Investasi Pabrik Gula Bodong di Blitar Picu Gejolak

1
632
Warga Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, menutup akses jalan yang digunakan untuk kegiatan pembangunan pabrik gula PT Rejoso Manis Indo yang merampas tanah desa sepanjang 500 meter dengan lebar 4 meter.

Nusantara.news, Blitar – Kabupaten Blitar segera memiliki pabrik gula baru. Ada tiga investor. Dari Penanam Modal Dalam Negeri (PMD) serta Penanam Modal Asing (PMA), yakni PT Rejoso Manis Indo, PT Olam Sumber Manis, dan PT Kencana Gula Manis.

Dari ketiga investor ini, dua investor segera merealisasikan kegiatannya, bahkan sampai tahap produksi. Sayangnya, banyak terjadi pelanggaran dalam pembangunannya. Sebelumnya pembangunan PT Rejoso Manis Indo (RMI) yang sebelumnya bernama PT Mauryek Indovest di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, sempat menimbulkan berbagai permasalahan dengan warga. Saat itu PT Mauryek Indovest dituding warga telah menyerobot akses jalan desa seluas 840 meter persegi sepanjang 300 meter. Akses jalan itu dipakai perusahaan gula untuk area pendiriañ bangunan pabrik.

Pihak perusahaan juga menyebut telah mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Kabupaten Blitar dengan Nomor IMB No 503/103/409.117/DPM PTSP/IMB/V/2017. Bahkan mengklaim sudah memiliki ijin lokasi dan ijin prinsip, dan masih mengurus Amdal yang menjadi kewenangan pemerintah provisi dan pusat.

Warga menutup akses jalan yang digunakan untuk kegiatan pabrik gula, sebab ada tanah desa yang sepanjang 500 meter dengan lebar 4 meter dilalui oleh kendaraan perusahaan. Jalan desa ini melintang dari utara ke selatan yang saat ini sudah berubah bentuk, karena pengurukan yang dilakukan oleh pihak PT Mauryek Indovest. Bahkan, selain tanah desa, ada juga sungai yang merupakan saluran irigasi perkebunan warga yang sudah beralih fungsi. Lokasi sungai ini berada di tengah area pabrik, sehingga tidak lagi berfungsi sebagai saluran irigasi warga.

Pemerintah Desa Rejoso kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Urusan Negara (PTUN) di Surabaya. Gugatan ini dilakukan karena Pemerintah Kabupaten Blitar telah menerbitkan IMB tanpa sepengetahuan pemerintah desa.

Padahal sebagai persyaratan untuk menerbitkan IMB, ada tanda tangan kepala desa atau lurah yang juga bertanda tangan dan menyatakan bahwa tanah tersebut tidak sedang dalam konflik dengan masyarakat. Selain itu, adanya fotokopi sertifikat tanah yang akan digunakan untuk mendirikan bangunan. Namun ini tidak ada sertifikat yang menyatakan tanah milik atau dikelola oleh PT Mauryek Indovest.

Namun setelah diakuisisi menjadi PT Rejoso Manis Indo (RMI) konflik berkepanjangan yang terjadi di area pabrik gula dapat diselesaikan dengan baik. Segala masalah terkait pendirian pabrik gula PT RMI baik masalah fungsi jalan dan juga masalah saluran atau sungai tadah hujan sudah tidak menjadi permasalahan. Bahkan atas inisiatif bersama Pemerintah Kabupaten Blitar meminta kepada PT RMI untuk mengedepankan musyawarah dan mufakat, sehingga situasi makin kondusif. Maka, pada tanggal 9 September 2017 dimulailah awal pembangunan pabrik gula PT RMI yang dihadiri oleh Muspika dan Muspida.

Dalam pembangunan pabrik gula, PT RMI telah menggelontorkan Rp2 triliun untuk pembanguanan pabrik gula di lahan seluas 30 hektare dengan kapasitas 10.000 ton tebu per hari (tones of cane per day/TCD), dan telah membangun kerja sama pasokan tebu dengan lahan petani seluas 23.000 hektare.

Pembangunan pabrik gula PT Rejoso Manis Indo di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, yang pengerjaannya sudah 40 persen.

Disampaikan Komisaris Utama PT RMI Albert Yusuf Tobugo, keberadaan pabrik tebu PT RMI akan membantu pemerintah mengurangi impor gula konsumsi. Proses produksi akan dilakukan secara efisien mulai dari kebun hingga pabrikan.

“Kami sudah memulai proses pencarian lahan sejak lima tahun lalu. Kapasitas pabrik di tahap awal sebesar 10.000 TCD tapi itu akan secara bertahap meningkat hingga 15.000 TCD. Investasi kami murni dari dalam negeri,” jelas Albert, beberapa waktu lalu.

