Ini Teori Konspirasi di Balik Serangan AS ke Suriah

0
284

Nusantara.news – Serangan udara Amerika Serikat ke Suriah pada Jumat (7/4) dini hari lalu berlangsung di tengah situasi politik internal AS yang memanas. Biro Investigasi Federal (FBI) saat ini sedang menyelidiki keterlibatan Presiden Donald Trump dan timnya terkait dugaan keterlibatan Rusia dalam Pemilihan Presiden AS 2016. Trump diduga “berselingkuh” dengan Presiden Rusia Vladmir Putin dalam upaya memenangkan Pemilu.

Trump membantah keras, demikian juga Putin. Hubungan kedua kolega yang pada awal keterpilihan Donald Trump tampak sangat akrab, belakangan merenggang. Tapi apakah benar hubungan keduanya sudah tak lagi akrab? Lebih-lebih, setelah serangan terbuka AS terhadap rezim pemerintahan Suriah Bassar Al-Assad, yang tak lain sekutu Rusia dalam menumpas ISIS.

Tapi, tidak semua berpendapat seperti itu. Analis politik MSNBC Chris Matthew, sebagaimana dikutip Independent, mengklaim bahwa serangan udara Trump terhadap Suriah bisa jadi merupakan konspirasi AS dan Rusia untuk meredam isu-isu “perselingkuhan” AS-Rusia dalam kemenangan Pemilu Trump.

Diduga, serangan ke Suriah sudah diatur sedemikian rupa, dengan harapan dapat meruntuhkan tuduhan oposisi Partai Demokrat bahwa Rusia melakukan serangan siber untuk mengarahkan pemilihan presiden 2016 dengan memenangkan Donald Trump.

Berbeda dengan keterangan juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengatakan serangan itu bakal “menimbulkan kerusakan besar pada hubungan AS-Rusia”, yang seolah menunjukkan hubungan AS-Rusia benar-benar telah renggang.

Kesepakatan untuk mencegah bentrokan Rusia dan Amerika di wilayah udara Suriah kini telah ditangguhkan oleh Kremlin. Hal ini dalam menanggapi bombardir oleh AS yang menghancurkan sedikitnya sembilan jet di pangkalan udara Suriah.

Puluhan rudal AS diluncurkan pada Jumat 7 Maret lalu, dalam menanggapi serangan diduga senjata kimia gas sarin pada sebuah kota di Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak dan telah menyebabkan lebih dari 80 orang tewas. (Baca: Ini dia, Sarin yang Bikin Donald Trump Bombardir Suriah)

Serangan itu merupakan serangan langsung pertama AS terhadap pasukan Presiden Assad sejak pecahnya perang saudara di Suriah enam tahun lalu.

Berbicara di MSNBC, analis veteran Chris Matthews mengatakan, “Mungkin saja dugaan konspirasi itu sinisme, tapi saya pikir … bahwa ada cara bagi (Trump) untuk membunuh isu-isu bahwa dia “berselingkuh” dengan Putin.”

“Mengambil pelabuhan Putin (di Tartus), lalu mengambil satelitnya, sekutu setia Assad itu. Dan itu akan menjadi cara untuk mengatakan, ‘saya tidak pernah berselingkuh dengan orang ini, saya tidak pernah merencanakan apa pun dengan koalisi di Moskow’.”

Pangkalan Angkatan Laut Rusia di Tartus telah memberikan akses penting bagi Putin untuk menuju laut Mediterania Timur, dan memungkinkan kapal perang dan kapal selam Rusia melewati Laut Hitam ke perairan Barat dan berpotensi memberikan rute ke sumber daya migas yang belum diekspolitasi.

Tartus merupakan satu-satunya pangkalan Angkatan Laut Rusia di wilayah asing, dan mempertahankan kontrol atas Tartus menjadi alasan utama Putin masuk ke arena tempur Suriah.

Bahkan lebih jauh Matthews berspekulasi, bahwa Trump dan Putin mungkin saja telah saling bertelepon  malam ini, dan mereka sengaja bekerja untuk penyerangan ini, dan itu menjadi bagian dari skenario yang dimaksudkan untuk menciptakan kesan seolah-olah Washington sangat bertentangan dengan Moskow.

Pasukan Rusia yang diakui telah diperingatkan tentang serangan 30 menit sebelumnya, dengan menggunakan apa yang disebut deconfliction line yang digunakan untuk mencegah bentrokan antara kedua negara adidaya di wilayah udara Suriah.

Dilaporkan tidak ada korban dari pihak tentara Rusia, meskipun personil mereka juga ditempatkan pada wilayah dimana enam tentara Suriah tewas bersama dengan sembilan warga sipil di wilayah Homs itu.

Putin saat ini telah menangguhkan kesepakatan untuk mencegah konflik antara pasukan Amerika dan Rusia dan menyerukan pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk membahas serangan tersebut.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Presiden Vladimir Putin menganggap serangan itu sebagai “tindakan agresi” dengan dalih yang dibuat-buat. Putin mengatakan, serangan akan menimbulkan kerusakan besar pada hubungan AS-Rusia. Putin juga menuding bahwa serangan dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari banyaknya kematian warga sipil yang diduga disebabkan oleh bom AS di Irak.

Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, telah menulis surat untuk Kongres untuk mengkonfirmasi keputusannya menyerang Suriah.

Trump mengatakan dalam suratnya, dia telah memerintahkan penembakan 59 rudal Tomahawk untuk menurunkan kemampuan militer dan menghalangi rezim Suriah melakukan serangan.

“Saya mengarahkan tindakan ini untuk menurunkan kemampuan militer Suriah untuk melakukan serangan senjata kimia lebih lanjut.” tulis Trump.

“Serangan itu juga untuk menghalangi rezim Suriah dari menggunakan atau memproduksi senjata kimia, sehingga meningkatkan stabilitas kawasan dan mencegah memburuknya bencana kemanusiaan di kawasan itu saat ini,” katanya pada Minggu (9/4).

Maret lalu, Rusia juga melakukan latihan perang besar-besaran di Semenanjung Krimea. Latihan perang dianggap ilegal oleh NATO, dimana AS berada di dalamnya. Tindakan Rusia yang juga mendapat respon negatif dari AS ini, dilakukan di tengah upaya penyelidikan tentang adanya campur tangan Putin dalam kemenangan Trump pada Pemilu AS. Apakah ini juga menjadi bagian dari skenario untuk mencitrakan seolah-olah Trump dan Putin benar-benar bertentangan?

Jika teori konspirasi ini benar, maka semakin menegaskan bahwa Trump bertindak semata untuk meneguhkan kekuasaannya di AS, bukan sebagai tindakan simpatik apalagi pembelaan terhadap warga sipil Suriah korban gas sarin. Pertanyaan besarnya, jika ini semua konspirasi, lalu siapa sesungguhnya yang menembakkan gas sarin itu? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here