Inilah Hari-Hari Menjelang 10 November 1945 (Bagian 1)

1
506
Resolusi Jihad semakin meneguhkan tekad arek-arek Surabaya untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945

Nusantara.news, Jakarta – Hari ini 72 tahun yang lalu, arek-arek Surabaya dan sekitarnya membuktikan kecintaannya kepada tanah air, negara dan bangsa Indonesia. Dengan senjata seadanya mereka hadang pasukan sekutu yang bersenjata lengkap dan terlatih. Peristiwa itu tidak mungkin terjadi tanpa dilatar-belakangi peristiwa sebelumnya. Tepatnya saat ulama se-Jawa dan Madura berkumpul menyerukan Resolusi Jihad.

Para Kyai Nahdlatul Ulama yang terlibat Resolusi Jifad

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 bermula saat sehari sebelumnya para konsul Nahdlatul Ulama se-Jawa dan Madura berkumpul di kantor PB Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya. Kala itu KH Hasyim Asy’ari dalam rapat yang dipimpin KH Abdul Wahab Hasbullah memberikan tausyiah tentang kewajiban umat Islam berjihad mempertahankan tanah air dan bangsanya.

Text Resolusi Jihad

Tausyiah itu selanjutnya dijadikan pedoman dalam menyusun seruan kepada seluruh umat Islam bernama “Resolusi Jihad Fij Sabilillah” berisi pernyatan sebagai berikut :

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Dalam tempo sekejap seruan itu telah menyebar dari masjid ke masjid, mushola ke mushola, se-Jawa Timur. Arek-arek Surabaya yang sebelumnya sudah bergerak melucuti senjata Jepang bertambah semangat dengan adanya resolusi itu. Ulama, warga masyarakat, dan lascar-laskar bersatu dalam tekad yang kuat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Munculnya Resolusi itu sendiri berangkat dari keinginan kuat warga Surabaya menolak kembalinya Belanda ke Indonesia. Sebelumnya, 15 September 1945 tentara Inggris sudah mendarat di Jakarta. Beredar pula kabar tentara Inggris sudah bergerak ke Surabaya. Presiden Soekarno pun mengirin utusan ke Pesantren Tebuireng menemui KH Hasyim Asy’ari untuk mengantisipasi kehadiran tentara sekutu di Jawa Timur.

Pidato Bung Tomo

Menyambut seruan Resolusi Jihad, Bung Tomo pun yang sudah tahu Inggris akan mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945, sejak sehari sebelumnya membakar semangat arek-arek Surabaya lewat pidatonya di radio. Berikut ini transkrip pidato Bung Tomo :

“Kita ekstrimis dan rakyat, sekarang tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui! Kita akan menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita! Kalau kita tidak diberi Kemerdekaan sepenuhnya, kita akan menghancurkan gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit yang kita miliki, dan kita akan memberikan tanda revolusi, merobek usus setiap makhluk hidup yang berusaha menjajah kita kembali!

“Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstrimis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

HMS Baverlay yang sandar di Surabaya

Maka arek-arek Surabaya pun terbakar semangatnya saat mendengar kabar kapal perang Inggris HMS Waverley bersandar di dermaga Modderlust, Surabaya, pada 25 Oktober 1945. Sebelum menurunkan pasukan mereka kirim utusan Captain McDonnald dan Pembantu Letnan Gordon Smith menemui Gubernur Surya.

Sebab sehari sebelumnya Inggris sudah mengirim utusan Kolonel Carwood dan berunding dengan Tentara Kemanan Rakyat dan Laskar (TKRL) yang diwakili oleh Oemar Said, J Soelamet, Hermawan dan Nizam Zachman, namun gagal mencapai kesepakatan. TKRL menolak semua permintaan Sekutu.

Militansi Drg Moestopo  

Selain Bung Tomo, pernyataan Drg Moestopo selaku Menteri Pertahanan RI pada malam 24 Oktoberm tepatnya pukul 20.00 WIB yang tegas menolak kedatangan sekutu, turut menguatkan tekad perwakilan TKRL yang berunding dengan utusan sekutu.

Kala itu Moestopo tegas mengatakan, kehadiran sekutu yang bergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) sudah diboncengi oleh pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Sebab selain melucuti dan memulangkan tentara Jepang, tentara Inggris ternyata juga mengemban misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda.

Sekutu yang dari laporan intelijennya mengetahui bahwa Drg Moestopo adalah seorang dokter gigi yang aktif sebagai perwira PETA, membalas pidato lewat pemancar radio dari kapal yang isinya,”We don’t take any order from anybody, we don’t have the command of a dental surgeon!” Jawaban Inggris yang bernada humor itu, menunjukkanInggris tidak sedikit pun memiliki bayangan akan menghadapi pertempuran besar di Surabaya.

Sikap Moestopo yang militan itu mencemaskan pemerintahan di Jakarta. Maka diutuslah Soedarpo, Kasman Singodimedjo dan Sartono supaya Moestopo membiarkan sekutu melakukan tugasnya. Tapi perintah dari Jakarta itu tidak digubrisnya. Sikap Moestopo melunak setelah ditelepon Presiden Soekarno untuk tidak menembak tentara sekutu.[] (Bersambung)

Catatan : Disarikan dari tulisan Agus Sunyoto

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here