Ini yang Terjadi Jika Pecah Perang AS – Korea Utara

1
15547

Nusantara.news – Pernyataan pemerintah Korea Utara ‘siap perang’ dengan Amerika Serikat terbilang “nekat”. Meskipun bukan kali ini saja pernyataan itu keluar. Sudah berkali-kali Korea Utara diperingatkan AS untuk menghentikan program nuklirnya. Tapi berkali-kali pula negeri komunis itu mempropagandakan kemajuan program nuklirnya.

Masalahnya, saat ini AS dipimpin Presiden Donald Trump yang juga dikenal “gila”, kasus serangan ke Suriah contohnya, hanya membutuhkan pertimbangan kurang dari dua hari sejak insiden penyerangan warga sipil oleh rezim pemerintah Suriah yang dituding menggunakan gas sarin. Bahkan tanpa konsultasi lebih dulu dengan Kongres AS sebagaimana lazimnya.

Konon, keputusan Trump menyerang Suriah salah satunya dipicu sikap anak perempuannya, Ivanka Trump, yang sedih begitu dalam melihat tayangan foto-foto korban gas sarin yang sebagiannya merupakan anak-anak.

Dalam kasus Korea Utara, belakangan Trump tampak sudah kehilangan kesabaran. Ini tentu yang dikhawatirkan banyak negara, sebab jika “gila” ketemu “nekat”, perang di Semenanjung Korea tampaknya hanya tinggal menunggu waktu saja. Grup kapal penyerang, termasuk kapal induk USS Carl Vinson sudah digerakkan ke Semenanjung Korea sejak Sabtu (8/4).

Lalu, apa kira-kira yang bakal terjadi, jika Perang Korea antara AS dan Korea Utara itu benar-benar meletus?

Sulit memprediksi mana duluan yang bakal menyerang. Secara teknis, AS atau Korea Utara sama-sama memiliki kemungkinan melakukan serangan lebih dulu tanpa peringatan apapun.

Piagam PBB pasal 51 menyebut, bahwa penyerangan terhadap suatu negara dapat dilakukan dalam rangka membela diri. Tapi apa pedulinya Korea Utara dengan PBB. Sudah beragam sanksi PBB dijatuhkan untuk negeri yang terkenal tertutup itu.

Sanksi PBB terhadap Korea Utara sejak 2013:

  • Maret 2013 sanksi dikenakan setelah uji coba nuklir Korea Utara 2013
  • Maret 2016 sanksi lebih lanjut dikenakan termasuk pemeriksaan semua kargo dari dan menuju Korea Utara, larangan semua perdagangan senjata dengan negara lain, pembatasan tambahan impor barang mewah bagi Korea Utara, dan pengusiran diplomat Korea Utara yang dicurigai melakukan kegiatan terlarang
  • November 2016 Dewan Keamanan PBB memperkuat sanksi untuk menanggapi uji coba nuklir bulan September 2016

Jika Korea Utara memulai serangan, menurut prediksi situs militer AS The Mighty mungkin bisa menyebabkan kerusakan awal yang signifikan di pihak AS.

Mengutip pensiunan jenderal James Marks, sebagaimana dilansir metro.co.uk diperkirakan Pyongyang bakal memenangkan pertarungan awal paling maksimal selama empat hari.

Korea Utara tidak mungkin menyerang wilayah zona demiliterisasi (DMZ) yang ada di antara Korea Selatan (sekutu AS) dan Korea Utara.

Namun militer Korea Utara kemungkinan lebih suka menyerang dengan artileri dan roket dari wilayah di lereng utara gunung Og yang tinggal menyeberang ke perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Sekitar 10 ribu roket mungkin bisa menargetkan ibukota Korea Selatan Seoul yang jaraknya sekitar 35 mil atau 56 kilometer lebih. Namun posisi artileri akan kesulitan karena anti-aircraft guns akan terlebih dulu menghalau mereka.

Korea Utara juga bisa menyerang dengan pasukan angkatan darat yang diangkut menggunakan kapal selam, serta bisa juga memobilisasi ribuan sleeper agents (tentara tidur) yang selama ini sudah berada di wilayah Korea Selatan.

Walaupun Korea Utara memiliki tentara yang lebih besar (3,5 juta – 5 juta) ketimbang negara tetangganya Korea Selatan yang merupakan sekutu AS namun dengan PDB 50 kali lebih kecil, anggaran Korea Utara dalam pertahanan dan teknologi militer pasti jauh lebih sedikit.

Akibatnya, banyak ahli percaya Korea Utara akan menggunakan cara-cara militer konvensional seperti penggunaan senjata kimia atau senjata nuklir.

