Robohnya industri Ritel Modern (2)

Inilah Penyebab Industri Ritel Modern Berguguran

0
219
Penyebab utama penutupan sejumlah gerai industri ritel dikarenakan turunnya daya beli masyarakat yang dipicu krisis ekonomi global yang berdampak pada ekonomi nasional.

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa hari belakangan warga pecinta belanja ritel dikejutkan oleh keputusan PT Hero Supermarket Tbk yang akan menutup 6 gerai Giant miliknya. Apakah ini pertanda runtuhnya industri ritel nasional? Atau hanya strategi restrukturisasi Hero menghadapi persaingan industri ritel yang ketat?

Ada beberapa penjelasan mengapa tetiba industri ritel modern menutup gerai-gerainya.

Pertama, karena penurunan daya beli masyarakat akibat lesunya ekonomi. Dalam 4,5 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi stagnasi di kisaran plus minus 5%. Penutupan sejumlah gerai ritel modern ini mempertegas bahwa uang di kantung-kantung masyarakat makin berkurang sehingga mereka menggeser belanjanya dari toko ritel modern ke toko-toko di kampung yang masih terjangkau.

Kedua, ketatnya persaingan bisnis ritel modern. Gencarnya sejumlah hipermarket maupun supermarket hingga mini market hingga masuk ke gang-gang menandakan persaingan itu begitu keras. Tapi seleksi alam juga yang bicara, setelah gencar membuka gerai, kini giliran penutupan sejumlah gerai. Persaingan itu direpresentasikan oleh harga, kelengkapan barang, layanan, dan berbagai kemudahan untuk konsumen.

Ketiga, perubahan perilaku konsumen. Konsumen yang dulu gemar belanja mendatangi toko-toko ritel modern, kini lebih ingin santai di rumah dan belanja lewat pesan antar.

Keempat, disrupsi gerai ritel dengan toko daring atau online menjadi alasan mengapa gerai ritel modern tersebut perlahan lenyap satu per satu. Tanpa harus menyalahkan siapapun, kenyataan pola konsumen dan persaingan bisnis saat ini memang demikian adanya. Tak heran jika gerai ritel hampir tiap tahun selalu saja ada yang angkat kaki.

Kelima, cepatnya inovasi produk, layanan dan cara belanja hingga cara bayar, juga ikut menambah rumit persaingan bisnis ritel modern.

Menanggapi tutupnya sejumlah gerai ritel modern, Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Kementerian Perdagangan I Gusti Ketut Astawa menilai penutupan gerai merupakan hal yang biasa terjadi dalam bisnis, dan harus dilihat berdasarkan kasusnya. Menurutnya, fenomena penutupan gerai ini tidak bisa langsung disimpulkan sebagai penurunan kinerja industri ritel ataupun daya beli masyarakat yang melemah.

“Kalau dibilang industri ritel lesu, saya tidak sepakat. Dinamika orang berusaha kalau di tempat lain berkembang, tapi di sini berkurang itu wajar,” demikian Astawa.

Persaingan di industri ritel memang semakin ketat, seiring dengan pesatnya pembangunan pusat perbelanjaan. Selain itu, kompetisi juga hadir dengan adanya marketplace yang menawarkan kemudahan dan kecepatan, meskipun sebagian peritel modern saat ini juga turut berjualan di marketplace.

Dia menambahkan, untuk bertahan di tengah ketatnya persaingan, para peritel modern harus memiliki kajian yang matang mengenai kelayakan usaha, sebelum membuka gerai di tempat baru. Selain itu, para peritel juga harus responsif terhadap perkembangan zaman dengan menawarkan strategi pemasaran omnichannel.  

“Jangan stagnan. Strategi berjualan kan sekarang ada yang online dan offline. Gunakanlah omnichannel tadi sehingga inovasi jangan hanya berhenti  di satu titik,” ujarnya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta sebelumnya menyatakan, APrindo memproyeksikan Penjualan ritel modern ditaksir menembus Rp256 triliun pada 2019, atau tumbuh sekitar 10% dari realisasi tahun lalu.

Proyeksi tersebut terbilang moderat tetapi masih lebih baik jika dibandingkan dengan capaian pertumbuhan bisnis ritel modern pada 2017 yang hanya 3,7%.

“Bagaimanapun, kami tetap optimistis dan akan melanjutkan pertumbuhan 10% tahun ini, tetapi kami akan tetap hati-hati. Jadi, pertumbuhan 10% kali ini lebih konservatif,” demikian Tutum.

Berdasarkan data Aprindo, nilai penjualan ritel modern pada 2016, 2017, dan 2018 berturut-turut mencapai Rp205 triliun, Rp 212 triliun, dan Rp233 triliun.

Menurutnya, kinerja industri ritel modern pada 2019 akan dipengaruhi oleh tren belanja konsumen yang cenderung wait and see seiring dengan berjalannya tahun politik. Selain itu, para peritel masih menghadapi tekanan akibat persaingan dengan pelaku perdagangan elektronik.

Lebih lanjut, dia menilai penutupan sejumlah ritel merupakan upaya efisiensi pelaku usaha agar bisa berekspansi dengan cara lain seperti memanfaatkan platform online, atau membuka gerai di lokasi lain yang lebih prospektif.

Di faktor eksternal, pelambatan ekonomi dunia juga turut menekan daya beli masyarakat. Untuk itu, dia berharap pemerintah dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat untuk membeli barang konsumsi, dengan menyediakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya. 

Selain itu, Tutum juga mendesak untuk segera diterbitkannya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dagang-el guna menyediakan level berusaha yang sama antara peritel offline dan online.

Ketidakadilan perlakuan fiskal antara perdagangan ritel offline dan online juga harus dihentikan agar peritel offline tidak tergilas zaman. Di sinilah peran pemerintah guna menahan laju robohnya sejumlah gerai ritel modern, tanpa itu maka robohnya industri ritel hanya tinggal waktu. PHK pun sulit dihindarkan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here