Inilah Sosok Bacagub yang Sudah Mendaftar Untuk Pilgub Jatim 2018

0
158

Nusantara.news, Surabaya – Oktober 2018, masa jabatan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Soekarwo-Saifullah Yusuf resmi berakhir. Selanjutnya, perhatian masyarakat akan tertuju pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur di rangkaian Pilkada Serentak 2018, untuk periode jabatan 2018-2023. Ini sejumlah nama yang dipastikan maju di pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur 2018, mendatang.

Pertama, nama yang sejak awal santer ramai diberitakan adalah Saifullah Yusuf. Dipastikan, nama ini tak asing di mata masyarakat, selama dua periode dia jabatan wakil gubernur mendampingi Soekarwo. Itu setelah memenangi Pilgub Jawa Timur 2008 dan 2013. Pemilik panggilan Gus Ipul ini dikenal semakin sering blusukan. Tentu, selain tugasnya sebagai wakil gubernur, juga untuk menancapkan kembali namanya di benak masyarakat Jawa Timur, untuk running di jabatan lebih tinggi, yakni gubernur.

Karier Politik Diawali dari GP Ansor

Saifullah Yusuf atau akrab dengan panggilan Gus Ipul lahir di Pasuruan, Jawa Timur 28 Agustus 1964. Sejak 2009, menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Soekarwo, selama dua periode.

Pendidikan sarjana disandang setelah menyelesaikan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Nasional Jakarta, 1985. Karier politiknya diawali dari organisasi Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Pernah menjabat ketua umum GP Ansor dua periode, tahun 2000-2005 dan dilanjutkan periode berikutnya 2005-2010.

Sebelumnya, dia juga menjadi Plh Ketua Umum GP Ansor menggantikan Iqbal Assegaf yang meninggal dunia tahun 1999. Setelah selesai menjalankan tugas sebagai Ketua Umum PP GP Ansor, dia kembali terpilih menjadi salah satu Ketua di PBNU, di bawah kepemimpinan KH. Said Aqil Siraj.

Dalam perjalanannya, kemudian menjadi anggota DPR RI hasil Pemilu 1999 dari PDI Perjuangan. Catatan yang ada, posisinya tersebut dianggap sebagai lambang aliansi dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri. Dengan kata lain sebagai orang kepercayaan Gus Dur yang ditempatkan di PDI Perjuangan. Kemudian, saat hubungan Gus Dur-Megawati merenggang, tahun 2001, Saifullah Yusuf mengundurkan diri dari PDI Perjuangan dan juga sebagai anggota DPR RI, kemudian bergabung dengan PKB.

Di Muktamar PKB tahun 2002, Saifullah Yusuf terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PKB, setelah sebelumnya bersaing ketat dengan Alwi Syihab. Suami Fatma itu juga pernah menjabat sebagai Menteri Percepatan Daerah Tertinggal (PPDT) di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) dari Oktober 2004 hingga Mei 2007.

Kemudian, saat muncul konflik di tubuh PKB berimbas dengan dicopotnya dirinya dari jabatan Sekjen PKB. Itu juga berimbas jabatan menterinya juga harus diganti. Karena tidak dianggap lagi sebagai representasi PKB, dia kemudian digantikan oleh Lukman Edy yang juga menggantikannya sebagai Sekjen PKB.

Nurwiyatno, Birokrat Pemprov Jatim

Sosok yang satu ini dikenal sebagai birokrat senior. Dia menjabat sebagai Kepala Inspektorat di Pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Nurwiyatno alias Cak Nur mendaftarkan diri untuk maju di Pilkada Jawa Timur dari Partai Demokrat. Dia mengambil formulir calon gubernur di DPD Partai Demokrat Jawa Timur di Surabaya, pada Minggu (16/7/2017).

Saat mendaftar, dengan naik mobil bak terbuka mantan penjabat Wali Kota Surabaya ini dikawal ratusan seniman Surabaya. Kesenian yang disuguhkan di antaranya ada Jaranan, Reog Ponorogo, pendukung lainnya datang dengan mengenakan kostum ala pejuang.

Kepada wartawan dia mengaku siap melepas jabatannya sebagai Kepala Inspektorat Provinsi Jawa Timur jika partai yang mengusungnya merestui sebagai calon gubernur atau calon wakil gubernur.

“Saya siap mencopot jabatan saya demi kemajuan Jawa Timur yang lebih baik,” ujar Cak Nur, saat itu.

