Inisiatif Jalur Sutra China, Globalisasi Baru atau Kolonialisme Baru?

0
158
Sebuah bendera China berkibar di atas Tashkurgan, sebuah kota perbatasan antara China dan Pakistan. Foto: The Guardian

Nusantara.news – Sebagian pemimpin dunia yang menghadiri pertemuan puncak inisiatif “Belt and Road” di Beijing China, Minggu (15/5) lalu memuji rencana Presiden China Xi Jinping untuk membangun jalur Sutra Baru. Mereka mengatakan, Xi akan membawa “zaman keemasan” baru globalisasi. Tapi tidak semua setuju, beberapa negara seperti India dan negara-negara Eropa justru mencurigai upaya ini sebagai kolonialisasi baru yang akan dilakukan China.

Sebagaimana dilansir The Guardian, Xi Jinping dalam pertemuan puncak tersebut, menguraikan visi jalur sutra baru senilai hampir 1 triliun USD itu. Berbicara di awal pertemuan tingkat tinggi tersebut, Xi memuji upaya merangsang pembangunan infrastruktur multi-miliar dolar yang dilakukannya sebagai sarana membangun Jalur Sutra modern dan “zaman keemasan” baru bagi globalisasi.

“Kemuliaan Jalur Sutra kuno menunjukkan bahwa penyebaran geografis tidak dapat lagi diatasi,” katanya kepada 29 kepala negara yang berkumpul di Beijing untuk menghadiri acara tersebut, termasuk presiden Rusia Vladimir Putin dan Recep Tayyip Erdogan dari Turki.

Xi Jinping telah memulai sebuah pertunjukan tentang apa yang oleh beberapa orang disebut sebagai proyek pembangunan paling ambisius yang menggambarkan negaranya sebagai penjelajahan damai yang mengatur transformasi dunia dengan kapal-kapal tanpa harta karun, bukan kapal perang, senjata api maupun pedang.

Xi menceritakan kisah yang berbeda pada hari Minggu, melukis apa yang dia sebut “proyek abad ini” sebagai usaha yang berani dan inklusif untuk memulai era baru globalisasi.

Dalam pidato sepanjang 45 menit, pemimpin Partai Komunis China itu berjanji untuk menggelontorkan sejumlah dana bagi konstruksi global yang membentang sepanjang Asia, di seluruh Eropa dan Afrika hingga ke Amerika.

“Prakarsa Belt and Road berakar di Jalur Sutra kuno, tapi juga terbuka bagi semua negara lain,” kata pemimpin China itu yang berjanji akan memompa USD 125 miliar ke dalam skema kerja sama tersebut.

Menurut Xi ambisi Jalur Sutra baru sama halnya seperti penjelajahan pedagang China Zheng He, seorang navigator pada dinasti Ming, dia pergi keliling dunia dengan damai. Demikian juga China sekarang berusaha untuk bekerja sama dengan negara lain.

“Pelopor ini mendapat tempat dalam sejarah bukan sebagai penakluk dengan senjata atau pedang tapi diingat sebagai utusan yang bersahabat yang memimpin kafilah unta serta kapal yang berlayar dengan sejumlah muatan,” kata Xi.

“Sejarah tersebut menunjukkan bahwa peradaban (dunia) tumbuh subur karena keterbukaan negara-negara berkembang melalui pertukaran (kerja sama),” tambahnya.

Sejumlah pemimpin negara memuji inisiatif Xi. Perdana menteri Ethiopia, Hailemariam Desalegn memuji dengan menyebutnya sebagai proyek unik, bersejarah, luar biasa dan penting.

“Banyak dari kita di negara berkembang, terutama di Afrika,  memandang China sebagai model ekonomi yang sukses dan sekutu yang andal dalam memerangi kemiskinan dan dalam usaha mencari kemakmuran,” katanya.

Kanselir Inggris, Philip Hammond, mengatakan, “Saya memuji Presiden Xi karena telah menetapkan sebuah proyek berani dan visioner. Inisiatif ini benar-benar memecahkan masalah dalam skala besar, yang mencakup lebih dari 65 negara, di empat benua dengan potensi  meningkatkan standar hidup 70% populasi global.”

Dukungan paling gencar datang dari Nawaz Sharif, PM Pakistan, sekutu kunci China, yang mengatakan bahwa dia datang untuk menawarkan “upeti” yang paling dalam kepada inisiator Xi Jinping.

“Kami berdiri di puncak sebuah revolusi geoekonomi. Ini adalah awal era baru kerja sama sinergis antarbenua,” kata Sharif.

PM Malaysia, Najib Razak mengulangi persetujuan pemimpin negara lain untuk inisiatif yang “visioner dan menarik” tersebut. Sementara, Presiden Cile, Michelle Bachelet meramalkan bahwa inisiatif tersebut akan membuka jalan bagi masyarakat yang lebih inklusif, setara, adil, sejahtera dan damai dengan pembangunan untuk semua.