Sementara, AS akan segera mengerahkan kekuatan serangan militer dari udara, AS akan menggempur pasukan artileri Korea Utara dengan rudal yang lebih canggih, dan dapat dipasikan tentara Korea Utara akan kocar-kacir.

Serangan udara juga akan memotong rute pasokan utama dari militer Korea Utara sekaligus menutup situs-situs yang dicurigai sebagai penyimpan senjata nuklir.

Namun, akan berbeda ceritanya jika nuklir Korea Utara benar-benar diluncurkan.

Apa yang bakal terjadi jika Korea Utara mengeluarkan senjata nuklirnya?

Meski Korea Utara selama ini mengklaim bahwa pengembangan nuklir bertujuan untuk memajukan program luar angkasa, tapi secara luas diyakini Rezim Kim Jong-un tengah mengembangkan senjata nuklir.

Korea Utara diperkirakan sudah memiliki hulu ledak nuklir, tetapi jumlahnya diperkirakan tidak lebih dari 10. Pada bulan Maret 2016, Kim Jong-Un mengumumkan bahwa negaranya telah mengembangkan hulu ledak nuklir yang cukup kecil dan cukup untuk dibawa oleh sebuah rudal.

Dalam hal peluncuran roket, sulit menebak sejauh mana kemampuan yang dimiliki Pyongyang saat ini. Misalnya, Korea Utara telah menunjukkan bahwa mereka bisa menembakkan rudal balistik antar-benua ke ruang angkasa, tapi peluncuran roket berhulu ledak tentu saja tidak semudah itu.

Adapun mengenai target, beberapa tahun yang lalu, dari sejumlah laporan yang dianalisis pihak militer AS terlihat peta di latar belakang foto propaganda nuklir Korea Utara yang tampaknya menunjukkan wilayah San Diego, Washington D.C, Hawaii dan Austin sebagai target utama. Tapi apakah Korea Utara sudah mampu membuat rudal yang mencapai wilayah tersebut, para ahli meyakini kemungkinannya sangat tipis. Tapi jika roket berhulu ledak itu ada, dan bisa menjangkau AS, Washington DC misalnya, itu tentu saja bencana besar bagi Amerika. Bangunan di radius 5 kilometer akan runtuh seketika, korban tewas maupun luka-luka bakal meluas di seantero Washington.

Sebaliknya, apakah AS juga akan meluncurkan senjata nuklir ke Korea Utara? Semua jawaban ada di tangan Presiden Trump. Tapi banyak yang mengatakan itu tidak mungkin.

“Saya pikir itu sangat tidak mungkin karena jumlah senjata yang dimiliki Korea Utara sangat terbatas, dan ukuran Semenanjung Korea sangat kecil. Implikasi dari menjatuhkan senjata nuklir di Semenanjung Korea sangat besar, terutama untuk rekonstruksi jangka panjang, juga merugikan bagi Korea Selatan yang pasti terkena dampaknya,” kata Rodger Baker, analis Korea Utara di perusahaan intelijen militer berbasis di Austin Texas, Stratfor sebagaimana dikutip Vice.com.

Perang AS – Korea Utara diperkirakan bakal melibatkan negara-negara di sekitar kawasan. Di pihak AS, ada Korea Selatan, musuh bebuyutan Korea Utara, dan juga Jepang. Korea Utara juga mungkin secara tidak langsung akan dibantu Cina, atau bisa juga oleh Rusia.

Menurut studi Rand Corporation jika perang terjadi dan Korea Utara mengalami kekalahan maka  konsekuensinya akan sangat serius, dan berpotensi menghabisakan biaya triliunan dolar untuk memulihkannya. Misalnya untuk memberikan bantuan kemanusiaan, menghentikan konflik, demiliterisasi dan keamanan layanan, membebaskan tahanan politik, dan lain-lain.

Tentu saja, lebih baik perang dicegah agar tidak menimbulkan lebih banyak korban jiwa. Peran Cina sebagai sekutu Utama Korea Utara sangat ditunggu. Dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Rabu (12/4), Presiden Cina Xi Jinpin menyerukan resolusi damai untuk ketegangan di Semenanjung Korea.

Menurut pernyataan dari Departemen Luar Negeri (Deplu) Cina, Presiden Xi menegaskan bahwa Cina ingin agar semenanjung Korea tanpa senjata nuklir dan menyerukan perdamaian serta stabilitas.

“Cina mendukung untuk mengatasi masalah tersebut melalui cara-cara damai, dan bersedia untuk menjaga komunikasi dan koordinasi dengan AS pada masalah Semenanjung Korea,” demikian pernyataan itu mengutip Presiden Cina Xi Jinping. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here