Institut Mantan Presiden

0
83

PERESMIAN The Yudhoyono Institute, Jumat malam kemarin, menambah daftar lembaga serupa yang didirikan para presiden yang pernah memimpin Indonesia. Sebelumnya sudah ada The Habibie Centre, The Wahid Institute, dan Megawati Institute.

Semua lembaga itu mempunyai tujuan amat mulia. The Habibie Centre bertujuan membangun manusia Indonesia yang unggul di bidang teknologi. The Wahid Institute  berusaha membangun pemikiran Islam moderat yang mendorong demokrasi.  Megawati Institute bergerak di usaha pembumian nilai-nilai Pancasila.  Sementara The Yudhoyono Institute, akan bergerak dalam kajian masalah strategis nasional, regional dan global.

Artinya, apa pun hasil kajian mereka terhadap permasalahan bangsa, penting dipertimbangkan oleh semua anak negeri ini, terutama pemerintah yang sedang berkuasa. Sebab, tentunya sisi ilmiah kajian itu diperkaya oleh aspek emperik yang bersumber dari pengalaman selama menjadi presiden.

Kita ingin menyentuh sisi lain dari tujuan mulia itu, yakni posisi politik masing-masing tokoh utamanya.

Ada perbedaan mendasar di antara tokoh utama dari masing-masing lembaga itu. Habibie sudah total pensiun dari politik. Abdurrahman Wahid sudah berpulang, dan keluarganya sejauh ini tidak menunjukkan indikasi akan terjun ke politik praktis.

Tidak demikian dengan SBY dan Megawati. Keduanya adalah pendiri partai dan aktif sebagai ketua umum di partainya masing-masing.

Itu memang hak pribadi mereka. Tapi dalam kaitan institut yang bertujuan mulia itu, ada yang perlu diberi catatan. Kajian ilmiah mensyaratkan netralitas, sementara berpartai menuntut keberpihakan. Karena itu, sebagus apa pun kajian The Yudhoyono Institute dan Megawati Institute, kesan tidak memihak sukar dihindari. Kalau begitu, objektivitas kajian bisa jadi diragukan. Lain halnya kalau lembaga itu memang dikhidmatkan untuk kepentingan politik partai masing-masing.

Sebab itu, penting kiranya diusulkan, mereka harus lepaskan kedudukan sebagai pemimpin partai. Di titik tersebut, urgensinya jauh lebih tinggi dari sekadar soal “per-institut-an” itu.

Dengan mendirikan lembaga kajian untuk kemaslahatan bangsa, SBY dan Megawati sudah menjejakkan kaki ke tingkatan negarawan. Negarawan mengharamkan keberpihakan kepada apa pun, kecuali kepada bangsa dan negara.

Itu dari sisi idealistiknya. Dari sudut praktisnya, siapa pun tahu SBY dan Megawati seteru abadi. Perseteruan itu mengimbas ke pemerintahan. Ketika SBY memerintah, Megawati seperti memegang kampak perang bersama partainya. Ketika pemerintahan di tangan PDIP seperti sekarang, SBY gatal pula tangannya, sehingga terucaplah kata abuse of power seperti kemarin, yang membuat Presiden Joko Widodo dan PDIP membelalak.

Barangkali muncul alasan pembelaan, bahwa perlawanan Megawati kepada pemerintah SBY dan kritik tajam SBY kepada pemerintahan Jokowi, adalah dalam rangka memberi masukan agar pemerintah tak salah arah. Tetapi, karena tindakan itu dilakukan dalam predikat pemimpin partai, pesan yang muncul justru menjadi negatif. Alih-alih masukan diterima, yang terjadi hanya kegaduhan.

Kegaduhan politik yang terjadi sebenarnya lebih karena faktor-faktor emosional antara pihak yang kalah dan yang menang. Pertarungan politik di lapisan elite negeri ini sama sekali jauh dari muatan substansial menyangkut kemaslahatan bangsa. Dan salah satu sumber konflik emosional itu adalah para “war-lord” politik saat ini: Megawati, SBY dan Prabowo. Sebab, di antara mereka ada pengalaman pahit yang sangat pribadi dalam relasi di masa lalu, yang anehnya (atau konyolnya?) terbawa (atau dibawa) ke politik.

Tapi, okelah. Memelihara dendam atau menguburnya, itu urusan mereka. Mundur atau tidak dari jabatan partai, itu juga sepenuhnya hak mereka. Karena memang tidak ada larangan seseorang yang pernah menjadi presiden untuk menjabat pemimpin partai politik.

Tetapi, jangan dilupakan, sebagai orang yang pernah jadi presiden, dalam diri mereka melekat berbagai fasilitas yang diberikan negara. Jadi, ada soal kepatutan di sini. Paling tidak ini dululah yang perlu mereka pertimbangkan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here