Ini Tokoh Islam di Balik Kemerdekaan Myanmar

1
1463
Aung San Suu Kyi ketika menghadiri acara yang memperingati Hari Pahlawan Myanmar di Yangoon, tahun lalu. Ingatkah Suu Kyi ada pemuda Islam yang terbunuh ketika berusaha menyelamatkan ayahnya, Jenderal Aung San, yang tewas dalam tragedi itu?

Nusantara.news, Jakarta – Rabu, 19 Juli silam, sejumlah tokoh lintas agama hadir di rumah Aung San Suu Kyi di Yangon. Di rumah besar yang terletak di University Avenue, di tepi Danau Inya itu, mereka menggelar doa bersama untuk arwah sembilan pahlawan Myanmar.

Doa bersama Hari Pahlawan 2017 di rumah Aung San Suu Kyi di Yangoon, memperingati tewasnya 9 pahlawan nasional, termasuk ayah Suu Kyi, Jenderal Aung San, dan Abdul Razak, tokoh Islam mentor politik Aung San.

Negara itu selalu memperingati tanggal 19 Juli sebagai Hari Pahlawan. Ketika pemerintahan militer dipimpin San Maung, peringatan hari pahlawan ini sempat dilarang, dan baru diizinkan kembali pada tahun 2011.

Tanggal 19 Juli adalah tanggal terbunuhnya sembilan tokoh pejuang kemerdekaan Burma di kantor perdana menteri prakemerdekaan, 19 Juli 1947, atau beberapa bulan sebelum Burma merdeka pada 4 Januari 1948.

Salah satu yang tewas adalah perdana menteri sendiri, Bogyoke Aung San, ayah Aung San Suu Kyi. Bogyoke adalah pangkat tentara kemerdekaan Burma, setingkat mayor jenderal. Dia tewas di usia muda, 37 tahun. Suu Kyi sendiri baru berusia dua tahun ketika itu.

Ikut tewas dalam insiden itu tokoh Islam negeri itu, Abdul Razak. Dia adalah pejuang kemerdekaan yang bahu-membahu dengan Aung San. Warga Burma memanggilnya dengan nama U Razak. “U” adalah sebutan penghormatan bagi tokoh besar. Sama seperti diplomat Burma, Maha Thray Sithu Thant, Sekjen PBB (1961-1971), yang akrab dipanggil U Thant. Sebutan itu kurang lebih seperti “sir’ di Inggris.

U Razak adalah Ketua Burma Muslim Congress (BMC), yang juga menjabat menteri pendidikan dan perencanaan di bawah Aung San. Pada hari Sabtu, 19 Juli 1947 itu, dia sedang rapat di kantor perdana menteri bersama Aung San, lima menteri, dan sekretaris kabinet. Selain Razak, menteri lain adalah Tha Kin Mya, Ba Cho, Mahn Ba Khaing, Ba Win, Sao San Tun dan Ohn Maung.

Tiba-tiba datang serangan dari kelompok militan suruhan bekas Perdana Menteri U Saw yang membunuh mereka semua. U Saw kemudian dihukum mati pada 30 Desember 1947.

Pengawal U Razak, Ko Htwe, yang gagah berani mencoba melindungi Aung San dan U Razak, ikut ditembak mati. Ko Htwe juga seorang Muslim. Kesembilan orang yang tewas itu, kemudian dianugerahi gelar “pahlawan nasional”, yang pengorbanan mereka diperingati setiap tanggal 19 Juli.

Dari sembilan pahlawan nasional tersebut, lima orang di antaranya adalah penganut Buddha, dua orang Islam, seorang Kristen dan seorang lagi Hindu.

Siapa U Razak? Razak lahir di Meiktila, sebuah kota di tepi Danau Meiktila di Wilayah Mandalay, pada 20 Januari 1898. Ayahnya seorang polisi dari etnis Rohingya bernama Abdul Rahman. Ibunya bernama Nyein Hla, dari etnis Burma, etnis terbesar di negeri itu.

