Revolusi Media Massa (1)

Inovator Dilema

1
127
Ilustrasi: ANTARAFOTO

Nusantara.news – Kodak menyebut kamera digital hanyalah tren sesaat sehingga kamera tetap diproduksi dalam jumlah besar, karena yakin mereka akan terus bertahan. Kodak pada kamera dan Fuji pada film, terjebak halusinasi dan inovator dilema akut. Eksesnya, bisnis mereka nyaris bangkrut, terlambat berinovasi dengan kamera digital.

Begitu juga Microsoft dan Intel, terlalu menikmati kekuasaannya dalam dunia PC (Personal Computer) dan laptop, pelan-pelan terjebak ‘inovator dilema’. Mereka terbuai dengan kekuasaannya di pasar dan lengah akan kemajuan era mobile computing. Era mobile diganti dengan era smartphone yang dikembangkan oleh produsen handphone dan i-phone.

Begitu juga dengan Nokia, sang raja pasar handphone, digusur oleh BlackBerry (BB) pada tahun 2007, kemudian BB digusur oleh i-phone yang bukan perusahaan telekomunikasi, melainkan industri komputer.

Media cetak digusur oleh media internet (Facebook, Google, dan media sosial lain)

Mungkin bagi kita yang usianya di atas 40 tahun, perubahan itu perlahan tapi pasti. Namun bagi putra-putri kita, sudah tidak kenal lagi majalah Gadis. Ibu muda usia 25-40 tahun sudah tidak mengenal majalah Femina. Mereka lebih asyik main Twitter, Instagram, Path, atau Facebook (FB). Kehadiran “Uncle Google” mampu menjawab semua keingintahuan mereka atau menikmati informasi dan hiburan visual melalui Youtube.

Taksi komersial dan ojek juga kalah dengan taksi aplikasi online, seperti Uber dan Grab. Teknologi Informasi (TI) menguasai kehidupan kita, baik secara sosial, bisnis, maupun politik. Kita mengetahui bahwa kemenangan Barrack Obama sebagai presiden di Amerika Serikat dan Joko Widodo di Indonesia salah satunya dikarenakan peran media sosial, sangat signifikan.

Rapat jarak jauh juga sekarang dilakukan perusahaan atau organisasi antar-kota, antar-negara, menggunakan Skype atau media online lain dan tidak lagi menggunakan satelit yang berbiaya mahal, biaya menggunakan Skype semakin lama semakin murah dan seketika. Belum pernah terbayangkan pada tahun 1970-an kalau siaran piala dunia dapat disaksikan oleh miliaran penduduk dunia secara simultan.

Manusia dengan mudah beradaptasi dengan perubahan dunia, sehingga menjadi gaya hidup global. Jika dapat beradaptasi akan survive, tetapi jika tidak akan tertinggal oleh zaman. Lebih celaka lagi, produk-produk yang tidak dapat menyesuaikan diri akan tersingkir dalam kompetisi pasar.

Tidak heran deretan orang kaya dunia lahir dari dunia TI, seperti orang ternama dunia versi Forbes: Bill Gates (pemilik Microsoft), Jeff Bezos (Amazon.com), Mark Zuckerberg (pemilik Facebook), Larry Page (Google), Sergey Brin (Google), Jack Ma (e-commerce), twitter, i-phone, Alibaba.com dan sebagainya, karena kreativitas dalam teknologi menempatkan diri mereka menjadi orang-orang terkaya dunia.

Pemilik industri televisi juga jangan jumawa, karena Youtube adalah ancaman nyata, begitu juga dengan pertelevisian, TV streaming berbiaya murah dan minim tenaga kerja.

Inovator dipuja dan digemari di saat dia menciptakan sesuatu yang baru di pasar, tapi setelah ada follower dan dia tidak melakukan inovasi, akan mati atau menjadi “komodo” sebagai produk purba dan ketinggalan zaman, seperti yang dialami Nokia.

Persaingan banyak jenis produk saat ini mengenai kecanggihan teknologi, kita lihat persaingan Samsung sebagai raja pasar dunia dengan i-phone untuk pasar AS. Tidak jarang ada gangguan karena masalah ketelitian dalam memproduksi, jika cacat akan menjadi bulan-bulanan kompetitor, seperti halnya dengan Samsung tipe S7.

Media digital sebagai mitra menuju perubahan

Bagi seorang Jakob Oetama, raja pers Indonesia, media digital bukanlah ancaman, bahkan dianggap sebagai mitra dalam perubahan. Perubahan itu ikut menentukan wajah media massa. Jakob sempat dianggap hanya raja di media cetak dengan keberadaan koran Kompas. Kita tahu bahwa Kompas-Gramedia gagal mengelola Trans 7, sehingga sempat ada stereotip bahwa Jakob hanya handal pada media cetak. Dengan kehadiran Kompas TV menjadi yang terdepan saat ini sebagai TV Berita, Jakob kembali dikukuhkan sebagai ‘Raja Media’.

Keberadaan Kompas TV memang tepat ketika terjadi momentum TV partisan: TV One sebagai TV Golkar dan pendukung Aburizal Bakrie (Ical); Metro TV pendukung Ahok; i-News TV pendukung Hary Tanoesoedibjo; Berita Satu (Lippo) pendukung Ahok; SCTV pendukung PDIP dan Ahok, sehingga Kompas TV walaupun agak pro-Ahok (taipan), tapi tergolong netral dibanding TV berita lainnya, khususnya pada Putaran II Pilkada DKI Jakarta.

