah bisa jeblok di atas 15 ribu,” ungkap Rizal.

Seperti diketahui, saat ini tingkat produksi minyak menunjukkan tren terus turun, dan sebaliknya konsumsi justru naik. Sebagai gambaran, data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan produksi siap jual atau lifting minyak pada 2018 akan turun ke level 769.795 bph. Produksi minyak akan terus menurun menjadi 723.477 bph pada 2019, 677.728 bph pada 2020 dan menyentuh angka 639.640 bph pada 2021.

BP Statistical Review pun mencatat tren konsumsi bahan bakar minyak yang terkerek naik. Pada 2005, konsumsi BBM berada di level 1,3 juta bph. Lima tahun kemudian yakni pada 2010, konsumsi naik ke level 1,4 juta bph dan naik ke 1,6 juta bph di 2015.

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero), untuk impor minyak mentah diperkirakan menyentuh angka 140 juta barel sepanjang 2017 atau lebih tinggi 5% dari realisasi impor 2016 sebanyak 134 juta barel. Impor minyak itu didatangkan dari beberapa negara seperti Arab Saudi 39 juta barel, Afrika 18 juta barel, Asia mencakup Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam dengan volume 60 juta barel dan Mediterania sebesar 32 juta barel.

“Jadi kita juga harus berhati-hati, jangan sampai bluffing Trump ini mendorong menjadi ekskalasi konflik bersenjata. Karena kalau sampai terjadi konflik bersenjata, kita justru yang rugi. Kita harus menggunakan cara-cara diplomatik yang pasti disukai oleh Gus Dur,” tambah Rizal sembari mengenang Gus Dur.

Baca juga: Testimoni Santri Kesayangan Gus Dur (3)

Dikatakan Rizal, selama ini Indonesia selalu terlibat dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dalam penyelesaian Timur Tengah. Namun sebenarnya cara itu tidak mempan bagi Indonesia.

“Apa sebab tidak mempan. Sebab jumlah anggota OKI hanya 57 negara saja. Ingat Setiap negara yang mempunya hak veto di PBB, tapi suaranya cuma satu loh. Mau negara kecil atau negara besar. Jadi kalau kita hanya mengandalkan dari OKI, tidak ada yang bisa kita lakukan. Kalau mau jujur, kita harus menjadi pemimpin Asia-Afrika,” tandas Rizal.

Mengapa negara-nagara Asia-Afrika sangat penting? Dulu Indonesia pernah menjadi pemimpin Asia-Afrika di jaman Bung Karno. “Kalau kita jadi pemimpin Asia-Afrika, negara-negara itu bila digabung jumlahnya bisa 200 negara. Amerika mau ngapain saja pasti kalah voting dengan kita,” imbuhnya.

Belum lama ini perhatian dunia sempat tertuju pada Indonesia sebagai tuan rumah Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 19-24 April 2015. Bahkan seorang Vladimir Putin menyebut, KAA tersebut merupakan konferensi kerjasama antara negara-negara Asia Afrika memainkan peran utama dalam membangun tatanan dunia yang demokratis dan adil (fair). Ucapan Presiden Rusia ini menyedot perhatian dunia.

KAA juga memperkuat stabilitas global, melawan kemiskinan dan kelaparan serta memecahkan masalah sosial ekonomi, sekaligus mempromosikan Kerjasama Selatan-Selatan bagi Perdamaian dan Kesejahteraan Dunia (Promoting South-South Cooperation for World Peace and Prosperity).

Disebut kerjasama Selatan-Selatan berangkat dari istilah historis dari para pembuat kebijakan tingkat dunia terkait pertukaran sumber daya, teknologi, dan pengetahuan di antara negara-negara berkembang, yang umumnya berada di benua Asia dan Afrika, atau negara-negara Selatan global.

Putin, pemimpin negara federasi terluas wilayahnya di dunia dengan luas wilayah 17.075.400 kilometer persegi dan membentang dari timur Eropa hingga utara Asia, menganggap kerjasama negara-negara Asia Afrika, termasuk paling kuat dalam dalam menciptakan perdamaian dan keamanan di seluruh benua.

Dalam KTT KAA 2015 itu, dihasilkan tiga dokumen utama yaitu Bandung Message, Penguatan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (NAASP), dan Deklarasi Palestina.

Untuk Deklarasi Palestina berisi delapan poin yakni menyampaikan dukungan kepada Palestina untuk meraih kemerdekaan, rasa salut atas perjuangan dan ketabahan Palestina, mendorong solusi dua negara, mengutuk perlakuan Israel sebagai penjajah dan mengutuk serangan Israel.

Deklarasi itu juga mendorong rekonstruksi Gaza, mendorong realisasi aplikasi Palestina sebagai anggota PBB dan mendorong negara-negara di Asia-Afrika yang belum mengakui Palestina sebagai negara untuk segera melakukannya.

Sayangnya, KTT KAA itu belum cukup kuat untuk Indonesia. Artinya, Indonesia belum memiliki negosiasi kuat untuk melawan Trump karena dalam KTT KAA Indonesia tidak menjadi pemimpin. Ya, dikatakan Rizal, kalau Indonesia mau melawan Trump maka jalan satu-satunya Indonesia harus menjadi pemimpin Asia-Afrika seperti yang pernah dilakukan Bung Karno.

“Syarat untuk menjadi pemimpin Asia-Afrika, ya pemimpin Indonesia harus menjadi pemimpin hebat. Haruslah pemimpin yang mengerti geopolitik. Kalau Gus Dur sih asyik banget, kalau Jokowi saya tidak bisa jawab. Di jaman Gus Dur dulu, bisa bawa negara Islam (OKI) dan negara Asia-Afrika untuk melawan kebijakan-kebijakan Amerika yang dianggap tidak menguntungkan,” pungkasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here