Inilah Hari-Hari Menjelang 10 November 1945 (Bagian 2)

0
358
Pasukan Inggris bersenjata lengkap dengan tank memasuki Kota Surabaya yang akhirnya mendapatkan perlawanan sporadis dari warga

Nusantara.news, Jakarta – Hari ini 72 tahun yang lalu, arek-arek Surabaya dan sekitarnya membuktikan kecintaannya kepada tanah air, negara dan bangsa Indonesia. Dengan senjata seadanya mereka hadang pasukan sekutu yang bersenjata lengkap dan terlatih. Peristiwa itu tidak mungkin terjadi tanpa dilatar-belakangi peristiwa sebelumnya. Tepatnya saat ulama se-Jawa dan Madura berkumpul menyerukan Resolusi Jihad.

Setelah pada tulisan sebelumnya mengupas peran Resolusi Jihad yang langsung digerakkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asyári dan pidato Bung Tomo, serta militansi Drg Moestopo berikut ini serangkaian kisah dan sejumlah tokohnya hingga meletusnya pertempuran 10 November 1945.

Ternyata di saat Mac Donald bertemu Gubernur yang mengajaknya berkeliling melihat tawanan Jepang di Penjara Kalisosok, sekutu memanfaatkannya dengan menurunkan pasukan. Kejadian itu ditentang arek-arek Surabaya yang sudah berkumpul di pelabuhan. Maka disepakati pasukan sekutu hanya dibolehkan mendarat 800 meter dari garis pantai. Pasukan yang diturunkan sekutu sekitar 2800 personil yang berasal dari Brigade ke-49 Mahratta yang beranggotakan pasukan asal India.

Setelah pasukan sekutu mendarat, pagi hari tanggal 26 Oktober 1945 diselenggarakan perundingan antara RI dan Sekutu. RI diwakili oleh Wakil Gubernur Soedirman, Ketua KNI Doel Arnowo, Walikota Radjamin Nasution, dan wakil Drg Moestopo, Jenderal Mayor Muhammad. Dari pihak sekutu langsung dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby dan staf. Hasil perundingan, pasukan sekutu dalam menjalankan tugas evakuasi tawanan Jepang dan interniran Belanda diperbolehkan menggunakan beberapa bangunan di dalam kota.

Sekutu Ingkar Janji

Sekutu akhirnya bermarkas di Jl Kajoon. Tapi di masrkasnya ternyata mereka membangun membangun pos-pos pertahanan sejak kawasan pantai hingga ke bagian tengah dan selatan kota. Di antara pos-pos pertahanan Sekutu yang diperkuat senapan mesin adalah yang di Benteng Miring, gedung sekolah al-Irsyad di Ampel, gedung Internatio, pabrik Palmboom, gedung Lindeteves, gedung Onderlingblang, jalan Gemblongan, sekolah HBS (SMA Kompleks Wijayakusuma-pen), Rumah Sakit Darmo, Gubeng, Dinoyo, pabrik Colibri, gudang BAT, Wonokromo, Don Bosco, dll.

Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai cikal bakal TNI yang terlibat pertempuran besar di Surabaya

Maka Kolonel Jono Sewojo pun menegur Mallaby. Tapi Mallaby bersikukuh dengan keputusannya. Kolonel Jono Sewojo dengan marah berdiri menunjuk muka Mallaby sambil berkata,”I remind you. If you shoot me, I shoot you back!”

Tindakan sekutu itu juga memicu kemarahan para santri. Tanggal 26 Oktober sekitar pukul 16.00 sore ratusan santri bersenjatakan clurit dan bambu runcing mengepung  pertahanan sekutu di di Benteng Miring, sebelah utara gedung sekolah Al-Irsyad. Saat ratusan santri memasuki areal lapangan sekolah, pasukan sekutu pun menembaki mereka. Puluhan santri gugur bersimbah darah.

Di saat yang bersamaan, diam-diam pasukan elite sekutu yang dipimpin Kapten Shaw menerobos masuk Raineer Boulevard yang dikuasai oleh TKR. Di tempat itu TKR menahan Kapten Huijer, Kapten Groom dan Mayor Finley yang tertangkap di Kertosono. Terjadi tembak-menembak antara pasukan Sekutu dan TKR. Warga Surabaya pun turun tangan. Truk dan jep yang mengangkit pasukan Sekutu dibakar. Kapten Shaw dan prajuritnya lari tunggang-langgang ke pelabuhan.

