Insiden Bendera Terbalik: Malaysia, Cukup!

0
152
Massa Forum Komunikasi Putra dan Putri TNI-Polri (FKPII) Sumut melakukan aksi bakar ban di depan Konjen Malaysia, di Medan, Sumut, Selasa (22/8). Menuntut PM Malaysia meminta maaf secara resmi terkait pemasangan bendera Indonesia terbalik di buku pedoman SEA Games 2017 yang dinilai merendahkan bangsa Indonesia. ANTARA FOTO

Nusantara.news – Jika bukan oleh Malaysia, mungkin insiden salah cetak bendera merah putih tidak akan melebar ke mana-mana. Tapi ini Malaysia, negara yang letaknya selemparan batu dari Indonesia, dan kerap “bersitegang” dalam beberapa hal, masalah sekecil apa pun bisa menjadi besar. Indonesia-Malaysia punya sejarah hubungan “panas-dingin” yang sangat panjang.

Tapi Malaysia memang kebangetan dalam insiden “bendera terbalik” di momen kelas internasional SEA Games 2017. Jika disengaja, jelas ini pelecehan yang sangat menyakitkan. Kalau pun tidak disengaja, ini menunjukkan betapa negara jiran itu amat tidak peduli, atau lebih tepatnya “mengecilkan” negara tetangganya, Indonesia.

Boleh saja itu diterima sebagai kesalahan teknis—meskipun sekelas even SEA Games kesalahan macam itu seharusnya tak perlu terjadi—tapi kok ya terjadi pada Indonesia, dan tidak terhadap yang lain. Semestinya jika mereka menghormati atau segan dengan Indonesia sebagai tetangga, kesalahan sekecil apa pun terkait Indonesia pasti dihindari.

Tapi bukankah Malaysia, dalam sejumlah kasus, kerap melecehkan Indonesia?

Sekarang, insiden kecil itu bak bola salju yang menggelinding semakin membesar. Apalagi ditambah insiden dicurangi sejumlah pemain Indonesia di medan permainan.

Pemerintah Malaysia secara resmi sudah meminta maaf terkait insiden “bendera terbalik” di salah satu publikasi resminya. Sebelumnya, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengirim nota diplomatik, protes atas insiden tersebut.

“Tindak lanjut nota diplomatik itu dijawab dengan permintaan maaf. Kita melihat bagaimana cepatnya mereka keluarkan permintaan maaf resmi,” kata juru bicara Kemenlu RI Arrmanatha Nasir di Jakarta Senin (21/8).

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi juga langsung melakukan pertemuan resmi dengan Menpora Malaysia Khairy Jamaluddin.

Selain meminta maaf, Khairy menjanjikan pihaknya akan memperbaiki kesalahan dalam produksi buku suvenir Sea Games 2017 itu. Menurut pengakuannya, kesalahan cetak bendera terbalik itu tak disengaja.

“Cetakan yang salah tak akan diedarkan lagi dan akan direvisi, sebelum diedarkan kembali,” kata menteri olahraga Malaysia itu.

Presiden RI Joko Widodo mengomentari insiden tersebut dengan mengatakan untuk “tidak membesar-besarkan”, meskipun amat disayangkan pernyataan diplomatik Presiden tidak dilakukan dalam pernyataan resmi. Alhasil, tidak ada tanggapan resmi pula dari Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak. Tanggapan hanya keluar dari Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi yang mengatakan bahwa kesalahan itu sebagai tindakan ketidaksengajaan. Hal yang secara diplomatik bisa dimaknai “merendahkan”.

Pasang surut hubungan diplomasi Indonesia-Malaysia

Insiden salah cetak bendera Indonesia adalah kerikil kecil dalam diplomasi antara Indonesia dan Malaysia. Sejatinya kedua negara ‘serumpun’ ini sudah sering sekali bersitegang dalam berbagai hal. Mulai dari masalah batas wilayah laut maupun darat, saling klaim hak cipta budaya, hingga persoalan hak-hak tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Sayangnya, belakangan Indonesia “kerap” kalah secara diplomasi dengan Malaysia, misalnya ketika lepas pulau Sipadan-Ligitan, diklaimnya reog sebagai budaya Malaysia, hingga masalah hukum TKI/TKW Indonesia di Malaysia yang sering tanpa pembelaan.