Pernikahan beda etnis dan agama ini sangat harmonis. Abdul Rahman tetap beragama Islam, dan istrinya tetap menganut Budha. Di antara anak mereka, hanya U Razak yang memilih agama ayahnya. Sementara saudaranya yang lain mengikuti agama sang bunda.

Sejak mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di Universitas Rangoon, U Razak sudah menjadi aktivis yang menentang penjajahan Inggris. Aktivitas itu terus berlangsung setelah Razak menjadi sarjana. Dunia aktivis itulah yang mempertemukannya dengan aktivis yunior lain, yakni Aung San dan U Nu. Kedua tokoh ini memang mengagumi Razak. Sebab Razak sangat terkenal ketika itu. Dialah yang menggalang aksi mogok pelajar di seluruh negeri untuk memboikot sistem pendidikan Inggris.

Razak memang jauh lebih tua dari Aung San (lahir 1915) dan U Nu (1907). Sehingga aktivis muslim itu bagaikan mentor politik bagi kedua tokoh yang kemudian menjadi perdana menteri tersebut.

Dalam perjalanannya, mereka seperti menjadi tiga serangkai. Tapi, karena menyadari dirinya dari etnis minoritas dan agama minoritas, U Razak lebih mendorong kedua yuniornya itu untuk berada di posisi depan.

Bukti penghormatan Aung San pada U Razak adalah ketika Razak ditahan oleh tentara Jepang bersama sejumlah tokoh nasionalis lain. Aung San merancang operasi pembebasan seniornya itu. Tapi Razak menolak, karena rekan-rekannya sesama pejuang yang ditahan tak bisa ikut dibebaskan. “Saya tak ingin bebas sendirian,” katanya.

Ketika Aung San dan U Nu mendirikan partai AFPFL (Anti-Fascist People’s Freedom League), U Razak juga mendirikan partai Kongres Muslim Burma (Burma Muslim Congress, BMC). Kedua partai ini kemudian berkoalisi. U Razak yang merintis pendirian AFPFL di kampungnya di Mandalay. Razak juga duduk sebagai anggota Dewan Tertinggi AFPFL.

Selain sibuk dengan aktivitas politik kemerdekaan, U Razak adalah tokoh utama yang merintis kerukunan umat beragama di negeri itu. Di Mandalay, yang penduduknya mayoritas Budha, nama Razak sangat dihormati.

Pada peringatan 60 tahun pembunuhannya, 19 Juli 2007, diluncurkan buku berjudul U Razak of Burma: A Teacher, a Leader, a Martyr. Buku ini berisi 10 tulisan U Razak yang berhasil dikumpulkan cucunya, Myat Htoo Razak. Judul buku itu memang menggambarkan posisi Razak sesungguhnya bagi Myanmar.

Buku kumpulan tulisan U Razak yang diterbitkan pada peringatan 60 tahun kematiannya.

“Setiap tulisan tentang Burma dan kaitannya dengan U Razak biasanya orang selalu mengatakan ‘Razak, seorang politisi Muslim,'” kata Myat Htoo. “Itu bukan deskripsi yang salah, tapi itu tidak adil terhadap konstribusi U Razak yang sangat kaya untuk negara kami dan generasi masa depan,” ujar Myat.

Sepeninggal U Razak, Sekjen BMC, U Khin Maung Lat, diangkat sebagai pemimpin. Kematian Razak membawa perubahan pula dalam politik Burma. Perdana Menteri U Nu memutus koalisi AFPFL dengan BMC. U Khin Maung Lat yang menjabat sebagai menteri kehakiman di bawah kabinet U Nu, meninggalkan BMC dan bergabung dengan AFPFL.

U Nu, yang hadir dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, mulai menunjukkan sikap yang anti-Islam. Selama ini sikap tersebut rupanya ditutupinya karena keseganannya pada senioritas U Razak. Pada 1954, dia meminta agar BMC bubar dan bergabung dengan AFPFL.