Albert menjelaskan simultan dengan pembangunan pabrik, perusahaan tengah mengurus berbagai perizinan untuk pemasukan mesin pabrik. Pada saat tahap commissioning 2019 nanti, diharapkan pengadaan seluruh mesin sudah rampung untuk dapat meningkatkan kapasitas hingga 15.000 TCD.

Dalam rencana pengembangan industri gula konsumsi tersebut, RMI juga berencana memproduksi ethanol sebagai produk sampingan dari tebu, sehingga nantinya pabrik akan mengimplementasikan sistem limbah nol atau zero waste.

Adapun, investasi sekitar Rp2 triliun tersebut belum termasuk investasi perusahaan untuk pembangunan kebun, karena bibit dan biaya pemeliharaan akan dikucurkan langsung oleh perusahaan untuk petani.

Terkait keberadaan kebun, Albert menyebut perusahaan telah menjalin kerjasama dengan petani tebu di sekitar pabrik, dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) yang juga tinggal tidak jauh dari lokasi pabrik. Dengan menggaet petani sekitar, rendemen tebu diyakini akan lebih meningkat. Saat ini pihaknya sudah bekerjasama dengan petani tebu dengan lahan 20.000 hektare, dan lahan yang dikelola LMDH sebesar 3.500 hektare.

Menurutnya, proses pengadaan lahan sempat buntu karena meski menjajaki sejak lima tahun lalu, perusahaan hanya mampu mengumpulkan 5.000 hektare. Dalam setahun terakhir, regulasi Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memungkinkan perusahaan untuk menjalin kerjasama dengan petani.

Sayangnya, pembangunan yang sedang berlangsung di Rejoso sejak enam bulan terakhir ini, masih menimbulkan tanda tanya atas kesediaan lahan tebu di Blitar. Pasalnya, PT RMI yang memiliki kapasitas produksi sebesar 10.000 TCD bahkan dalam laporan tertulisnya saat ini telah siap dengan install mesin sebesar 15,000 TCD, hal ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Blitar dalam mempersiapkan ketersediaan lahan tebu di wilayah Blitar. Sebab dalam kajian ketersediaan lahan di Blitar yang ada saat ini hanya menghasilkan sekitar 4,2 juta ton tebu per tahun, sementara kapasitas giling dari PT RMI sebesar 4,5 juta ton per tahun. Itu PT RMI.

Belum terselesaikan tantangan ini, Pemerintah Kabupaten Blitar mengundang PT Olam Sumber Manis (OSM) di Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Pabrik tebu ini sudah memiliki ijin dari Pemkab Blitar yang diteken oleh Bupati Blitar Rijanto pada 27 September 2017. Ijin dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Kabupaten Blitar itu tertera dengan No 25/35/IP/PMDN/2017, Nomor perusahaan 13936.2017 tanggal 15 September 2017. Belakangan ini menjadi masalah.

Disebutkan pula rencana pembangunan pabrik gula dengan luas tanah 815.613 meter persegi itu sudah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Blitar Perda No. 5 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Blitar 2011-2031, sebagaimana rekomendasi BKPRD Nomor: 050/686.2/409.201.3/2017 tanggal 26 September 2017.

Sayangnya, lokasi lahan tersebut sampai sekarang dianggap telah menyalahi prosedur. Sebab belum ada pembebasan lahan atas tanah tersebut. Menurut Triyanto, ketua Komite Rakyat Pemberantasan Korupsi (KRPK) Kabupaten Blitar, sampai saat ini PT OSM belum melakukan pembebasan tanah di lahan milik rakyat yang diketahui dekat dengan kawasan Parhutani.

“Aneh sekali, ijin PT OSM telah keluar tapi lahan itu masih milik rakyat. Ini aturan dari mana. Pemkab Blitar sengaja ingin menciptakan konflik,” sebutnya pada Nusantara.News.

Lokasi investasi ‘bodong’ pabrik gula PT Olam Sumber Manis di Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Tampak insfrastruktur belum memadai. Sejumlah warga pemilik lahan menyebut belum ada sosialisasi pembebasan lahan. Namun ijin pendirian pabrik gula atas nama PT Olam Sumber Manis sudah diterbitkan Bupati Blitar.

Terungkap dari data yang dikumpulkan KRPK, PT OSM yang selama ini beroperasi dalam bidang perdagangan, pengolahan, dan perkebunan, telah menawarkan pembelian lahan milik rakyat Blitar itu hanya berbekal ijin kepada Mitr Phol Grup dari Thailand. Hal itu terungkap dari surat dari kedutaan besar RI di Bangkok dengan Nomor B-00026/Bangkok/180119 yang ditujukan pada Menteri Luar Negeri, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri LHK, dan Kepala BKPM.

