Ini Tiga Cerita Unik Kudapan Khas Kotagede, Yogyakarta

0
442
Bukan hanya reruntuhan keraton, melainkan kudapan khas Kotagede memiliki kisah yang unik

Nusantara.news, Yogyakarta – Kotagede merupakan salah satu kecamatan di pinggiran Kota Yogyakarta. Toh demikian Kotagede sangat bersejarah bagi Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Sebab, di sinilah cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa.

Namun kalau piknik ke sana jangan hanya terpukau reruntuhan bangunan keraton. Nikmati juga kudapannya yang memiliki nama dan asal usul unik di balik ceritanya. Sebab, sebagai keraton yang dikepung persawahan subur sudah sejak dulu kala dikenal sebagai penghasil beras dan ketan. Kebetulan pula para kawulo dalem (rakyat jelata) dikenal kreatif dalam membuat produk-produk olahannya.

Berikut ini tersaji tiga cerita unik sebagai asal muasal nama-nama kudapan khas Kotagede:

Kipo

Kipo merupakan jenis jajanan pasar yang masih eksis hingga sekarang. Kudapan yang terbuat dari tepung ketan ini memang buatan kawulo dalem Kotagede yang kadang dijajakan di pasar.

Kipo merupakan salah satu makanan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono X (jajanjogja.com)

Suatu ketika kudapan sebesar ibu jari itu menarik minat seorang bangsawan yang menyambangi dagangannya. Sang bangsawan pun langsung mencicipinya. Setelah itu dia bertanya, “Iki opo?” Atau dalam Bahasa Indonesianya, Ini Apa. Sejak itu nama kudapan khas Kotagede itu dinamakan Kipo.

Sekarang hanya tinggal tiga penjual Kipo saja di Kotagede, tepatnya di Jalan Mandrokan. Tidak seperti kudapan lain yang biasa dititipkan ke pedagang-pedagang pasar, Kipo khas Kotagede yang memang tidak awet ini hanya dijual oleh pembuatnya.

Karena memang, Kipo dibuat tanpa bahan pengawet. Lebih dari 12 jam panganan ini akan basi. Padahal, kudapan seharga Rp1500 ini cara membuatnya cukup rumit dan butuh kesabaran. Pertama buat adonan tepung ketan dicampur air daun suji dan diisi kelapa dan gula.

Selanjutnya, adonan yang sudah dicampur itu dipipihkan sebesar ibu jari dan dibakar di atas wajan tanah liat. Agar tidak hangus, satu per satu potongan adonan Kipo sebesar ibu jari itu harus sering dibolak-balik.

Legomoro

Dahulu kala, kalau tidak bisa membuat kudapan ini jangan harap bisa memperistri gadis-gadis Kotagede. Sebab ini makanan yang wajib dibawa calon mempelai lelaki kepada calon mempelai perempuan dalam sebuah acara pernikahan.

Legomoro masih dapat dengan mudah dijumpai di Pasar Kotagede (spotjogja.com)

Ternyata, kudapan bernama Legomoro ini memiliki filosofis tersendiri bagi warga Kotagede. Legomoro itu berasal dari rangkaian kata (kretoboso) dalam Bahasa Jawa, yen atine lego le moro yo lego (kalau hatinya nyaman, datang pun dengan perasaan nyaman). Sejak itu kue yang rasanya mirip lemper itu dinamakan Legomoro.

Legomoro memang rasanya seperti lemper, terbuat dari ketan dan berisi daging. Dibungkus daun pisang serta diikat memakai tali bambu, jajanan tradisional yang bertekstur legit ini dibuat dengan cara dikukus.

Tapi sekarang Legomoro bukan lagi kudapan sakral yang hanya ada saat acara pernikahan. Kini kue yang mirip Bacang atau Bongkol itu dijual di lapak-lapak Pasar Kotagede. Harganya berkisar antara Rp2500 hingga Rp4000 per ikat yang terdiri dari tiga atau empat buah kue.

Kembang Waru

Dulu tidak sembarang orang bisa merasakan legitnya kue manis ini. Para kawulo dalem hanya bisa menikmati kue ini di acara pernikahan dari keluarga berada. Biasanya, anak-anak pedagang kaya asal Kotagede, gengsi kalau dalam acara serah-serahan sebelum midodareni hanya membawa kue Legomoro ke calon mempelai perempuan tanpa membawa kue yang disebut Kembang Waru ini.

Kembang waru, jajanan tradisional berbentuk bunga dengan delapan kelopak ini memiliki filosofi yang mendalam (emkatourjogja.com)

Rasa kue ini memang mirip bolu basah. Tapi cara pembuatannya memerlukan ketelatenan. Bedanya dengan bolu, Kembang Waru terbuat dari tepung ketan dan telur ayam kampung. Namun karena harga tepung ketan dan telur ayam kampung semakin mahal, kini banyak yang mengakalinya dengan bahan tepung terigu dan telur ayam negeri, sehingga rasanya tidak beda jauh dengan kue Bolu basah

Toh demikian, kudapan seharga Rp2000-an ini bentuknya tidak boleh sembarangan. Harus memiliki kelopak berjumlah delapan, mengacu kepada ajaran Ramayana tentang Hasta Brata yang mengurai sifat delapan alam yang meliputi matahari, bulan, bintang, awan, air, api, laut, dan angin. Kedelapan sifat alam itu harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Seperti halnya Legomoro, kini Kembang Waru meskipun sudah makin langka bisa didapat di pasar Kotagede. Tapi setidaknya, nenek moyang bangsa di kepulauan nusantara ini memiliki kreativitas dalam mengolah beragam jenis kuliner.

Nantikan cerita kuliner nusantara lainnya, hanya di Nusantara.news []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here