Inilah 5 Dosa Dirut Pertamina Sehingga Dipecat

0
787
Karir Dirut Pertamina (Persero) Elia Massa Manik hanya 1 tahun, 1 bulan, 4 hari.

Nusantara.news, Jakarta – Sebanyak 5 dari 9 direksi PT Pertamina (Persero) tiba-tiba dicopot oleh Menteri BUMN Rini Mariani Soemarmo. Tidak ada penjelasan spesifisik mengapa ke-5 direksi Pertamina itu diganti, sehingga menimbulkan banyak spekulasi di publik.

Menteri BUMN selaku kuasa Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Perseroan Pertamina menetapkan Nicke Widyawati sebagai Plt (Pelaksana Tugas) Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) merangkap Direktur SDM. Nicke menggantikan Dirut sebelumnya Elia Massa Manik.

Keputusan tersebut tertuang dalam Salinan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor : SK-97/MBU/ 04/2018, tanggal 20 April 2018, tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT Pertamina.

RUPSLB yang digelar hari ini, Jumat (20/4), juga menetapkan enam nama Direksi Baru, yakni Budi Santoso Syarif sebagai Direktur Pengolahan, Basuki Trikora Putra sebagai Direktur Pemasaran Korporat, Mas’ud Khamid sebagai Direktur Pemasaran Retail Pertamina, M. Haryo Yunianto sebagai Direktur Manajemen Aset, Heru Setiawan sebagai Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia dan Gandhi Sriwidodo sebagai Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur.

SK-97 juga memberhentikan dengan hormat Muchammad Iskandar selaku Direktur Pemasaran Korporat, Toharso Direktur Pengolahan, Dwi Wahyu Daryoto selaku Direktur Manajemen Aset dan Ardhy N. Mokobombang yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia.

Dengan demikian susunan Direksi Pertamina adalah sebagai berikut:

Jajaran Direksi Pertamina yang baru hasil RUPS 20 April 2018.

5 Dugaan penyebab

Jika melihat kurun waktu, Elia Massa Manik yang baru dilantik 16 Maret 2017, praktis hingga saat diganti baru menjabat 1 tahun, 1 bulan, 4 hari. Ditambah pula tidak ada penjelasan spesifik alasan mengapa mereka dipecat. Tentu saja banyak spekulasi yang berkembang di publik dan di internal Pertamina. Ada apakah gerangan?

Berdasarkan komunikasi yang berkembang dengan para pejabat dan mantan pejabat di Pertamina, ada 5 dugaan yang menjadi penyebab dicopotnya Elia Massa Manik.

Pertama, terkait patahnya pipa di Terminal Pertamina Lawe-Lawe, Balikpapan yang menyebabkan tumpahan minyak mentah telah mencemari lingkungan laut, pantai dan hutan seluas 20.000 hektare. Dalam musibah ini Elia Massa Manik ditengarai tak berbuat apa-apa.

“Minyak tumpah salah satu alasan mengapa Pak Elia dipecat, dan dia nggak melakukan action apa-apa,” ujar satu sumber di Pertamina.

Kedua, soal langkanya bahan bakar minyak jenis premium di sejumlah pompa bensin sehingga masyarakat sulit menemukan BBM bersubsidi tersebut. Pada saat yang sama Presiden Jokowi berulang kali minta premium tetap diadakan kendati harga minyak sudah naik hingga US$67 per barel.

Memang siapapun di posisi Dirut Pertamina kebingungan, kalau tetap dijual di masyarakat membuat beban penugasan itu berdampak minus pada kinerja keuangan. Tahuni ini dianggarkan kerugian akibat menjual premium mencapai Rp18 triliun, memang akan ditanggung APBN, namun pembayarannya lama dan berbelit-belit.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo mewajibkan pasokan premium harus tetap dengan harga Rp 6.500/liter. Namun, sejalan dengan itu Pertamina mengungkapkan bahwa perusahaa berpotensi rugi hingga sebanyak Rp3,9 triliun pada Februari 2018 akibat menahan harga bensin premium dan solar.

Selain itu, pasokan premium juga diketahui menjadi langka di sejumlah daerah hingga Presiden Jokowi juga memerintahkan agar Pertamina agar pasokan premium tetap terjaga di Jawa dan Bali serta seluruh wilayah RI.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan juga angkat bicara terkait potensi kerugian yang diungkap Pertamina. Dia mengatakan pemerintah sudah memperhitungkan baik-baik soal kesehatan keuangan BUMN, di antaranya dengan memberikan hak pengelolaan beberapa blok migas kepada Pertamina.

“Pertama Blok Mahakam, itu tambahan pendapatan bersihnya saja setahun Rp8 triliun. Lalu, dikasih lagi delapan blok, bisa tambah Rp2 triliun, jadi setahun bisa dapat Rp10 triliun, dan itu dikasih selama 20 tahun,” kata Jonan.

Bahkan dengan adanya kelangkaan presmium, Jonan mengancam Dirut Pertamina yang dianggap tidak becus dalam menyalurkan BBM jenis premium, terutama di luar Jamali (Jawa, Madura, Bali).

“Nah betul (langka di SPBU), kami sudah tegur Pertamina bahwa Pertamina harus tetap menyalurkan premium,” ucap Jonan.

Ketiga, sekarang sedang dalam proses holdingisasi migas, dimana isu paling keras adalah penggabungan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk dengan anak Pertamina, yakni PT Pertagas. Posisi Elia disebut-sebut kurang support terhadap finalisasi proses holdingisasi migas tersebut.

Keempat, pada 2017 Pertamina hanya membukukan laba bersih sebesar US$2,4 miliar (ekuivalen Rp36,4 triliun) atau turun 23% dibandingkan tahun 2016 sebesar US$3,15 miliar (ekuivalen Rp42 triliun) pada 2016. Padahal pendapatan Pertamina pada 2017 naik 17% menjadi US$42,86 miliar.

“Bayangkan, Pak Dwi Soetjipto yang berhasil mengatrol laba bersih lebih dari 100% dari Rp19 triliun menjadi Rp42 triliun bisa dipecat. Apalagi yang menyebabkan laba bersih turun menjadi Rp36,4 triliun. Jadi memang jabatan Dirut Pertamina di tahun politik ini benar-benar jabatan ‘kursi panas’,” ungkap pejabat Pertamina di level menengah.

Kelima, kepemimpinan Elia Massa Manik dinilai agak kasar, kalau marah bahkan bisa keluar sebutan penghuni kebun binatang. Maklum Elia berasal dari Batak Karo yang terkenal bicara keras, lantang dan tanpa tedeng aling-aling. Tapi sebenarnya tujuan Elia baik, yakni mengoreksi kerjaan bawahan yang kurang baik.

“Sejak di Elnusa Pak Elia memang begitu, kalau marah bisa keluar isi kebun binatang. Kalau yang nggak biasa kesannya memang kasar, tapi tujuannya mungkin baik,” jelas sumber di Pertamina.

Manakah yang paling mendekati atau paling akurat menyebabkan Elia Massa Manik dan kawan-kawan dipecat dari jajaran Direksi Pertamina? Wallahu a’lam, hanya Allah saja yang tahu![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here