Pasukan Gurkha dari Batalion ke-49 Maharatta yang terlatih di medan tempur

Warga Surabaya yang memiliki keahlian listrik menyabotase kota Surabaya hingga padam. Mayor Jenderal Soengkono yang juga panglima pertempuran Surabaya mencatat tanggal 26 Oktober 1945 itu ditandai pecahnya pertempuran awal di Surabaya utara, yang membuat seluruh kota tenggelam dalam kegelapan malam yang tanpa lampu, tanpa air minum, tanpa telepon, tanpa gas, bahkan tanpa pasokan makanan karena seluruh jalanan kota sudah tertutup barikade-barikade yang dibikin penduduk.

Intimidasi Selebaran

Pagi hari, 27 Oktober sekitar pukul 09.00 pesawat Dakota yang terbang dari Jakarta menyebarkan ribuan selebaran yang ditanda-tangani oleh Mayor Jenderal D.C.Hawthorn. Selebaran itu berisi seruan kepada penduduk Surabaya untuk menyerahkan segala persenjataan dan peralatan Jepang kepada Sekutu. Perintah itu disertai ancaman, apabila masih ada orang membawa senjata akan langsung ditembak di tempat.

Bukan itu saja, pasukan Brigade 49 Mahratta dikerahkan menempelkan selebaran di sekitar kantor Gubernuran. Tindakan itu justru memicu kemarahan warga. Siang hari terjadilah pertempuran di depan Rumah Sakit Darmo diikuti pertempuran di semua pos pertahanan Inggris di Keputran, Kayoon, Gubeng, Simpang, Ketabang, Kompleks HBS, Gemblongan, Dinoyo, Wonokromo, Palmboom, Lindeteves, Onderlingbelang, Benteng Miring.

Sebagaimana pertempuran sehari sebelumnya, perang “keroyokan” itu murni perkelahian missal yang disebut tawuran, di mana tidak ada pemimpin dan tidak ada taktik maupun strategi apa pun yang ditunjukkan penduduk. Tentara Inggris Brigade ke-49 Mahratta yang sudah berpengalaman di medan tempur Burma dan bahkan el-Alamein di Mesir itu, kebingungan menghadapi pertempuran dengan model tawuran dari kawanan orang-orang nekad yang tidak tahu mati.

Tanggal 28 Oktober 1945, TKR sebagai aparat pertahanan dan keamanan Negara yang harus tunduk dan patuh pada perintah pemerintah pusat di Jakarta, ternyata terprovokasi perlawanan arek-arek Surabaya, sehingga tanpa sadar ikut bertempur mengepung dan memburu tentara Inggris.

Terbunuhnya Mallaby

Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang menyaksikan pasukannya terus diserang menghubungi atasannya di Singapura, Jenderal Christison. Bahkan mengumumkan gencatan senjata. Tanggal 29 Oktober 1945, presiden Soekarno dan wakil presiden Moch. Hatta serta Menhan Amir Sjarifuddin datang ke Surabaya. Tanggal 30 Oktober 1945, gencatan senjata dicapai tetapi butuh sosialisasi karena komunikasi terbatas dengan akibat masih taksi tembak-menembak di berbagai tempat di Surabaya. Malangnya, sore hari dalam usaha sosialisasi gencatan senjata, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas digranat.

Brigjen AWS Mallaby tewas di dalam mobil ini setelah dilempar granat oleh orang yang tidak dikenal

Tentu saja Inggris marah. Maka Mayor Jenderal E.C.Mansergh, pada 9 November 1945 melontakan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan pembunuh Mallaby dan semua orang-orang liar yang bersenjata menyerahkan senjata kepada pasukan Inggris. Jika ultimatum tidak dijalankan, maka pada 10 November 1945 jam 10.00 Kota Surabaya akan dibombardir dari darat, laut dan udara. Mayor Jenderal E.C.Mansergh menghitung, kota Surabaya akan jatuh dan takluk dalam tempo tiga hari.

Ultimatum militer Inggris kepada seluruh orang Indonesia di Surabaya

Pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945, yang menurut William H. Frederick (1989) sebagai pertempuran paling nekat dan destruktif — yang tiga minggu di antaranya – sangat mengerikan jauh di luar yang dibayangkan pihak Sekutu maupun Indonesia. Dugaan Mayor Jenderal E.C.Mansergh bahwa kota Surabaya bakal jatuh dalam tiga hari meleset, karena arek-arek Surabaya baru mundur ke luar kota setelah bertempur 100 hari.

Itulah kegigihan arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Terus apa yang sudah dilakukan generasi sekarang untuk menyelamatkan cita-cita para bapak pendiri bangsa? [] Tamat

Catatan : Disarikan dari tulisan Agus Sunyoto

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here