Inilah Yang Mendorong Kejaksaan Agung Menahan Edward

0
230
Edward Soeryadjaya akhirnya ditahan Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi Dana Pensiun Pertamina

Nusantara.news, Jakarta – Ribuan nasabah pemilik Dana Pensiun (DP) Pertamina melongok menyaksikan uang yang mereka kumpulkan sen demi sen hingga triliunan ternyata lenyap begitu saja. Terutama setelah menyaksikan Rp1,4 triliun dana mereka digondol knglomerat Edward Soeryadjaja.

Akan kah dana mereka kembali? Atau justru lenyap ditelan transaksi saham PT Sugih Energy Tbk (dengan kode saham SUGI)? Atau justru tenggelam untuk membayar utang Ortus Holding Ltd milik Edward?

Itulah realitas yang dihadapi ribuan pemegang polis DP Pertamina, perusahaan pengelolaan dana pensiun milik para pensiunan karyawan Pertamina.

Edward kini telah dicegah, bahkan ditahan oleh Kejaksaan Agung dengan tuduhan memperdaya Dirut DP Pertamina M. Helmi Kamal Lubis membeli saham SUGI. Lantas apa penyebab Edward ditahan?

Mark up saham SUGI

Ihwal pemenjaraan pemilik Ortus itu bermula pada pertengahan 2014, Edward selaku Direktur Ortus berkenalan dengan Helmi saat menjabat sebagai Direktur Utama DP Pertamina. Edward bermaksud meminta agar Dana Pensiun Pertamina membeli saham SUGI.

Ia kemudian menginisiasi Helmi untuk melakukan pembelian saham SUGI senilai Rp601 miliar melalui PT Millenium Danatama Sekuritas. Belakangan, BPK menemukan adanya kerugian negara dalam pembelian saham SUGI tersebut sebesar Rp599,43 miliar.

Perbuatan Helmi dalam pembelian saham SUGI tersebut, telah mengakibatkan kerugian keuangan negara Rp599,43 miliar. Kerugian itu terjadi lantaran harga saham SUGI yang hanya Rp50 diharga Rp260 per lembar saham. DP Pertamina pun memborong 2 miliar lembar saham secara bertahap 2014-2015.

Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif dalam rangka perhitungan kerugian keuangan negara, atas kegiatan penempatan investasi pengelolaan Dana Pensiun Pertamina Tahun 2013-2015 pada Dana Pensiun Pertamina oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Nomor: 7/LHP/XXV-AUI/06/2017 tertanggal 2 Juni 2017.

Pembelian saham SUGI oleh Dana Pensiun Petamina tersebut dinilai janggal dan diduga terjadi mark up. Sebanyak  8,1% dengan nilai Rp700 miliar, patut diduga adalah rekayasa.

Sahan SUGI dibeli saat  memiliki beban keuangan yang membengkak 348% menjadi US$5,49 juta telah menekan kinerja perseroan.

Atas permintaan Ortus Holding, Ltd, uang yang diterima oleh PT Millenium Danatama Sekuritas dari hasil transaksi penjualan saham SUGI Dana Pensiun Pertamina tersebut, telah dipergunakan untuk menyelesaikan pembayaran kewajiban pinjaman Ortus Holding, Ltd. milik Edward sebagai berikut: pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI milik Ortus Holding, Ltd. total sejumlah Rp51,74 miliar.

Kemudian pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI milik Ortus Holding, Ltd. senilai Rp10,61 miliar. Pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI milik Ortus Holding Ltd. total sejumlah Rp52,65 miliar dan pembayaran kewajiban Sunrise Aseet Grup Limited kepada Credit Suisse total sejumlah Rp29,26 miliar.

Pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI dari Ortus Holding, Ltd. senilai Rp461,431 miliar. Sehingga BPK mengkalkulasi kerugian yang diderita DP Pertamina mencapai Rp599,43 miliar.

Dirut DP Pertamina Adrian Rusmana mengakui saat kasus itu terjadi dirinya belum di DP Pertamina. Namun demikian akibat kejadian itu aset DP Pertamina sempat anjlok menjadi Rp8,5 triliun dari sebelumnya Rp10 triliun. Tapi kini sudah mulai pulih kembali karena adanya restrukturisasi.

“Soal kasusnya kita serahkan saja kepada proses hukum yang ada,” jelasnya.

Ditahan Kejagung

Berdasarkan hasil audit investigatif BPK tersebut, Kejaksaan Agung pun bergerak cepat. Pada Oktober lalu Edward sudah dinyatakan jadi tersangka dan dilakukan pencekalan. Hal itu dilakukan agar memudahkan proses penyidikan.

“Ya dia punya perusahaan SUGI itu ya itu ada kaitan yang sangat jelas antara investasi Dapen Pertamina oleh Lubis ke perusahaan SUGI dan ada prosesnya tidak benar (mark up harga saham, red) sudah ketahuan,” ujar Jaksa Agung HM Prasetyo.

Prasetyo menjelaskan harga saham SUGI waktu dijual sedang terpuruk, namun dipaksakan untuk dibeli oleh DP Pertamina. Setelah DP Pertamina membeli saham SUGI, dana itu pun raib.

Namun sepertinya Kejaksaa Agung ada kebutuhan untuk menahan Edward, maka pada Senin (20/11) anak konglomerat William Soeryadjaya itu pun ditahan untuk kepentingan penyidikan 20 hari ke depan.