Sejumlah penolakan muncul dari kalangan BMC, meski akhirnya terpaksa tunduk pada perintah U Nu pada tahun 1956.

Tetapi kalangan yang tidak puas pada kediktatoran U Nu mendirikan kembali BMC versi baru pada akhir tahun 1957. Partai baru ini bergabung dengan National United Front, yang merupakan kelompok oposisi terhadap U Nu. Setelah National United Front kemudian juga berpihak kepada U Nu, seiring perpecahan di tubuh AFPFL, BMC menarik diri dan mengganti nama partainya dengan Partai Umat Islam, atau lebih dikenal dengan nama Partai Pathi. Pathi adalah istilah Burma untuk menyebut umat Islam negeri itu.

Dengan adanya partai ini, mulailah muncul wacana perlunya negara sendiri yang terpisah dari Burma. Gagasan separatisme ini tidak sejalan dengan sikap U Razak. Separatisme sangat dibenci Razak. Bahkan ketika Pakistan memisahkan diri dari India, Razak meminta umat Islam Myanmar agar tidak menunjukkan simpati kepada Pakistan dan mendesak mereka untuk menjadi komunitas yang kuat dan terhormat di Burma.

Makam U Razak yang setiap 19 Juli selalu diziarahi warga Myanmar.

Karena mengusung rencana separatisme, mulailah penindasan politik secara terbuka dilakukan terhadap pemeluk Islam di Burma.

Apalagi pada tahun yang sama U Nu digulingkan oleh Jenderal Ne Win, yang lebih bertangan besi. Ne Win adalah Perdana Menteri Birma (1958- 1974) dan Presiden (1962-1981). Di era Ne Win, nasib umat Islam Myanmar luar biasa mengenaskan.

Tidak saja orang Islam, warga keturunan Cina pun diperlakukan sangat kejam. Mereka dilarang berdagang, atau bahkan praktik dokter sekalipun. Kampus-kampus diberangus. Banyak mahasiswa ditangkapi.

Ketika terjadi demonstrasi besar-besaran dalam gejolak politik menjelang pengunduran dirinya sebagai ketua partai pada 23 Juli 1988, Ne Win mengancam, “Tamtadaw tidak punya kebiasaan menembak ke atas!”.

Maksudnya, Tamtadaw (sebutan untuk tentara Myanmar) akan menembak langsung ke tubuh demonstran. Benar saja, dari akhir Agustus sampai pertengahan September 1988 itu, lebih dari 3.000 orang mati ditembak tentara.

Tradisi junta militer yang bengis itu bertahan hingga kini. Bahkan ketika Aung San Suu Kyi sudah menjadi tokoh berpengaruh di negeri itu. Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) yang dipimpin Suu Kyi menang mutlak dalam pemilu 8 November 2015. NLD meraih lebih darfi 80 persen suara.

Tapi konstitusi baru yang dibuat militer menyatakan, 25 persen dari kursi DPR adalah untuk fraksi tentara. Suu Kyi juga tak bisa jadi presiden, karena konstitusi baru itu menetapkan orang yang mempunyai istri atau suami warganegara asing, dilarang jadi presiden. Suami Suu Kyi, Michael Vaillancourt Aris adalah warganegara Inggris.

Tapi, kalaupun Suu Kyi menjadi presiden, sikapnya terhadap Muslim Myanmar sudah jelas. Dia bertolak belakang dari bapaknya, Aung San. Dia membantah adanya genosida etnis Rohingya di Rakhine. “Ini bukan pembersihan etnis seperti yang kalian istilahkan,” katanya kepada BBC.

Dengan sikap kepala batu Suu Kyi itu, entah apa maknanya doa bersama lintas agama yang diadakan di rumahnya 19 Juli kemarin itu. Mustahil Suu Kyi lupa, kalau pemuda Muslim bernama Ko Htwe, mati tertembak karena ingin melindungi Aung San, ayahnya, ketika diserbu militan pada 19 Juli 1947.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here