Ini Titik Lemah Visi Misi para Calon Walikota Malang

0
35
IIustrasi Pemaparan Visi Misi Kampanye (Foto: Rumahpemilu.org)

Nusantara.news, Kota Malang – Dinamika politik Pilkada Kota Malang 2018 terus bergulir, masing-masing calon berebut pengaruh dan adu gagasan pembangunan dan penyelesaian permasalahan di Kota Malang.

Dalama forum disuksi yang digelar oleh Majelis Daerah (MD) KAHMI Kota Malang, pada Rabu (7/2/2017) kemarin para calon diundang dan saling unjuk gagasan. KAHMI Kota Malang sengaja mengundang para calon-calon pemimpin Kota Malang memperkenalkan diri serta gagasan yang dibawa. Forum diskusi tersebut seakan menjadi mini debat terbuka antar calon.

Agenda yang digelar di Regen’s Hotel Kota Malang tersebut dihadiri seluruh calon walikota dan wakil walikota Malang, yakni Anton-Samsul (koalisi ASIK), Nanda-Wanedi (koalisi MENAWAN) dan Sutiaji-Sofyan (koalisi SAE). Turut diramaikan juga para pengikut, pendukung dan tim sukses masing-masing calon.

Selain, mengundang beberapa calon pemimpin Kota Malang kedepan juga dihadiri anggota MD KAHMI Kota Malang yang rata-rata kalangan akademisi dan cendekiawan. Tak sedikit dari mereka juga merupakan pakar-pakar di beberapa bidang keilmuan.

Beberapa pakar tersebut antara lain pakar anggaran publik yang juga Dekan FISIP Universitas Brawijaya, Prof Dr Untiludigdo, pengamat politik yang juga dosen Universitas Indonesia, Dr Abdul Aziz, dan Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) yang juga Ketua Dewan Pendidikan Kota Malang, Prof M Amin. Adapun pakar hukum, Dr Ali Syafaat, dan ahli ekonomi politik, Dr Nazaruddin Malik.

Prof Dr Untiludigdo, mengingatkan masih banyak permasalahan di Kota Malang yang harus diseselesaikan, baik itu masalah kemacetan dan persoalan transportasi di Kota Malang. Dia menegaskan kepala daerah harus memiliki solusi dan keseriusan memecahkan persoalan kemacetan di Kota Malang.

“Selain visi misi yang dibawa, seorang pemimpin harus bisa emberikan solusi konkret untuk memecahkan sekelumit permasalahan di Kota Malang kini. Selain itu harus berani membuat target penyeleseian kapan kiranya harus ditangani dan diselesaikan,” jelas dia.

Ia menjelaskan, perkembangan zaman semakin didepan mata. Malang menuju kota modern, sumber daya manusia dan  penunjang harus dipersiapkan sedari ini dapat memilah dampak yang dimunculkan.

“Kota Malang ini menuju kota modern. Ada dampak negatif dan positif di kemajuan sebuah kota, layaknya sebuah teknologi yang seperti  dua mata pisai yang tajam atau mata koin, ada baik dan buruknya, bagaimana kemudian seorang pemimpin dapat mengendalikannya,” tegas Dekan FISIP UB tersebut.

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Indonesia, Abdul Aziz minta para calon kepala daerah tidak narsistik jika terpilih. “Kepala daerah itu selalu mengklaim kemajuan kotanya, dan keberhasilannya sebagai pemimpin, perlu tinjauan dan koreksi terkait dengan capaian yang telah dilakukan, apakah kemudian ada kemajuan, atau hanya kemajuan di satu sisi sektor saja. Jadi jangan terlebih dahulu narsis akan capaian keberhasilan sebagai pemimpin,” ujarnya

Ia menyebut bahwa ketiga visi dan misi pasangan calon tersebut belum sepenuhnya menyentuh perspektif gender. “Saya sudah baca visi dan misi anda semua. Menurut saya, masih belum tampak ada yang menyentuh perspektif gender dan anak,” jelasnya

Kenapa kemudian menjadi penting perspektif gender dijadikan sebagai salah satu indikator pembangunan. Hal ini penting guna mendukng pemerataan pembangunan masyarakat, agar tidak timpang antar gender. Selain itu, juga menjadi salah satu jalan pemenuhan hak-hak baik perempuan dan anak. “Karena, masih banyak didaerah yang kurang memperhatikan partsipasi pembangunan dan anak dalam pembangunan,” jelas dia.

Visi dan misi yang dibawa nantinya mempengaruhi kebijakan dari perspektif gender, seperti partisipasi perempuan dalam lembaga pemerintahan dan politik. Ia mencontohkan semakin minimnya pejabat perempuan di eselon tinggi Pemkot Malang.

Hal ini menunjukkan belum adanya kemauan politik dalam kebijakan politik berspektif gender oleh kepala daerah. “Bukan masalah tidak bisa, atau tidak ada sumber daya manusia (SDM), tetapi kebijakan politik belum hadir untuk menciptakan kondisi yang seharusnya,” tegas Aziz.

Masing-masing calon pun menanggapi kritik dan masukan dari beberapa pakar. Dari pihak Walikota Malang petahana, M Anton mengatakan hal yang disampaikan para pakar itu sebenarnya sudah ada di 10 program kerja dalam visi dan misinya.

Jika masih belum terlihat dampaknya mungkin bisa ditinjau kembali. Jika memang masih benar kurang maksimal maka pihaknya berjanji melanjutkan program kerja itu jika terpilih kembali. “Pastinya antar akademisi dan pemerintah saling koreksi dan mengingatkan, untuk kebaikan pembangunan Kota Malang,” tanggap Abah Anton.

Sedangkan, Wakil Walikota Malang petahana Sutiaji berjanji akan meneguhkan komitmen dan memperbaiki carut-marutnya kebijakan jika terpilih sebagai walikota.

“Pastinya bukan hanya dari persepektif gender saja ya, namun masih banyak kebijakan-kebijakan yang perlu diperbaiki dan dikaji, pastinya tidak hanya tugas eksekutif, namun sinergitas dan integritas eksekutif dan legislatif juga perlu ditumbuhkan,” tegasnya.

Sementara itu, Nanda menyebut visi dan misinya sudah menyentuh perspektif gender. “Sejauh ini, sudah kami masukan indikator tersebut kami juga akan bergerak dengan KoPPI, WCC dan organisasi keperempuanan yang ada di Kota Malang, untuk membawa dampak yang signifikan pengaruh gender,” jelasnya. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here