Bermodal pengalaman, selama 34 tahun menjadi PNS di Pemerintahan Provinsi Jawa Timur, dirinya optimistis bisa membawa perubahan untuk Jawa Timur yang lebih baik.

Dan, selain mendaftar melalui Partai Demokrat, Cak Nur juga mendaftar melalui Partai Golkar, di DPD Golkar Jawa Timur di Surabaya, Jumat (18/8/2017).

“Saya juga mendaftar sebagai Bakal Calon Gubernur Jawa Timur melalui Partai Golkar. Mohon doa restunya,” ujar Nurwiyatno, Jumat (18/8/2017).

Dirinya mengaku memiliki tiga modal kuat untuk maju sebagai calon gubernur menggantikan Soekarwo. Pertama, sebagai birokrat senior, dinilai sangat paham dengan berbagai persoalan, khususnya tentang pemerintahan daerah.

Kedua, memiliki komunikasi politik yang baik dengan sejumlah parpol yang ada di Jawa Timur. Ketiga, kenyang dengan organisasi, yakni sebagai mantan aktivis GMNI Universitas Jember. Dan, dirinya sekarang menjabat sebagai Ketua PA GMNI Jawa Timur.

Dia bertekad meneruskan program pembangunan yang sudah 10 tahun dijalankan oleh seniornya yang juga GMNI, Soekarwo yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur.

“Saya banyak belajar dari beliau. Saya hanya ingin meneruskan program pembangunan yang telah beliau lakukan, dia senior saya,” ucap di sebuah kesempatan.

Nurhayati Ali Assegaf

Perempuan yang lahir di Solo 17 Juli 1963 ini, selain tercatat sebagai anggota DPR RI, juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Melalui DPD Demokrat Jawa Timur di Surabaya, anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini maju sebagai bakal calon Gubernur Jawa Timur. Dia mengambil formulir pendaftaran pada Rabu, (12/7/2017).

Dirinya tercatat sebagai wakil rakyat asal Daerah Pilihan (Dapil) Malang Raya (Kota, Kabupaten Malang, dan Kota Batu). Kuatnya dorongan maju di Pilgub Jawa Timur karena dorongan dari masyarakat yang sangat kuat.

Nurhayati Ali Assegaf. (Foto : ANTARA)

“Saya maju, karena dorongan dari masyarakat. Selama ini saya sudah mewakili selama tiga periode di DPR RI, dan ini adalah amanah, jadi bukan soal kekuasaan semata,” ujar Nurhayati saat itu.

Ditambahkan, langkahnya juga untuk mengemban amanat suara masyarakat di wilayah Malang Raya. Dia menyebut, Jawa Timur membutuhkan pemimpin yang peduli, mendengar, dan memperhatikan secara langsung suara dari rakyatnya.

Modal lainya, mengaku telah memiliki dukungan dari berbagai pihak, salah satunya dari Federasi Nelayan Indonesia (FNI) DPW Jawa Timur, Jaringan Guru Jawa Timur, serta sejumlah elemen lainnya.

Catatan yang ada, Nurhayati berhasil menjadi anggota DPR RI tahun 2009-2014 setelah memperoleh suara sebanyak 52.112 suara, dari daerah pemilihan Jawa Timur V. Dia kembali terpilih menjadi wakil rakyat 2014-2019 dari Dapil yang sama dengan mengantongi 18.162 suara.

Di periode jabatan 2009- 2014, Nurhayati duduk di Komisi I (Bidang Luar Negeri, Pertahanan Keamanan, Komunikasi), tapi sejak akhir 2013 seiring posisinya sebagai Ketua Fraksi, dirinya di pindah ke Komisi VIII membidangi Kesejahteraan Sosial. Utamanya untuk mengawal kebijakan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat). Dan di Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) dan menjabat Wakil Ketua BKSAP sejak 2009-2012.

Setelah terpilih menjadi Ketua Fraksi Demokrat menggantikan Jafar Hafsah, dirinya menyerahkan jabatan Wakil Ketua BKSAP dan memilih duduk sebagai anggota BKSAP, untuk lebih berkonsentrasi pada internal fraksi Demokrat. Di periode 2014-2019, Nurhayati kembali bertugas di Komisi I yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi dan informatika.

