Ini Tindakan Terlarang Cambridge Analytica dalam Pemilu AS

0
168
Mantan CEO Cambridge Analytica Alexander Nix saat presentasi untuk pemenangan Trump dalam Pilpres AS 2016

Nusantara.news, Jakarta – Kantor Konsultan Politik “Cambridge Analytica” (CA) di London, Inggris, mulai digeledah oleh Badan Pengawas Data sejak Jumat (23/3) hingga Sabtu (24/3) dini hari waktu setempat. Penggeledahan dilakukan setelah mereka mendapatkan izin dari Pengadilan Tinggi London.

Selain itu, di Amerika Serikat (AS), seorang mantan pegawai CA – Chris Wylie – membongkar keterlibatan orang asing – di luar Warga Negara AS – sebagai pengambil-keputusaan dalam Tim Kampanye yang memenangkan Thom Tillis menjadi senator di North Carolina, AS, pada 2014 lalu.  Keterlibatan warga negara asing dalam pemilu AS sesuatu hal yang terlarang.

Sejak CA diributkan menggunakan data 50 juta pengguna Facebook tanpa sepengetahuan pemiliknya, Kantor Komisioner Informasi (ICO/Information Commissioner Officer) Inggris segera bergerak memberikan ultimatum kepada CA agar menyerahkan database dan server yang dimilikinya. Hingga batas waktu yang ditentukan, perusahaan konsultan politik itu tidak mengindahkannya.

Maka ICO segera minta izin penggeledahan ke Pengadilan Tinggi London. Setelah mendapatkan izin, 20 personil  – semacam polisi di lingkungan Komisioner Informasi – dengan mengenakan jaket hitam bertuliskan  “ICO Enforcement” bergerak mendatangi kantor pusat CA di London.

“Kami sekarang harus menilai dan mempertimbangkan bukti-bukti yang ada sebelum memutuskan langkah selanjutnya dan membuat kesimpulan,” ungkap Ketua ICO Elizabeth Denham yang memang diberikan wewenang melakukan penegakan hukum atas dugaan kejahatan informasi di Inggris (UK/United Kingdom).

“Ini satu bagian penyelidikan besar oleh ICO untuk mengusut penggunaan data dan analisis pribadi oleh pelaku kampanye politik, perusahaan-perusahaan, pengelola media sosial, dan aktor-aktor komersial lainnya,” imbuh Elizabeth Denham.

Keterlibatan Asing

Di AS sendiri kini Facebook (FB) menghadapi penyelidikan oleh Komisi Perlindungan Konsumen Federal (FTC/Federal Trade Commission) yang juga memiliki kewenangan penegakan hukum. Chris Wylie (28) – warga negara Canada – yang memberikan kesaksian tentang penyalah-gunaan data yang diunduh dari konten aplikasi “Kuis Kepribadian” yang ditayangkan di FB tampaknya akan memberikan kesaksian yang memberatkan mantan-mantan bosnya di CA.

Chris Wylie sang pengungkap kecurangan Cambridge Analytica

Bukan hanya dalam kasus pemenangan Trump, Wylie juga memberikan kesaksian tentang keterlibatan orang-orang di luar Amerika Serikat saat kampanye memenangkan Thom Tillis – senator AS asal daerah pemilihan North Carolina.

Peran yang dilakukan pekerja asing – ungkap Wylie – bukan sebatas pemasok data. Melainkan juga melakukan analisis dan terlibat aktif dalam pengambilan keputusan – termasuk menentukan anggaran pengeluaran – yang sesungguhnya dilarang keras di negeri Paman Sam.

Namun pernyataan itu dibantah oleh memo hukum yang mengatakan sebaliknya. Dalam memo hukum yang disampaikan kepada Steve Bannon – mantan ketua tim kampanye Donald J Trump – dan manajer lainnya dari perusahaan pengolahan data “Cambridge Analytica” pada tahun 2014 yang menegaskan “hanya warga negara AS berhak membuat keputusan tentang kegiatan pemilu AS” – namun Wylie membantah pernyataan memo pengacara itu dan menegaskan tentang adanya keterlibatan warga negara asing – termasuk dirinya dan sejumlah mantan staf CA lainnya dalam Pemilu di AS.