Disebutkan Mr. Krisda Monthienvichienchai selaku CEO Mirt Phol pada Desember 2017 telah membeli 50 persen saham PT OSM Singapura senilai USD 100 juta. Mirt Phol lantas memulai investasinya di Indonesia dengan menguasai operasi PT Dharmapala Usaha Sukses, pabrik gula di Cilacap, Jawa Tengah. Selain itu dalam pengembangan bisnisnya, Mirt Phol telah memulai proses pembangunan pabrik gula di Blitar, Jawa Timur. Direncanakan pabrik gula ini akan dimulai beroperasi tahun 2020 dengan kapasitas serapan 1,2 juta ton tebu dari petani.

KRPK menyebut, hingga detik ini masyarakat Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan, belum menerima sosialisasi pembebasan lahan. Pertanyaannya, bagaimana mungkin ijin pembangunan pabrik gula sudah keluar padahal belum ada pembebasan lahan.

“Ini yang jadi pertanyaan kami. Saat kami turun ke masyarakat, mereka sama sekali tidak mengetahui lahannya akan dibebaskan. Artinya di sini ada pembohongan publik. Tidak hanya itu, investasi yang menyebutkan PT OSM dan Mirt Phol telah proses pembangunan pabrik gula adalah bohong. Ya, ini namanya investasi bohong. Pemerintah telah dibohongi. Ini justru aset rakyat mau dicaplok,” terang Triyanto.

Ditambahkan Triyanto, sebenarnya kalau dipaksakan PT OSM hanya memiliki kapasitas kurang dari 2.000 (tones of cane per day/TCD). Artinya hal ini sudah tidak mungkin, apalagi ada statement dalam surat tembusan kedutaan besar Thailand untuk Indonesia yang menyebutkan bahwa PT OSM akan berproduksi dengan menyerap 1,2 juta tebu per tahun. Hal ini tolong digarisbawahi oleh Pemerintah Kabupaten Blitar. Dasar mereka adalah kajian potensi lahan tebu tahun 2013 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Blitar yang selalu berdalih pembenaran berdirinya 2 pabrik gula di wilayah tersebut.

“Pemkab Blitar jangan terlalu mudah mengundang investor ke wilayah Blitar. Sebab perlu kajian diperbaharui atau direvisi dan disesuaikan dengan realitas eksisting lahan tanam tebu yang ada, sehingga tidak menjadi boomerang bagi pemerintah Blitar,” ungkap Triyanto.

Apabila merujuk pada kapasitas produksi gula PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X yang memiliki kapasitas 12.000 ton tebu per hari (tones of cane per day/TCD). Dilihat dari olah tebu gula halus selama 354 hari/12 bulan dengan memperhatikan hari giling pabrik gula selama 165 hari, maka diperlukan dua pabrik gula yang menyerap 4,2 juta ton tebu per tahun.

“Sedangkan PT RMI sudah menyerap tebu 4,5 juta ton per tahun, dan apakah mungkin PT OSM yang ada saat ini telah diberikan perizinan lokasi hanya sebatas investasi fiktif yang berujung pada keuntungan perusahaan asing di daerah Blitar. Ini jadinya tidak relevan,” urainya.

Tidak hanya itu, dua pabrik gula PT RMI dan PT OSM lokasinya sangat berdekatan, yakni hanya berjarak kurang lebih 10 kilometer saja. “Dilihat dari sini saja, sangat tidak mungkin dua pabrik gula berdiri dengan lokasi berdekatan. Bagaimana cara mereka menyerap tebu dari petani. Pasti akan terjadi konflik horizontal, terutama dari petani tebu,” imbuhnya.

Pihaknya juga mempertanyakan keluarnya ijin pembangunan pabrik tebu dari Bupati Blitar. “Entah apa yang dipikirkan Bupati Blitar hingga ijin investasi bodong itu bisa keluar. Sementara infrastruktur di lokasi belum memadai,” sebut Triyanto.

Karena pada 14 Februari 2018, KRPK mengajukan permohonan hearing dan audiensi pada DPRD Jatim terkait hasil kajian serta investasi yang diduga bodong terkait rencana pendirian pabrik gula oleh PT OSM di Desa Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

“Kami berharap DPRD Jatim mau menerima. Rencananya kami juga akan demo di depan gedung DPRD Jatim. Sebab, pendirian pabrik gula ini ada indikasi terjadinya KKN dari PT Olam Sumber Manis terhadap Pemkab Blitar. Selain itu, kami mendesak pihak DPRD Jatim agar dapat mengantisipasi masalah ini, mengingat bukan tidak mungkin di kemudian hari terjadi konflik masyarakat,” tutupnya.[]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here