Jakob menganggap media mainstream harus jeli melihat situasi, maka itu ketika melihat Anies-Sandi unggul pada putaran I, pada putaran II Kompas TV relatif lebih netral. Jakob dinilai cerdas, dan Kompas-Gramedia survive, serta tidak diboikot oleh kalangan Islam fanatik, misalnya pada putaran I Pilkada DKI Jakarta, kepada Metro TV dan TV One.

Percepatan dengan bantuan teknologi ada modus persaingan dalam mengelola media massa saat ini, lupa verifikasi (check and balances), sehingga sering terjadi pelanggaran etika.

Raja-raja pasar dunia cetak terancam karena media memasuki era digital. Washington Post, TIME (Amerika Serikat), Asahi Shimbun (Jepang), the London Telegraph (Inggris), Kompas Indonesia akan kehilangan pamor, dan pers akan terancam posisinya sebagai kekuatan keempat demokrasi setelah eksekutif, yudikatif, dan legislatif jika tidak segera menyesuaikan diri dengan era digital.

Proses kerja era digital seringkali tidak melalui newsroom demi azas kecepatan, sehingga berita tidak mendalam, hanya memenuhi unsur 5W + 1 H alias straight news.

Media massa masih sebagai kekuatan keempat?

Pada tahun 2004 kita dikejutkan ketika Tomy Winata “ribut” dengan pengelola majalah TEMPO. Situasi ini tidak pernah terjadi karena majalah TEMPO diserang secara fisik dan wartawan dilecehkan pada saat itu. Komunitas media bersatu untuk melawan petinggi Grup Artha Graha ini, sampai proses di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan Peradilan, ternyata TEMPO kalah. Setelah itu, pamor media dan wartawan turun di Indonesia. Wartawan tidak lagi disegani, seperti sebelum terjadinya Kasus TEMPO.

Paling aktual ulah Presiden AS, Donald Trump, yang memboikot media massa di Gedung Putih, sehingga pamor Trump surut. Bahkan pada Pertemuan G-20 di Hamburg, pers Jerman cenderung tidak mengutamakan liputan terhadap Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS), tapi berimbang dengan kepala negara lain, bahkan kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Cina Xin Jin Ping lebih diperhatikan ketimbang Trump. Artinya, dominasi pers sebagai kekuatan keempat demokrasi masih dominan, termasuk melawan Presiden AS sekalipun.

Selagi pers independen (non partisan), kekuatannya masih berpengaruh di masyarakat, namun harus disadari untuk kaum muda usia kurang dari 30 tahun, kredibilitas terhadap media cetak sangat menurun saat ini, dan lebih mempercayai sumber dari media sosial atau sumber lainnya.

Ancaman media cetak karena kebiasaan usia kurang dari 30 tahun mencari informasi tidak lagi pada media cetak, tapi lebih kepada media sosial, baru setelah itu mereka memverifikasi terhadap salah satu portal news yang paling dipercaya atau melihat berita TV.

Di sisi lain, dengan euforia reformasi terjadi kebebasan dan kemudahan mendirikan suatu media, sehingga banyak pers Indonesia ‘kebablasan’, cenderung eksplosif dan insinuatif, peran asosiasi pun cenderung semakin hilang. Dalam menjalankan fungsi kontrol media cenderung mengabaikan azas praduga tidak bersalah, sehingga yang menjadi objek sudah terlanjur cemar, trial by the press.

Fakta yang menjadi basis pers selama ini, setelah era reformasi ditambah era pers digital, sering cenderung dicampur dengan opini. Tentunya berlainan dengan news analysis yang tetap berbasis fakta. Informasi pers hampir tidak akurat, tidak verifikatif, tidak jelas nara sumbernya, dan tidak menghormati privasi seseorang. Di Indonesia diperburuk lagi dengan politik uang sehingga cenderung terjadi “blocking media”, ketika ada arus uang besar untuk menutup suatu peristiwa, khususnya kasus hukum.

Kemajuan teknologi era pers digital cenderung mengorbankan etika dan kekuatan kapital sebagai “raja pasar”, mengabaikan etika dalam persaingan. Intinya, sebagai raja pasar tetap harus mampu mengadaptasi setiap perubahan yang berkaitan dengan teknologi. Kelengahan berarti kehancuran, sehingga kepekaan terhadap gejala di pasar dan perubahan gaya hidup harus menjadi perhatian utama pemimpin pasar saat ini. Ini berlaku bukan hanya pada pers tapi seluruh produk dan jasa.

Kecepatan dan aktualitas telah mengabaikan prinsip-prinsip dasar dari suatu berita. Secara teoritis, berita adalah informasi yang telah menjadi fakta yang layak diinformasikan kepada publik. Berita yang baik sudah melewati newsroom, dan penanggungjawab secara bertingkat sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

Pers juga mengalami dilema, khususnya dalam memaknai berita, namun media sosial terus menggurita tanpa batasan regulasi yang jelas walaupun POLRI sudah memiliki divisi media siber. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here