Pendidikan formalnya, doktor bidang Ilmu Sosial dan ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada. Kemudian Master di bidang Kajian Amerika, Universitas Indonesia tahun 2010. Juga mengantongi pendidikan Diploma Public Relation, Los Angeles City College
Harvard Kennedy School Executive Education, Leaders in Development: Managing Change in a Dynamic World, USA, June 2010

Perjalanan dan Karir Politik

Nurhayati sempat menjadi Associate di Winarto Soemarto & Associates tahun 1993-1998, dilanjutkan menjabat Managing Director di Assegaf & Partners, Ltd. Saat Partai Demokrat didirikan, Nurhayati termasuk sebagai salah satu tokoh pendiri, dan senior yang ikut merintis lahirnya Partai Demokrat.

Kemudian, saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih menjadi Presiden RI pada masa jabatan 2004-2009, Ani Yudhoyono memilih Nurhayati sebagai staf pribadi Ani Yudhoyono. Meski demikian, Nurhayati tetap menjalankan jabatan sebagai anggota DPR terpilih 2004-2009, saat itu berada di Komisi VI.

Setelah menjadi staf pribadi Ani Yudhoyono dan anggota Komisi VI, karena terpilih lagi sebagai anggota DPR 2009-2014, perempuan berjilbab yang memiliki kemampuan 4 bahasa asing (Inggris, Jepang, Arab, Perancis) itu menempati posisi di Komisi I.

Tercatat, saat terjadi perombakan internal, pada pertengahan 2012 Nurhayati mengambil alih tugas sebagai Ketua Fraksi Demokrat. Saat itu dia berada di Komisi I, dan terlihat intens dalam pembahasan RUU Komponen Cadangan dibanding RUU lain yang juga dibahas di Komisi I.

La Nyalla Mattaliti

La Nyalla, pengusaha yang juga Ketua Kadin Jawa Timur itu mendaftar sebagai bakal calon Gubernur Jawa Timur di DPD Partai Demokrat di Surabaya, Senin (17/7/2017). Dia mengaku siap berebut rekom dari Partai Demokrat dengan bakal calon petahana Saifullah Yusuf yang lebih dulu mendaftar, pada 1 Juni 2017.

Saat mendaftar, dari rumahnya di kawasan Wisma Mukti Surabaya Nyalla mengendarai motor Vespa Spring tahun 1970an warna biru tua bernomor polisi L 2216 BG, dia menyebut Vespa itu memiliki banyak kisah, selama perjalanan hidupnya. Saat itu dia didampingi beberapa orang penggemar klub vespa tua. Serta ratusan pendukung ikut mengantar ke kantor DPD PD Jawa Timur dengan membentangkan poster bertuliskan “Mohon Doa Restu”.

“Vespa ini adalah teman setia saya sejak jaman susah hingga bisa seperti sekarang. Jarak rumah saya dan kantor Partai Demokrat cukup dekat jadi cukup naik vespa ini saja,” ujar seorang tim suksesnya, dr Wardi mewakili Nyalla. Di kantor DPD Partai Demokrat, Nyalla diterima oleh Renville Antonio, salah satu panitia seleksi.

“Terima kasih Pak Nyalla mau daftar ke Demokrat, sejatinya Pak Nyalla bukan orang asing bagi Demokrat karena anaknya pernah masuk struktur pengurus DPD Partai Demokrat Jatim,” jelas Renville.

Saat menyampaikan sambutan, Nyalla mengatakan niatnya maju sebagai bakal calon gubernur Jawa Timur karena ingin memperbaiki kesejahteraan masyarakat dengan berkeadilan sosial.

“Partai Demokrat membuka pendaftaran dan semua daftar, ya saya daftar. Mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi Partai Demokrat dan untuk masyarakat Jatim,” kata Nyalla saat itu.

Dia mengaku optimistis partai yang mau mencalonkan dirinya sebagai cagub bakal bisa memenangkan Pilgub Jawa Timur. Nyalla juga sangat yakin akan menjadi Gubernur Jawa Timur menggantikan Soekarwo. Apalagi, partai-partai menengah di Jawa Timur, seperti Gerindra, PAN, dan PKS juga memberikan dukungan positif.

“Jadi gubernur atau apa saja itu takdir, manusia hanya bisa berikhtiar. Makanya saya daftar dan terus keliling menyapa masyarakat,” jelasnya

Nyalla, lahir 10 Mei 1959, tercatat sebagai administrator sepak bola Indonesia yang menjabat sebagai Ketua Umum PSSI-KPSI untuk periode 2012 hingga 2016. Dia terpilih pada tanggal 18 Maret 2012, menggantikan Djohar Arifin Husin melalui kongres luar biasa yang diprakarsai oleh Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI), di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Namun setelah KPSI melebur dengan PSSI dia diangkat menjadi Wakil Ketua PSSI menggantikan Farid Rahman Periode 2013-2015.