Sebagaimana diberitakan New York Time, pengacara Lawrence Levy dari kantor hukum “Bracewell & Giuliani” mengirimkan “pendapat hukum” kepada Banon, donator Republikan Rebekah Mercer dan CEO CA Alexander Nix yang menyebutkan “Nix tidak boleh dilibatkan dalam Tim Pengambilan Keputusan dalam Pemilu AS karena Nix bukan warga negara AS.

Memo atau “pendapat hukum” dari kantor walikota New York – Rudy Giuliani yang diperoleh NBC News – juga menjelaskan “warga negara asing hanya dapat mengumpulkan dan memproses data”, tetapi “tidak boleh memainkan peran strategis termasuk memberikan saran strategis kepada kandidat, tim kampanye, partai politik atau independent, komite anggaran”.

Guiliani juga menandaskan “analisis akhir dari data tersebut harus dilakukan oleh warga negara AS dan disampaikan kepada setiap tim kampanye oleh warga negara AS yang diberikan tugas melakukan analisis data itu”.

Menangkan Thom Tillis

Namun Chris Wyle  yang diperintahkan “tugas luar” oleh kantor CA di London untuk mengikuti kampanye di AS sejak 2014 memberikan kesaksian sebaliknya. Wylie mengaku bekerja pada semua kegiatan “terlarang” dalam kampanye di AS – termasuk memenangkan Thom Willis selaku kandidat Senat dari North Carolina dalam pemilihan sela di AS pada 2014.

Thom Tillies, senator Partai Republik asal North Carolina yang ikut dimenangkan oleh Cambridge Analytica

Wylie juga membongkar fakta, banyak warga negara asing bekerja dalam kampanye – dan banyak yang terlibat dalam Tim Sukses dalam pemilu lainnya – selain pemilu Presiden di AS – pada 2014. “Bukan hanya saya yang terlibat,” tegas Wylie. Melainkan – lanjut Wylie – ada sekitar 20 staf CA yang bekerja dalam Pemilu di AS, ada yang dari Kanada, Inggris, Jerman dan negara-negara Eropa Timur seperti Lithuania dan Rumania.

“Kami tidak hanya mengolah data. Melainkan juga mengintruksikan tim kampanye untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan analisis kami, distribusi dan kelompok sasaran,” beber Wylie. Artinya Tim Asing bukan sekedar mengumpulkan dan mengolah data, melainkan juga melakukan Analisa dan memberikan intruksi kepada Tim Kampanye.

Namun Wylie juga mengelak tentang siapa saja dari Tim CA yang terlibat aktif dalam kampanye di AS – dengan alasan tidak bisa mengingat setiap karyawan CA yang bekerja saat kampanye untuk Tillis. “Ada tiga atau empat staf CA yang bekerja penuh waktu di Tim Kampanye Tillis di Raleigh. Mereka semua adalah warga negara asing.”

Wylie juga menambahkan, para pekerja asing itu diterbangkan dari London ke North Caroline pada bulan Juli 2014. Namun pernyataan Wylie dibantah oleh CA. Perusahaan itu menyebut Wylie sudah tidak bekerja lagi di CA sejak Juli 2014. Tapi Wylie bersikeras, sejak kepergiannya ke North Carolina dia masih bekerja di CA hingga sebelum pemilihan sela 4 November 2014.

Seorang mantan staf senior CA di level kedua juga menjelaskan, sebagian besar tim pengolah data pada Pemilu 2014 terdiri dari warga negara asing – termasuk yang bertugas memenangkan Tillis di North Carolina. Staf senior itu juga mengungkap tim pengolah data dan analisis data sebagian besar didatangkan dari Eropa Timur. Tidak satu pun yang berkewarganegaraan AS.

Seorang staf juru bicara kampanye Tillis membantah keras adanya staf CA – warga negara asing – dalam Tim Kampanye Tillis. “Staf CA tidak mungkin tertanam dalam Tim kampanye yang mereka sebut di Raleigh karena Tim Kampanye Tillis berbasis di Cornelius, North Caroline yang berada di luar Charlotte – tempat Gedung Raleigh berdiri. Tampaknya mereka tidak mengerti kampanye kandidat dan pemenangan partai dalam pemilu bukan hal yang sama,” ujar seorang juru bicara Tim Kampanye Tillis.

