Inilah Pengkhianatan Arthur Balfour kepada Bangsa Palestina

0
909
Arthur James Balfour, eks Menteri Luar Negeri Inggris yang menuliskan teks Deklarasi Balfour sebagai dasar berdirinya negara Israel di tanah Palestina/ Foto Araweelo News Network

Nusantara.news, Jakarta – Di negaranya sendiri, Inggris, Arthur James Balfour yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri, bahkan sebelumnya pernah menjabat Perdana Menteri (1902-1905) sama sekali tidak masuk dalam buku sejarah. Tapi nama itu sangat kondang di Israel dan Palestina, tentu saja dalam sudut pandang masing-masing. Israel menganggapnya sebagai pahlawan, sebaliknya Palestina menganggapnya sebagai pengkhianat. Kenapa bisa? Begini ceritanya.

Tertulisnya nama Balfour dalam buku pelajaran sejarah anak-anak di Israel tidak terlepas dari perannya meracik 67 kata yang selanjutnya disebut deklarasi Balfour. Deklarasi yang pada 2 November 1917 saat dia menjabat Menteri Luar Negeri era pemerintahan Perdana Menteri David Llyod George.

Padahal Balfour bukan orang sembarangan. Dia terlahir dari kalangan keluarga kaya perkebunan di Skotlandia tahun 1848. Sebelum terjun menjadi politisi, Balfour membekali dirinya menempuh pendidikan di Eton dan Trinity College, Cambridge. Usia 26 tahun mulai meniti karir sebagai politisi dengan menjadi Tenaga Ahli anggota Majelis Rendah dari Partai Konservatif, Hertford.

Karir politiknya mulai cemerlang setelah tahun 1878 menjadi sekretaris pribadi pamannya, Marquess of Salisbury yang menjabat Menteri Luar Negeri era pemerintahan konservatif yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Disraeli. Lewat pamor politik pamannya, tahun 1885 Balfour terpilih menjadi anggota Majelis Rendah mewakili Manchester Timur.

Saat pamannya menjabat Perdana Menteri Inggris, Balfour diangkat sebagai Sekretaris untuk wilayah Skotlandia. Setelah itu Balfour juga menyandang jabatan bergengsi seperti Sekretaris Utama Irlandia (1887), First Lord of the Treasury (1892) dan Ketua Majelis Rendah (1892).

Bahkan Balfour sempat menggantikan pamannya menjadi Perdana Menteri pada 1902. Selama menjabat Perdana Menteri dia mencatatkan berhasil menelurkan UU Pendidikan 1902 dan mengakhiri Perang Boer. Namun persoalan reformasi tarif membuatnya mendapatkan mosi tidak percaya sekaligus mengakhiri pemerintahannya pada 1905. Setelah itu diselenggarakan Pemilu 1906 yang dimenangkan Partai Liberal.

Balfour melepaskan jabatan pimpinan Partai Konservatif dan digantikan Andrew Bonar Law pada 1911. Ia kembali ke pemerintahan pada 1915 saat Herbert Asquith menawarinya kedudukan First Lord of the Admiralty dalam pemerintahan koalisi Perang Dunia I. Tahun berikutnya, di bawah kepemimpinan David Llyod George, Balfour diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Saat itulah lahir Deklarasi Balfour yang menjanjikan Zionist tanah air di Palestina.

Balfour meninggalkan pemerintahan Lloyd George pada 1919 namun kembali pada jabatan saat ia menjabat sebagai Lord President of the Council (1925-29) dalam pemerintahan Konservatif yang dipimpin Stanley Baldwin. Arthur Balfour meninggal tahun 1930.

Berdirinya negara Israel yang prosesnya sangat kontroversial itu tidak terlepas dari Deklarasi Balfour satu abad yang lalu. Deklarasi itu bagian dari jawaban Balfour atas sepucuk surat Lord Walter Rothschild, tokoh Zionisme terkemuka, sebuah gerakan yang menganjurkan penentuan nasib sendiri untuk orang-orang Yahudi di tanah air historis mereka – dari Laut Tengah sampai ke sisi timur Sungai Yordan, daerah yang dikenal sebagai Palestina.

Teks deklarasi Balfour yang terdiri dari 67 kata

Dalam deklarasi 67 kata itu disebutkan pemerintah Inggris mendukung “pendirian sebuah kampung halaman nasional untuk orang-orang Yahudi di Palestina.” Namun dalam deklarasinya Balfour juga mengingatkan “tidak boleh merugikan hak sipil dan keagamaan dari komunitas non-Yahudi yang sudah ada.”

Toh demikian Balfour tetap dianggap sebagai pengkhianat oleh Bangsa Palestina. Penyebabnya tak lain adalah janji Inggris sendiri yang akan memerdekakan bangsa-bangsa Arasb, termasuk Palestina dari cengkeraman kekuasaan kekhalifahan Usmaniah, Turki, ketika meminta dukungan politik dan militer saat Perang Dunia I.

Maka tidak mengherankan apabila di mata anak-anak Palestina, Balfour disebut sebagai pengkhianat. Karena telah mengingkari janjinya sendiri, bahkan membuat negara Yahudi yang sebagian besar sudah merantau ke sejumlah negara sejak ratusan tahun sebelumnya. Mereka umumnya menganggap Deklarasi Balfour tidak sah.

Sebaliknya anak-anak Yahudi memandang Balfour sebagai pahlawan. Bahkan saat Arthur Balfour berkunjung ke pemukiman Yahudi di tanah Palestina tahun 1925, desa yang dikunjunginya itu hingga sekarang bernama Balfouria. Bahkan anak-anak di sana begitu hafal bunyi teks Deklarasi Balfour yang sudah diubah dalam bahasa Ibrani.

“Orang pun menganggap, jika pemerintah Inggris memberikan sebuah deklarasi semacam itu, ada kemungkinan suatu hari negara Yahudi akan didirikan, yang memang terwujud di tahun ’48”, kenang seorang penduduk Balfouria kepada wartawan BBC London.

Warga Balfouria adalah bagian dari komunitas Yahudi yang sedang tumbuh di Palestina saat Lord Balfour berkunjung pada tahun 1925. Mereka menyambutnya bagai pahlawan. Ketika itu Deklarasi Balfour pun secara resmi diabadikan dalam Mandat Inggris untuk Palestina, yang telah disahkan oleh Liga Bangsa-Bangsa. Sejak itu gelombang imigrasi bangsa Yahudi dari seluruh dunia masuk ke Palestina.

Tentu saja negara-negara Arab bereaksi keras. Terlebih setelah Israel mengumumkan diri sebagai negara berdaulat pada 14 Mei 1948 dan satu tahun berikutnya, tepatnya 11 Mei 1949 Israel yang berdiri atas Mandat Britania yang diperangaruhi oleh gerakan Zionist di bawah kepemimpinan Lord Walter Rothschild diterima sebagai anggota PBB.

Sejak itu konflik Arab – Israel seolah tidak berkesudahan. Meskipun PBB sudah mengakui Israel dan Palestina hidup berdampingan sebagai negara yang berdaulat serta menetapkan Yerusalem sebagai kota Internasional, namun hingga sekarang Israel terus ngotot membangun pemukiman di tepi barat yang dikuasai oleh orang-orang Palestina.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here