Pria berdarah Bugis ini pada 18 April 2015, terpilih sebagai Ketua Umum PSSI dalam voting yang dilakukan di Kongres Luar Biasa PSSI, di Hotel JW Marriott, Surabaya. Saat itu, dia mendapatkan total 94 suara, mengalahkan Syarif Bastaman yang mendapatkan 14 suara. Kandidat lainya seperti Subardi, Sarman, Muhammad Zein, dan Benhard Limbong tidak mendapat suara.

Riwayat pendidikannya, mulai sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas diselesaikan di Surabaya. SD Bhinneka Bhakti, Surabaya (1965-1971), SMP Negeri 1 Surabaya (1971-1974), SMA Negeri 3 Surabaya (1974-1977). Kemudian pendidikan sarjananya di tempuh di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (1977-1984).

Selain sebagai Kepala Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur. Nyalla juga tercatat sebagai Manajer PT Airlanggatama Nusantara Sakti, Komisioner PT Airlangga Media Cakra Nusantara, serta Komisioner PT Pelabuhan Jatim Satu.

Pengalaman organisasi, di antaranya diawali sebagai Ketua umum MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur. Kemudian, Bendahara GM Kosgoro Jawa Timur, Bendahara Dewan Perwakilan Daerah (DPD) KNPI Jawa Timur, Ketua HIPMI Jawa Timur. Serta pernah tercatat sebagai Deputi Bendahara DPD Golkar Jawa Timur. Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Patriot Pancasila Jawa Timur. Kepala Cabang Partai Patriot. Ketua DPW Asosiasi Konsultan Indonesia (ASKONI) Jawa Timur. Kepala GAPEKNAS, Kepala Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI). Wakil ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, Ketua Pengprov PSSI Jawa Timur, Anggota Komite Eksekutif PSSI, Ketua umum PSSI versi KPSI, Wakil Ketua Umum PSSI. Dan kemudian sebagai Ketua Umum PSSI.

Kombes Polisi Syafiin

Seorang perwira polisi yang masih aktif berdinas di Mabes Polri mendaftar sebagai calon gubernur di Partai Demokrat Jawa Timur. Kombes Syafiin, adalah perwira polisi yang menjabat sebagai Analis Madya Bidang Hukum Mabes Polri.

Setelah mendaftar di DPD Partai Demokrat, kemudian mengembalikan formulir pada Sabtu (29/7/2017). Syafiin diantar puluhan pendukungnya dari daerah kelahirannya yakni Kabupaten Jombang.

Meski masih aktif, Syafiin mengaku siap mundur dari kepolisian jika Partai Demokrat memilihnya menjadi cagub atau cawagub Jatim di Pilkada 2018 mendatang. “Saya siap mundur dari polisi jika Partai Demokrat memilih saya sebagai cagub atau cawagub Jatim,” jelasnya.

Mantan Kepala Biro Umum Sekretaris Militer Kepresidenan Mabes Polri itu mengaku lebih banyak bertugas di luar institusi Polri. Selama 17 tahun, dia mengabdikan diri di lembaga kepresidenan. Selain mendaftar melalui Partai Demokrat, Gus Syaf juga mendaftar ke DPD Partai Golkar. “Kalau sudah diputuskan, saya siap mundur, karena jabatan saya masih ada 3 tahun setengah,” jelas pria asal Jombang itu.

Suhandoyo, Kader PDI Perjuangan juga Ketua Timses Pro Jokowi

Suhandoyo, Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) elemen muda dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jawa Timur. Juga Ketua DPD Pro Jokowi (Projo) Jawa Timur resmi mendaftar sebagai Bakal Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur dari PDI Perjuangan. Mas Handoyo demikian dia biasa disapa, saat mendaftar diantar salah satu elemen pendukungnya “Jos Gandos” yang membentangkan spanduk dukungan bertuliskan ‘Siap Mendukung Mas Handoyo untuk Pilgub Jatim 2018’ Senin (12/6/2017).

Suhandoyo, Kader PDI Perjuangan juga Ketua Timses Pro Jokowi.

Koordinator Relawan Mas Handoyo Jos Gandos, Erji Bintoro mengatakan elemen PDIP di Jawa Timur siap mengantarkan Handoyo menuju kursi gubernur atau wakil gubernur.

“Kita bertekad mengantarkan Mas Handoyo untuk posisi gubernur atau wakil gubernur, nanti tergantung respon dari DPP,” ujar Erji Bintoro di kantor DPD PDIP Jawa Timur di Jalan Kendangsari Industri, Surabaya.