Seorang juru bicara Partai Republik North Caroline juga menegaskan, para pekerja CA tidak tertanam di tim kampanye. Melainkan bekerja untuk kepentingan Partai Republik negara bagian. “Sejauh ini tidak ada tuduhan bahwa kami (Partai Republik) atau Tillis melakukan sesuatu yang salah, tidak etis, atau melanggar hukum,” tandas juru bicara itu.

Juru bicara itu juga menambahkan, mereka bekerja untuk Partai Republik wilayah North Carolina pada tahun 2014, dan partai telah melakukan pembayaran (atas jasa pekerjaan mereka) pada tahun 2015 untuk pekerjaan tahun 2014. Sejauh ini, lanjut juru bicara itu, CA tidak menghadapi tuduhan melanggar UU atau aturan Komisi Pemilihan Federal (FEC/Federal Electoral Commission) yang berlaku.

Penyalur Super PAC

SCL – inisial dari perusahaan induk “Cambridge Analytica” enggan menanggapi secara rinci tentang tudingan adanya warga negara asing terlibat langsung dalam tim kampanye, namun secara umum SCL menjelaskan kepada media bahwa semua personil dalam peran strategis adalah warga negara AS atau pemegang kartu hijau (green card – meskipun bukan warga negara AS tapi diakui sebagai penduduk AS).

Rebekah Mercer – filantropis pendukung Partai Republik – bersama keempat anaknya

Perusahaan juga menegaskan, pimpinan CA Alexander Nix tidak pernah melibatkan diri dalam peran strategis atau operasional dalam kampanye AS.

Seorang pengacara untuk kelompok pengawas hukum pemilu AS mengatakan dia “tidak sadar” dari Komisi Pemilihan Federal yang membahas apakah larangan nasional asing harus secara khusus berlaku untuk kelompok seperti CA.

“Aturan umum bahwa warga negara asing tidak boleh mengarahkan atau terlibat dalam keputusan tentang kontribusi atau pengeluaran yang dibuat oleh tim kampanye atau super PAC harus diterapkan, terlepas dari peran formal yang mereka miliki dalam kampanye atau dengan super PAC,” ujar Brendan Fischer dari Pusat Hukum Kampanye.

“Komisi Pemilihan Federal belum secara jujur membahas masalah ini,” tudingnya.

Sekedar penjelasan – super PAC sebagaimana dikutip dari Oxford Dictionaries – adalah perkumpulan atau lembaga independen yang mampu menggalang dana kampanye pemilihan umum secara tidak terbatas baik dari pengusaha, serikat pekerja (termasuk asosiasi-asosiasi) maupun individu namun dilarang berkontribusi atau berkoordinasi langsung dengan partai politik maupun kandidat. PAC berasal dari singkatan Political Action Committee atau Komite Aksi Politik – sebagai lembaga penggalangan dana kampanye yang lazim di AS dan Kanada.

Terkait dugaan keterlibatan asing dalam penyaruran dana dari “super PAC” yang secara umum dilarang di AS, Fischer mengatakan apabila ada warga negara asing hanya memberikan saran misal tentang anggaran, tetapi secara formal bukan bagian dari tim pengambilan keputusan tentang anggaran – mungkin Komisi Pemilihan Federal mengatakan “tidak apa-apa”.

Fischer juga mengkritisi, Nix bisa memainkan peran utama selama dia tidak terlibat dalam tim pengambilan keputusan – terutama yang terkait dengan anggaran.

Pakar Hukum Kampanye juga telah mengajukan keberatan kepada Komisi Pemilihan Federal yang diam atas tuduhan “Cambridge Analytica” menjadi penyalur (dana) antara kampanye Trump dan “super PAC” yang didanai oleh keluarga Mercer selama kampanye pemilihan umum Presiden 2016. [] Sumber : Kompas, NBC News, New York Times dan BBC

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here