Edward ditahan usai diperiksa penyidik Edward dengan mengenakan rompi tahanan Kejagung. Dia dibawa menggunakan mobil tahanan ke rutan Salemba cabang Kejagung.

“Dia ditahan 20 hari di rutan Salemba cabang Kejagung,” kata Jampidsus Kejagung, Adi Toegarisman beberapa hari lalu.

Penangkapan itu dilakukan setelah Edward pernah dipanggil tiga kali namun tidak datang, baru sekarang datang dan langsung di tahan. “Jadi saya pikir daripada nanti ada hal yang tidak diinginkan dalam kasus ini toh secara UU penyidik berhak melakukan penahanan,” ujar Adi.

Dalam kasus ini Edward disangkakan Pasal 2 ayat 1 UU Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP. Ancaman pasal tersebut yakni hukuman 20 tahun penjara.

Sementara itu dalam kasus ini Helmi sendiri tengah menjalani proses persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Sebaliknya penasihat hukum pribadi Edward, Boy Pajriska berpendapat bahwa kliennya yang merasa ditipu tersangka lain, yakni Helmi Kemal Lubis.

Ia menyebut Edward merasa tertipu karena awalnya penjualan saham SUGI ke PD Pertamina akan membuat harga sahamnya meningkat. Akan tetapi, justru sebaliknya yakni harga sahamnya turun.

“SUGI itu go public, sahamnya anjlok. Nah maksudnya Dapen Pertamina itu mau menaikkan sahamnya tapi gagal. Dia merasa rugi dan tiba-tiba sahamnya juga sisa sedikit,” ujarnya singkat.

Edward yang agresif

PT Astra International Tbk merupakan salah satu kelompok bisnis terbesar di Indonesia, yang didirikan sejak tanggal 20 Februari 1957 oleh William Soeryadjaya. Perusahaan ini telah tercatat di Bursa Efek Jakarta sejak tanggal 4 April 1990. Saat itu William Soeryadjaya sempat menjadi orang terkaya nomor 2 di Indonesia.

Namun kejayaan William tidak berlangsung lama. Hal ini disebabkan oleh kejatuhan Bank Summa yang dimiliki oleh putra sulungnya, Edward Soeryadjaya, yang berniat “membalap” sang ayah.

Edward mulai dengan mendirikan Summa Internasional Bank Ltd. tahun 1979 di Port Vila, Vanuatu, dengan modal US$25 juta.

Setahun kemudian ia membidik Hong Kong, dan dari sana Edward melanglang ke Jerman. Tiga tahun kemudian, Edward berpatungan dengan pengusaha Hong Kong melebarkan sayapnya ke Indonesia, dengan mendirikan Summa International Finance Co. Ltd. Kemudian menjadi Indover Summa Finance, usaha patungan dengan anak perusahaan Bank Indonesia, Indover.

Bisnis Edward maju pesat. Ia memborong saham sejumlah perusahaan besar, seperti Bank Asia, yang kemudian namanya menjadi Bank Summa. Selain itu, ia ikut memiliki Bandung Indah Plaza, Hotel Mirama (Surabaya), Hotel Sabang (Jakarta), dan berbagai macam bisnis properti dan keuangan.

Edward juga dikenal “murah hati” karena memodali bisnis teman-temannya. 

Bank Summa mengalami musibah karena kreditnya yang sebagian besar disalurkan kepada grup perusahaan sendiri (Summa Grup) ternyata macet, karena proyek-proyek yang dibiayainya gagal. Summa merugi Rp591 miliar. Dari Rp1,5 triliun total kredit yang disalurkannya, Rp1 triliun di antaranya macet.

Pada 1990 pemerintah memberlakukan kebijakan uang ketat yang mengakibatkan Bank Summa semakin mengalami kesulitan likuiditas. Tidak lama setelah adanya kebijakan tersebut, dikabarkan Bank Summa benar-benar mengalami krisis keuangan yang hanya bisa diatasi dengan suntikan dana segar.

Tapi William tidak melakukannya. Dia mengirimkan pasukan penyelamat dari Astra, perusahaan miliknya, tetapi Bank Summa tetap merana. Pada Juni 1992, Williem mengambil alih 100% saham Bank Summa. 

Kesehatan Bank Summa tetap memburuk meskipun beberapa bank telah memberikan bantuan pinjaman. Hal ini dikarenakan jumlah utang yang terlalu banyak, ditaksir mencapai Rp1,7 triliun.

William pun melakukan beberapa upaya penyelamatan dengan menjaminkan seratus juta lembar saham Astra Internasional senilai sekitar Rp1 triliun, meminta jasa Mukmin Ali Gunawan, pemiliki Bank Panin, untuk memberikan konsultasi manajemen, meminta bantuan dana dari pemerintah dan juga menandatangani kontrak penyelamatan dengan 30 pengusaha dari group Prasetya Mulya.

Tetapi semua dana tersebut juga tidak dapat menutupi hutangnya. Akibat agresivitas Edward, keluarga Williem pun harus kehilangna Astra International.

Kasus DP Pertamina, adalah untuk yang kesekian kalinya terjadi akibat agresivitas Edward. Tapi kali ini Edward harus berhadapan dengan hukum. Tinggal seberapa kuat proses pengadilan yang akan berlangsung, apakah Edward akan selamat atau justru menjadi terpidana akibat kesalahannya.

Semoga memberi efek jera.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here