Datang ke DPD PDI Perjuangan Mas Handoyo diantar mengambil formulir, dan saat itu mengatakan kalau pembayaran dana gotong royong untuk survei Rp100 juta dikumpulkan dari hasil dari patungan secara gotong-royong oleh para kader PDIP yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

“Dana terkumpul dengan cara gotong-royong sebanyak RP107,5 juta, yang seratus juta untuk mendaftar. Intinya semua untuk mensukseskan Mas Handoyo,” tegas lelaki yang juga mantan anggota DPRD dari PDI Perjuangan itu.

Mas Handoyo yang juga anggota Komisi E DPRD Jawa Timur itu, oleh Enji dipastikan akan all out berlaga di Pilgub Jawa Timur, dengan menggandeng siapa pun, termasuk kader dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

“Kita siap, termasuk jika nanti berpasangan dengan PKB,” tambahnya.
Usai mengambil formulir pendaftaran, Suhandoyo yang pernah maju Pilkada Bupati Lamongan itu, kemudian melakukan buka puasa bersama dengan pendukung dan relawan di Rumah Makan Agis di Jalan Menanggal Surabaya.

“Mulai saat ini, para relawan Mas Handoyo harus memviralkan semua kegiatan calon, Mas Handoyo. Sampaikan kepada suami, isteri, anak-anak kita, tetangga dan semua teman-teman kita kalau Mas Handoyo adalah calon PDIP yang maju di Pilgub Jatim 2018,” ucap Enji.

Setelah resmi mendaftar Mas Handoyo langsung turun ke seluruh wilayah di Jatim, memperkenalkan diri dan niatnya maju Pilgub Jawa Timur. Informasi yang terkumpul, sebanyak 20 dewan pengurus cabang PDIP terus mengawal dan mempersiapkan diri secara bergotong royong untuk munculnya pasangan calon yang akan ditetapkan DPP PDIP. “Tentu dengan semangat Gotong Royong kita siap mengabdikan diri untuk kemajuan Jawa Timur,” tegas Suhandoyo.

Saat itu, Koordinator Jaringan Muda NU (Jarmunu) Jawa Timur Fairouz Huda mengatakan, di kalangan nasionalis ada nama Suhandoyo, Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Jawa Timur. Pengalamannya menjadi anggota DPRD Jawa Timur, dianggap sebagai modal kuat dalam memahami peta permasalahan termasuk soal anggaran di Jawa Timur.

“Di dalam dirinya juga mengalir deras jiwa kaum muda yang haus akan perubahan. Berani dalam menghadapi segala tantangan. Dan egaliter dalam membangun hubungan antargenerasi. Pribadi seperti inilah yang sangat dibutuhkan dalam mengawal sejarah kepemimpinan Jawa Timur ke depan,” tuturnya.

Istu Hari Subagio

Pendaftar lainnya adalah Mayjen TNI (Purnawirawan) Istu Hari Subagio, dia mendaftar sebagai cagub Jawa Timur melalui DPD Partai Golkar Jawa Timur, Jumat (18/8/2017). Mantan Panglima Daerah Militer I Bukit Barisan itu mengaku ingin melanjutkan pengabdian kepada negara melalui jalur politik. Mantan staf khusus Panglima TNI itu saat mendaftar diantar sejumlah pendukungnya.

Mayjen Hari Subagio

“Saya sudah pensiun dari TNI awal tahun lalu, tapi saya ingin tetap mengabdi kepada bangsa lewat jalur politik,” kata Istu saat menjawab pertanyaan wartawan usai mendaftar di DPD Golkar Jawa Timur di Surabaya.

Lulusan akademi militer angkatan 1983 itu mengaku tidak asing dengan budaya Jawa Timur, karena dia pernah diangkat menjadi pimpinan daerah militer di Surabaya.

“Saya paham betul kultur budaya di Jatim, dan insya Allah tahu apa yang diinginkan warga Jatim,” jelas pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, itu.

Saat itu dia datang diantar sejumlah orang tim sukses dan pendukungnya, dan diterima oleh Tim Desk Pilkada dipimpin Freddy Purnomo, serta disaksikan fungsionaris dan kader Partai Golkar lainnya. Hari Subagio tercatat sebagai pendaftar ke empat di antara sejumlah nama lainnya yang lebih dulu mendaftar.

