Inilah Kriteria Calon Menteri Keuangan, Siapa Yang Cocok?

0
341
Siapakah yang bakal menduduki kursi panas Menteri Keuangan? Setidaknya ada tiga kandidat kuat: Muliaman D. Hadad, Anggito Abimanyu dan Purabaya Yudi Sadewa

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Jokowi dalam waktu dekat akan mengocok ulang jajaran menteri Kabinet Kerja. Dalam reshuffle dan mutasi kabinet Jilid 3 ini, konon yang paling banyak berubah adalah di tim kementerian ekonomi.

Salah satu jabatan paling seksi adalah posisi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Banyak kalangan menilai Sri Mulyani termasuk menteri yang akan terkena mutasi. Ia sendiri berpeluang dipromosikan menjadi Menko Perekonomian, menggantikan seniornya Darmin Nasution.

Lantas siapakah yang berhak menggantikan posisi Sri Mulyani di Kementerian Keuangan?

Sebelum berbicara siapa kandidat yang pas mengisi jabatan basah itu, ada baiknya memahami kriteria Menteri Keuangan. Paling tidak, berdasarkan pengalaman menteri-menteri terdahulu, ada lima kriteria untuk menjabat Menteri Keuangan.

Pertama, Menteri Keuangan haruslah orang yang memahami perannya sebagai bendahara negara. Karena itu yang pertama harus ia lakukan adalah mampu mengamankan penerimaan negara, pajak, lewat kebijakannya.

Kedua, Menteri Keuangan juga harus memiliki kemampuan mengelola fiskal agar sehat, termasuk di dalamnya belanja dan hal yang berkaitan dengan sustainability fiskal.

Ketiga, Menteri Keuangan harus bisa berkoordinasi dengan baik dengan otoritas moneter dalam hal ini Bank Indonesia dan otoritas perbankan yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Artinya, Menteri Keuangan harus memahami makro-policy, termasuk di dalamnya makro ekonomi dan stabilitas ekonomi.

Keempat, seorang Menteri Keuangan juga harus mengetahui sektor riil. Artinya, bagaimana sektor rill ini bergerak. Ambil contoh sebuah perusahaan memerlukan insetif, Menteri Keuangan harus memahami peberian insentif lewat kebijakannya agar sektor riil bisa bergerak. Tujuannya ialah supaya pertumbuhan ekonomi tetap tinggi.

Kelima, umumnya Menteri Keuangan yang sukses dan langgeng adalah jebolan doktor ekonomi kampus ternama dan umumnya juga berafiliasi dengan Universitas California, Berkeley. Memang ada peluang hanya lulusan sarjana S-1 dari Institut Pertanian Bogor (IPB), namun tak lama dan kebijakannya pun pro kontra.

Walaupun tidak dipersyaratkan, rerata Menteri Keuangan adalah afiliasi Berkeley dengan mazhab ekonomi Neo-Liberalisme. Bahkan sepanjang sejarah Kementerian Keuangan, mazhab Neo-Lib ini menjadi arus utama pemikiran dan kebijakan di sektor keuangan.

Walaupun pernah jabatan Menteri Keuangan dipegang Rizal Ramli yang bermazhab strukturalis, namun prosesnya tak lama, yakni hanya 3 bulan, sejak 12 Juni hingga 9 Agustus 2001. Masa jabatan tersingkat sepanjang sejarah Menteri Keuangan yang ada.

Siapa calon kuat?

Pertanyaannya, siapakah calon kuat Menteri Keuangan pengganti Sri Mulyani? Tentu yang bisa menjawab dengan persis adalah Presiden Jokowi. Namun berdasarkan tanda-tanda zaman dan bahasa tubuh yang muncul di Istana Negara, paling tidak ada tiga nama yang mengemuka.

Pertama, Muliaman D. Hadad, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang pada 23 Juli mendatang masa tugasnya selesai. Muliaman diindikasikan sebagai calon kuat Menteri Keuangan karena sebelum Sri Mulyani menjabat, sudah dua kali ditawarkan Presiden Jokowi untuk mengisi jabatan prestisius itu. Namun Muliaman menolak secara halus karena memang OJK masih membutuhkannya, mengingat OJK masih pada tahap penguatan kelembagaan.