Tahun 1963 dapat dikatakan sebagai puncak ketegangan antara kedua negara, yaitu saat terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia yang bermula dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu di tahun 1961. Saat itu Presiden Indonesia Sukarno menentang keras dan mendeklarasikan “Ganyang Malaysia”.

Presiden Sukarno berpendapat, Malaysia hanyalah boneka Inggris dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan tersebut sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Hubungan Indonesia-Malaysia di era itu sempat merenggang.

Oleh karena itu, Sukarno dikecam habis rakyat Malaysia. Terjadi demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur. Sebagaimana dilansir utusan.com, saat itu para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Sukarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman (PM  Malaysia saat itu) dan memaksanya untuk menginjak Garuda. Meski Tunku Abdul Rahman tak mau melakukannya, tapi persitiwa itu cukup membuat amarah Sukarno terhadap Malaysia meledak.

Sukarno pun memproklamasikan gerakan Ganyang Malaysia lewat pidatonya yang sangat bersejarah:

Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu djuga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang adjar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan, kita hadjar tjetjunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat djangan sampai tanah dan udara kita diindjak-indjak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku bakal berangkat ke medan djuang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang enggan diindjak-indjak harga dirinja

Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tundjukkan bahwa kita masih memiliki gigi dan tulang jang kuat dan kita djuga masih memiliki martabat

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…

Ganjang… Malaysia

Ganjang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satu-satu!

Sukarno

Di era Soeharto (Orde Baru) hubungan Indonesia-Malaysia dibangun kembali, dan hubungan diplomatik antar-kedua negara juga relatif berjalan baik. Saat itu kedua negara saling menghormati ibarat dua saudara yang dilahirkan satu rumpun.

Pasca reformasi hubungan Indonesia-Malaysia sempat kembali menegang, tepatnya tahun 2002 ketika kepulauan Sipadan-Ligitan diklaim Malaysia sebagai wilayah mereka berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional (MI) di Den Haag, Belanda. Sipadan-Ligitan yang akhirnya terlepas dari wilayah Indonesia, adalah pulau kecil di perairan dekat kawasan pantai negara bagian Sabah dan Provinsi Kalimantan Timur, diklaim oleh dua negara sehingga menimbulkan sengketa yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Pada 2005 sengketa batas wilayah kembali terjadi yakni di Ambalat, namun akhirnya Ambalat tetap diakui sebagai milik Indonesia.

Tidak hanya soal batas wilayah, ketegangan dua negara juga disebabkan klaim produk budaya. Misalnya pada tahun 2007, dimana Indonesia dan Malaysia berebut hak cipta lagu Rasa Sayang-Sayange, dikarenakan lagu ini digunakan oleh departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan pariwisata Malaysia.

Tahun 2011, dua negara kembali bersitegang dalam kasus penangkapan nelayan Malaysia yang tertangkap tangan melanggar perbatasan oleh petugas Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. Konflik lain di tahun yang sama, juga mengenai batas wilayah perbatasan. Saat itu Komisi I DPR RI menemukan perubahan tapal batas negara di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yaitu Camar Bulan dan Tanjung Datu.

Insiden salah cetak bendera Indonesia adalah yang kesekian puluh kali dari renteten konflik diplomasi antara Malaysia dan Indonesia. Terlepas disengaja atau tidak, karena masih sedang diselidiki, Pemerintah Malaysia telah meminta maaf. Masalahnya, sampai kapan “rasa permusuhan” antar-negara tetangga ini terus dipelihara, dan bisa menyeruak kapan pun meski hanya dipicu masalah kesalahan teknis cetak. Sampai kapan pula, Malaysia yang sekarang merasa maju secara ekonomi menganggap rendah Indonesia sehingga muncul istilah “Indon” bagi TKI di sana, dan juga istilah-istilah merendahkan lainnya.

Insiden kecil salah cetak bendera, lebih dari cukup untuk membuktikan betapa Malaysia sampai saat ini masih “menyepelekan” posisi Indonesia, baik dari segi kesalahan itu sendiri (sengaja atau tidak), maupun dari segi cara penyelesaian diplomatiknya. Sebetulnya, inilah saat bagi Pemerintah untuk menyatakan sikap diplomatik: Malaysia, cukup! []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here