Mantan prajurit TNI itu mengaku jiwanya terpanggil untuk melanjutkan pengabdian. Serta bertekad akan bekerja keras menjadikan Provinsi Jawa Timur menjadi lebih baik. Termasuk untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

“Sebagai putra daerah asal Jatim, jiwa saya merasa terpanggil untuk mengabdikan diri di daerah kelahiran saya,” ujar Hari Subagio.

Hari Subagio lahir pada 13 November 1958, karier militernya diawali setelah dirinya lulus dari Akademi Militer pada 1983. Sejak menyandang pangkat Letnan Dua berbekal keilmuan sebagai infanteri dirinya mulai mengemban sejumlah tugas. Tugas pertamanya sebagai komandan peleton di Yonif 141/ AY JP (Aneka Yudha Jaya Prakosa) adalah Batalyon Raider di Kodam II Sriwijaya.

Jabatan strategis lainnya yang pernah diemban, sebagai Komandan Korem 131/Santiago dengan pangkat Kolonel. Kemudian, juga pernah menjabat sebagai Gubernur Akademi Militer tahun 2012 hingga 2013. Selanjutnya pernah menjabat Pangdam I/Bukit Barisan pada tahun 2013 hingga 2014. Setelah itu, pada 2014 menjabat sebagai Staf Khusus Panglima TNI. Jabatan tersebut merupakan jabatan terakhirnya sebelum pensiun, Desember 2016, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Karier politik diawali dengan menjabat Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilihan Umum DPD I Partai Golkar Jawa Timur. Dengan tekadnya ikut bursa pemilihan bakal Gubernur Jawa Timur, dirinya mengaku segera bergerak cepat mengumpulkan dukungan masyarakat Jawa Timur. Selain mengaku optimistis namanya akan dipertimbangkan oleh DPP Golkar, dirinya akan mengikuti hasil yang diputuskan oleh partai, baik sebagai bakal calon gubernur atau wakil gubernur.

“Saya serahkan sepenuhnya ke partai, sebagai mantan prajurit saya siap melakukan yang terbaik untuk masyarakat Jawa Timur,” tegasnya.

Ketua PDI Perjuangan Jatim, Kusnadi

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Timur Kusnadi juga ikut maju di pemilihan Gubernur Jawa Timur, 2018 mendatang. Kusnadi mengambil formulir sebagai bakal calon wakil gubernur, Kamis (1/6/2017).

“Setelah Gus Ipul mengambil formulir sebagai calon gubernur. Sekarang saya mengambil formulir sebagai calon wakil gubernur,” kata Kusnadi.

Kusnadi mengaku, alasannya mengambil formulir cawagub bukan karena sudah mengincar posisi jabatan itu. Tetapi, karena etika politik yang menyemangatinya.

Soal kemungkinan koalisi dengan partai lainnya, dia saat itu belum mau berkomentar. Apalagi setelah Saifullah Yusuf yang diusung PKB dan juga mendaftar di Partai Demokrat, ternyata juga mendaftarkan diri melalui PDI Perjuangan. “Ya kita lihat saja nanti,” katanya singkat.

Ridwan Hisjam Pendaftar Terakhir di Golkar Jatim

Nama Ridwan Hisjam juga tak asing lagi di ingatan warga Jawa Timur, selain pernah maju di Pilgub Jawa Timur, RH demikian dia biasa dipanggil mengaku siap dengan perintah partai, termasuk jika dipasangkan dengan Khofifah Indar Parawansa atau Saifullah Yusuf.

Ridwan Hisyam punya kans besar untuk menjadi wakil gubernur Jatim 2018.

Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI itu mengaku siap maju dan memenangi Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. “Kalau partai memberikan amanah dan Ketua Umum Setya Novanto menunjuk, saya siap maju pada pilkada mendatang,” kata Ridwan.

Oleh sejumlah pihak, RH dinilai mumpuni untuk maju di Pilgub Jawa Timur. Itu karena dia dinilai memiliki modal karena pernah maju sebagai calon wakil gubernur, saat itu ia berpasangan dengan Sutjipto, di Pilgub 2008.

Anggota Komisi X DPR RI itu menyebut kalau Partai Golkar tidak hanya berkepentingan pada pemenangan Pilkada di Jawa Timur, tetapi juga untuk pemenangan di 18 Pilkada kabupaten/kota.

“Tidak hanya menang pilkada, tetapi bisa menjadikan kader Golkar sebagai kepala daerah. Bahkan, diharapkan lebih baik daripada pilkada serentak 2015 yang dimenangi Golkar hingga 58 persen,” katanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here