Namun demikian, tidak mudah bagi China mewujudkan ambisinya membangun jalur “globalisasi baru” itu. Lebih-lebih, di tengah rival ekonomi terbesarnya, Amerika Serikat, yang saat ini menganut proteksionisme pasar dengan jargon “America First” yang digaungkan Presiden Donald Trump. Proteksionisme Trump tentu bertentangan dengan ide globalisasi China dalam kerangka Jalur Sutra. Kendatipun, untuk menghormati Xi Jinping, AS mengirim delegasi ke pertemuan puncak di Beijing. Hanya saja delegasi yang dikirim bukan level pejabat penting, sehingga banyak yang menilai pengiriman delegasi itu hanya basa-basi belaka.

Selain penentangan dari AS, ambisi Jalur Sutra China juga mendapat sinisme dari India. India menyatakan memboikot pertemuan antar petinggi negara itu. Menurut Times of India, New Delhi meyakini bahwa skema yang dibangun China tersebut “tidak lebih dari sekadar usaha kolonialisasi baru yang akan meninggalkan utang dan komunitas yang rusak di belakang hari.”

Ada juga keraguan yang mendasar dari beberapa negara yang mencurigai Beijing justru menggunakan proyek win-win-nya itu sebagai taktik untuk menarik negara-negara yang kurang kuat ke dalam orbit ekonomi China untuk meningkatkan kekuatan geopolitiknya.

Seorang diplomat Barat menyuarakan keprihatinan tentang ambisi China dan seberapa besar keterlibatan perusahaan-perusahaan non-Cina akan diperbolehkan dalam proyek Belt and Road.

Buktinya hanya satu pemimpin G7, yakni Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni, yang datang ke Beijing untuk menemui pertemuan puncak itu.

Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping dan Menlu Rusia Sergei Lavrov menikmati sarapan di puncak pertemuan pada Minggu (14/5) Foto: Alexei Nikolsky/TASS

Negara-negara seperti Perancis, Jerman, Estonia, Yunani, Portugal dan Inggris termasuk di antara negara-negara Uni Eropa yang menolak dokumen inisiatif Jalur Sutra China, kata diplomat yang tidak mau menyebutkan namanya itu kepada AFP, Senin (15/5).

Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (14/5) pemerintah India, pengkritik paling vokal rencana Jalur Sutra baru China, mengingatkan agar China tidak mengejar proyek yang hanya akan menciptakan beban utang berkelanjutan bagi masyarakat, merusak lingkungan atau melanggar kedaulatan negara-negara lain.

“Inisiatif semacam itu (Jalur Sutra) harus tetap didasarkan pada norma-norma internasional yang diakui secara universal, tata pemerintahan yang baik, peraturan perundangan, keterbukaan, transparansi dan kesetaraan”, kata pemerintah India.

Selain itu, pesimisme juga datang dari negara tetangganya Taiwan. Deputi Menteri Mainland Affairs Council, Taiwan, Tien-Chin Chang, mengatakan pada Senin sore (15/5) bahwa ambisi China mengembangkan Jalur Sutra  dinilai sebagai sebuah imajinasi yang dibangun di atas kepentingan diri sendiri. Karena itu, imajinasi tersebut cepat atau lambat akan kandas di tengah jalan.

“China berbatasan dengan 14 negara di sekitarnya. Dan semuanya punya masalah yang tidak kecil dengan China. Bagaimana bisa mengembangkan ambisi itu bila tidak punya hubungan yang baik dengan tetangga,” ujarnya.

Namun demikian, Beijing menjawab semua kritik tersebut melalui kantor berita resminya Xinhua, dengan mengklaim bahwa inisiatif Belt and Road tidak dan tidak akan pernah menjadi neo-kolonialisme secara diam-diam.

“China tidak berniat untuk mengendalikan atau mengancam negara lain. China tidak memerlukan negara boneka,” tambah Xinhua, menggambarkan bahwa KTT tersebut bukan sebagai kesempatan untuk menegaskan hegemoni baru, tapi kesempatan untuk membawa kepada dunia baru.

Jalur Sutra. Sumber: Mercator Institute for China Studies

Peter Cai dari Lowy Institute di Australia, mengatakan bahwa Xi Jinping sedang berupaya membangun kepercayaan sebagai pemimpin dunia setelah munculnya Donald Trump di AS dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

“Dua juara globalisasi terkuat, AS dan Inggris, keduanya mundur dari komitmen mereka terhadap globalisasi. Saya melihat ini sebagai peluang strategis yang baik bagi China untuk mempromosikan dirinya sebagai pemimpin baru globalisasi.”

Di tengah sisnisme sejumlah negara soal kolonialisme baru China terhadap negara-negara berkembang atau miskin seperti yang sudah terjadi di Afrika, apakah China mampu menjalankan ambisinya untuk menjadi pemimpin globalisasi dunia dengan konsep “Jalur Sutra Baru”? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here