Ini yang Harus Dipahami Capres

0
73

PEKAN lalu ada berita kecil yang tak terlalu menjadi perhatian di tengah kebisingan politik menjelang Pemilu ini. Charities Aid Foundation (CAF), sebuah lembaga amal dari Inggris, menerbitkan laporan 2018 World Giving Index yang menempatkan Indonesia di peringkat pertama negara paling dermawan di dunia.

Menurut lembaga itu, ada tiga perilaku untuk mengukur kedermawanan, yakni menyumbangkan uang, membantu orang asing, dan menjadi sukarelawan. Dalam hal menyumbangkan uang, persentase orang Indonesia yang melakukannya mencapai 78%. Lalu 46% orang Indonesia ringan tangan membantu orang asing. Dan, 53% orang Indonesia berpartisipasi menjadi sukarelawan.

Entah bagaimana metodologi survei yang dilakukan.Tapi karena pelaksana surveinya adalah Gallup Internasional, sebuah lembaga polling yang sangat kredibel dan tertua di dunia –didirikan pada 1947 oleh ahli statistik sosial Dr. George H. Gallup—rasanya laporan CAF tersebut sangat dapat dipertanggungjawabkan akurasinya.

Tentunya kita boleh berbangga disebut sebagai negara paling dermawan. Dan itu tentu sangat bernilai, karena dilakukan oleh negara yang rakyatnya masih berkutat dengan masalah peningkatan kesejahteraan.

Bisa jadi memang beralasan sebutan tersebut. Lihat saja, setiap ada bencana, orang Indonesia serentak bergerak. Sumbangan barang, uang atau tenaga datang seketika, baik yang diorganisasi oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau oleh negara. Rekening-rekening sumbangan sosial yang dikelola oleh berbagai pihak selalu berhasil mengumpulkan dana dalam jumlah besar.

Artinya, inilah kekayaan kita sebagai bangsa. Idiom-idiom kearifan lokal seperti “torang samua basudara” di Manado, “weak hano lapukogo” (susah senang sama-sama) di Wamena, “manyama braya” (semua bersaudara) di Bali, atau mangan ora mangan yen ngumpul (makan tidak makan kumpul) bagi suku Jawa, dan istilah serupa di berbagai daerah, ada simbolisasi kesetiakawanan masyarakat Indonesia.

Itu adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, identitas itu mesti disadari sebagai fakta yang melekat pada diri bangsa ini. Sebab, salah satu hal yang sangat mendasar dalam sebuah bangsa adalah kesadaran tentang identitas, baik identitas diri atau bangsa.

Para calon pemimpin yang berpacu di pemilu nanti mesti punya sedikit kesadaran untuk menempatkan cerlang budaya ini dalam menata negara. Banyak yang harus diluruskan. Misalnya tentang musyawarah. MPR pernah melalukan survei yang menyebutkan 96% respondennya mengatakan praktek musyawarah sudah melemah. Padahal, kearifan masyarakat kita adalah musyawarah untuk mencapai mufakat. Cerlang budaya kita tidak mengenal voting atau prinsip one man one vote.

Memudarnya musyawarah inilah yang harus diperhatikan oleh pemimpin yang terpilih pada pemilu nanti. Musyawarah tidak hanya local genious, tapi juga sila keempat Pancasila. Pelaksanaannya harus dievaluasi.

Berbeda dengan sila keadilan sosial yang pelaksanaan dan pencapaiannya bisa dikuantifikasi, sila tentang musyawarah tidak bisa diukur secara kuantitatif. Karena keadilan sosial itu soal target, sementara musyawarah itu menyangkut cara.

Musyawarah untuk mencapai mufakat itu adalah wujud paling jelas dari prinsip permusyawaratan perwakilan yang dikandung Pancasila. Itulah mekanisme pengambilan keputusan secara demokratis yang bersumber dari cerlang budaya Indonesia. Demokrasi Indonesia, ya, musyawarah. Keputusan tertinggi, ya, kesepakatan.

Tetapi, semenjak reformasi 20 tahun lalu, negara ini secara sengaja mematikan prinsip musyarawah untuk mencapai mufakat itu. Kenapa? Karena kita memandang takjub pada sesuatu yang berbau Barat. Ketakjuban ini bersumber dari mental inferior sebagai bangsa.

Kita tidak perlu memperdebatkan mana yang lebih baik antara demokrasi one man one vote dengan musyawarah-mufakat, tetapi yang kita prihatinkan adalah mental kerdil tadi. Inilah persoalan terbesar bangsa kita. Akibatnya kita memandang dunia luar sebagai superior.

Sehebat apa pun identitas suatu bangsa, tetapi kalau anak bangsa itu dihinggapi inferioritas mental yang akut, mustahil bangsa itu bisa berdiri dengan kepala tegak di hadapan bangsa lain. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sudah memberikan sistematika yang jelas: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Tak ada gunanya membangun badan jika jiwa bangsa ini tetap kerdil.

Adakah kenyataan ini terlihat oleh para calon pemimpin yang tengah berebut tahta itu? Kita tak terlalu berharap, apalagi melihat rendahnya kualitas wacana yang berkembang di seputar mereka.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here