Inilah Cerita ‘Wong Cilik’ Soal Gubernur Jakarta Pilihan

0
106

Nusantara.news, Jakarta – Hari itu sebenarnya biasa-biasa saja. Matahari membakar ubun-ubun.  Sementara ruang Stasiun Stasiun Cawang, Jakarta Timur tidak hanya digemeretakkan oleh rangkaian gerbong kereta tua yang melintas, tetapi sesekali dibisingkan oleh raungan sepeda motor yang terjebak macet di luar peron. Maklum saja, di sepanjang bahu jalan dua arah yang sempit itu, sejumlah angkutan umum serta ojek motor menunggu dan berebut penumpang hingga merangsek ke pintu keluar-masuk peron. Seluruhnya bising.

Udara yang tidak bersahabat membuat seisi stasiun, enggan bergerak. Sementara itu, di ujung terowongan dekat stasiun, lima orang berpakaian lusuh tengah merebahkan diri. Di antara lima orang itu, Romi (6 tahun) dan adiknya Susi (4 tahun), memilih terjaga. Romi berlari-lari kecil melambaikan bendera setengah koyak bergambar “pohon beringin” yang diikat pada sapu lidi. Entah dari mana anak itu mendapatkan bendera tersebut.

Adiknya, mengawasi sang kakak sambil mengunyah makanan ringan sejenis chiki. Sesekali ia membershkan lubang hidung dengan jari telunjuknya yang mungil.

Sepotong kehidupan jalanan yang macet dan bising, sepasang bocah pinggiran, dan kota yang hendak menggelar hajatan pilgub putara kedua, 19 April 2017, cerita apakah yang bisa digali darinya?

Kisah itu datang dari Marzuki (50 tahun), yang duduk di pinggir pembatas jalan tak jauh dari kedua bocah itu. Lelaki asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang sudah ber-KTP DKI ini adalah ayahnya Romi dan Susi. “Saya orang terbuang. Tapi pas pemilihan gubernur kemarin (putaran pertama-red), saya sengaja enggak nyoblos meskipun punya kartu suara. Buat apa? Mereka yang di atas bisanya cuman janji-janji bohong,” ujar pria bertubuh dekil ini lirih sambil membuka topi kumal dan meletakkannya di lutut. Warsih, sang istri, duduk persis di sampingnya dengan bayi sekitar satu tahun di pangkuan.

Kendatipun begitu, bukan tanpa alasan Marzuki menatap pilgub nanti dengan sebuah harapan kecil, mendapat lapangan kerja dan pendidikan untuk ketiga anaknya.  Menurut pengakuannya, pekerjaannya sehari-hari adalah mengumpulkan barang-barang bekas dengan gerobak. Orang menyebutnya “manusia gerobak”.

Lain halnya dengan Marzuki, di jalur pedagang kaki lima (PKL) pinggir kali di daerah Daan Mogot, Jakarta Barat, Sumiati (39) dan anak perempuannya yang biasa menjajakan singkong keju, mengaku mencoblos partai yang ada hubungannya dengan Soekarno. “Kemarin saya pilih Ahok karena didukung partainya Ibu Megawati (PDI-P), anaknya Soekarno,’’ ujar peremuan yang bedaknya terlihat menor.

Namun, untuk putaran dua nanti, Sumiati yang mengaku kecewa dengan Ahok karena sering menggusur PKL, akan beralih memilih Anies. “Saya takut kalau Ahok menang, dagangan saya digusur. Saya jualan di sini kan belum lama, baru sebulanan,” tambahnya.

Tak berbeda dengan Sumiati, Warsinah (42), yang sehari-hari luntang lantung sebagai peminta-minta dan biasa mangkal sehabis sholat Jumat di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, bersimpati dengan pasangan Anies-Sandi. “Orangnya kan baru, jadi belum pernah bohong. Anies dan Sandi cocok mimpin Jakarta, mereka orang baik,’’ ujar perempuan paruh baya ini.

Tapi apa boleh buat, perempuan yang mengagumi Partai Keadilan Sejahera (PKS) ini belum terdaftar sebagai pemilih. Meski demikian, keponakan dan suaminya sepakat memilih pasangan nomor urut 3 sebagai gubernur-wakil gubernur yang baru.

Sementara itu, Ridwan (19 tahun), yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas kebersihan di Unversitas Bakrie, Jakarta Selatan, mengaku akan menjatuhkan pilihannya pada kandidat yang diusung oleh Partai Gerindra dan PKS. “Saya putaran satu pilih Anies-Sandi, insya Allah putaran kedua juga pilih Anies-Sandi,’’ ujar pemuda yang telah terdaftar sebagai pemilih di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Ridwan, sore itu tengah melepas lelah di beranda Satadion Gelanggan Mahasiswa Soemantri Brojonegoro, tak jauh dari kampus tempatnya bekerja. Sambil menghisap-lepas asap rokoknya ke udara. Kata-kata pria asli Betawi ini mengalir lancar dari Sesekali dikibaskannya lalat yang hilir mudik di sekelilingnya. Maklum persis di sisi kanannya, ada bekas makanan sisa yang membusuk.

Taufik (26), warga Kepulauan Seribu yang menjadi tukang parkir minimarket di bilangan Semper, Jakarta Utara, saat berbincang dengan Nusantara.News, mantap memilih pasangan nomor urut dua. “Sehari sebelum pencoblosan 19 April, saya mau pulang dulu karena mau nyoblos. Saya pilih Ahok, dia itu berani dan kerjanya bagus’’ ucapnya sejurus kemudian.

Taufik menjentikkan abu rokok ke aspak hijau di ujung meja kecil, “singasana” tempat ia menjaga kendaraan pelanggan toko. Sambil menatap, pria lulusan SMA ini balik bertanya. “Abang sendiri pilih siapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Saya bukan warga Jakarta, jadi tidak punya hak pilih.”

Di lain tempat, Lubis (44) yang bekerja sebagai sopir Metromini jurusan Senen-Rawamangun yang ditemui di Jalan Letjen Suprapto Cempaka Putih, Jakarta Pusat, mengaku telah mencoblos pasangan yang mengusung tagline “Maju Kotanya, Bahagia Warganya” pada pilgub putaran pertama, 15 Februari lalu. Untuk putaran kedua nanti, ia akan memilih pasangan mana saja asalkan ada uangnya.

“Pemilu sama saja kok, siapa yang menang nggak akan ngurusin kita. Jadi, siapa yang kasih duit itu yang saya coblos,’ kata laki-laki asal Medan yang logatnya khas ini.

Lagi pula, katanya, setiap pemilu (pilkada) hanya bisa memberi janji. “Kayak partainya ini,” katanya sambil menarik kaos merahnya yang bergambar foto perempuan berkonde dan dagunya bertahi lalat.

Kesusahan riil memang tumbuh di pingiran. Masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan Jakarta, paling nyata dirasakan ‘wong cilik’ kebanyakan. Namun, apakah cerita semacam ini bergema di kantor-kantor partai politik dan rumah pemenangan pasangan calon, yang kini tengah memburu suara warga masyarakat.

Yang jelas, para ‘wong cilik’ mengingkan perubahan. Pilkada atau seremoni demokrasi di Jakarta yang amat melelahkan ini, harus dibayar dengan pemimpin yang benar-benar mencitai rakyatnya. Jakarta bukan sekadar untuk segelintir elite kaya raya, apalagi menghamba pada pemilik modal. Tanggal 19 April nanti, pilihlah pemimpin Jakarta yang mampu membawa kesejahteraan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here