Dengan tidak lolosnya Muliaman pada seleksi awal untuk tes Keua OJK untuk periode 2017-2022, ada indikasi kuat bahwa Muliaman akan diarahkan menjadi Menteri Keuangan.

Muliaman yang juga pernah menjabat Deputi Gubernur Bank indonesia di masa Gubernur BI Boediono, merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1979 dengan Jurusan Studi Pembangunan dan memperoleh gelar sarjana ekonomi pada 1984. Muliaman merupakan salah satu lulusan tercepat di angkatannya.

Pada 1990, Muliaman mengambil pendidikan S2 di Joh F. Kennedy School of Government, Harvard University, USA dan memperoleh gelar Master of Public Administration pada 1991. Selanjutnya pada 1996, Muliaman mendapatkan gelar Doctor of Philosophy dari Faculty of Bussines and Economics, Monash University, Australia.

Seperti Boediono, Muliaman juga merupakan lulusan Monash University dan merupakan mahasiswa doktoral teladan. Karakternya pun hampir sama karena sama-sama dibesarkan dan berpengalaman di Bank Indonesia.

Kedua, Anggito Abimanyu, mantan Wakil Menteri Keuangan. Dosen Universitas Gajah Mada (UGM) ini dikenal luas sangat cool, berpengalaman dan sudah terbiasa berkecimpung di Kementerian Keuangan. Debutnya yang menonjol ketika ia menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), yang merupakan think thank-nya Kementerian Keuangan di masa Menteri Keuangan Boediono.

Anggito berhasil meraih gelar Masters of Science dan Doctor of Philosophy dari University of Pennsylvania, Philadelpia, USA. Peluang Anggito sebenarnya kecil, karena ia sedang diarahkan untuk memimpin Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) di bawah Kementerian Agama. BPKH nantinya akan mengelola dana haji sedikitnya Rp80 triliun, sehingga Anggito sangat dibutuhkan untuk penguatan kelembagaan pada tahap-tahap awal berdiri.

Ketiga, Purbaya Yudi Sadewa. Doktor lulusan Purdue University, Indiana Amerika Serikat, ini sangat dekat dengan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Mantan Direktur Danareksa Research Institute dan Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis Kantor Staf Kepresidenan ini termasuk ekonom muda yang cemerlang.

Sarjana Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung ini memang belum punya pengalaman menjabat di pemerintahan selain staf ahli dan deputi. Namun dia sudah memiliki rencana yang matang soal bagaimana memperkuat fiskal dan membuat fiskal lebih berkelanjutan.

Purbaya telah terbiasa berada di lingkungan pemerintah karena sebelumnya dia juga pernah tercatat sebagai staf khusus Menteri Koordinator Bidang Pereonomian. Dia juga pernah menjadi Kepala Ekonom Danareksa Research Institute.

Siapakah yang pantas menggantikan Sri Mulyani? Syukur-syukur bisa menggantikan para senior di Kementerian Keuangan seperti Soemitro Djojohadikoesoemo, atau seperti Widjodjo Nitisastro yang dicap sebagai pimpinan gank Berkeley.

Atau setidaknya mirip senior lainnya sepeti Ali Wardana, Radius Prawiro, Johannes Baptista Sumarlin, Boediono, Bambang Subianto, Bambang Sudibyo. Atau bisa juga mengikuti langkah mazhab strukturalis Rizal Ramli maupun Bambang PS Brodjonegoro.

Atau Menteri Keuangan mendatang bisa menjadi dirinya sendiri, entah apapun mazhabnya, yang penting bisa menjaga APBN dengan trend yang surplus, menjaga pertumbuhan ekonomi, serta bisa merangsang masuknya investasi langsung dari manca negara. Semoga saja ditemukan Menteri Keuangan yang seperti itu![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here