Investor Asing Lepas Saham, IHSG Masuki Zona Merah

0
100
Aksi lepas saham oleh investor asing membuat 411 saham memasuki zona merah hari ini, Rabu (6/9).

Nusantara.news, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah mulai makan korban, saudara dekat sesama indikator ekonomi, yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terkoreksi tajam 3,76% ke posisi 5.683,5. Ini merupakan pelemahan terbesar sejak November 2015 yang terkoreksi 4,01%.

Para pelaku pasar berbondong-bondong mengonversi aset sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menukarnya dalam denominasi dolar AS. Aksi jual memaksa IHSG turun 221,8 poin dan menyeret ke bawah harga 411 saham di BEI. Hanya 32 saham yang mengalami kenaikan, sedangkan 52 saham stagnasi.

Aksi jual saham hari ini ditandai total transaksi mencapai Rp8,74 triliun, dipicu oleh pelepasan saham oleh investor asing. Net sell di pasar regular terjadi sekitar Rp892 miliar, sedangkan di pasar secara keseluruhan Rp877,36 miliar. Sehingga total net selling hari ini mencapai Rp1,77 triliun. Hari ini adalah mimpi buruk buat IHSG.

Penyebabnya satu, nilai tukar rupiah ditutup melemah kembali ke posisi Rp14.928 atau terpaut 72 poin ke posisi Rp15.000. Sore hari rupiah sempat naik ke posisi Rp14.994 atau terpaut 6 poin lagi ke posisi Rp15.000. Namun karena aksi intervensi Bank Indonesia yang deras membuat rupiah menguat kembali ke posisi Rp14.928, namun secara keseluruhan rupiah hari ini terkoreksi 72 poin.

Jika dibandingkan dengan indeks negara-negara Asia, penurunan IHSG merupakan yang tertinggi hari ini. Indeks Dow Jones berakhir melemah sebesar 0.05% ke level 25952, S&P tertekan 0.17% ke level 2896 dan Nasdaq turun sebesar 0.23% ke level 8091.

Sementara Indeks Nikkei 225 turun 0,26% ke level 22.635,750, sementara Indeks Hang Seng turun 1,75% ke 27.481,029, sedangkan Indeks Komposit Shanghai 0,76% ke 2.729,630. Demikian pula Indeks Straits Times turun 0,89% ke 3.182,230.

Penurunan pada bursa utama Wall Street terjadi seiring masih adanya kekhawatiran pasar terhadap perjanjian North American Free Trade Agreement (NAFTA) serta adanya penurunan dalam saham perusahaan perawatan kesehatan, telekomunikasi dan real estate melebihi kenaikan dalam sektor keuangan dan saham konsumen discretionary.

Faktor global menjadi penyebab dari turunnya indeks saham domestik hari ini. Hanya saja, selain faktor global, keluarnya asing dari bursa menjadi salah satu faktor utama kenapa indeks mencatatkan penurunan yang signifikan.

Asing sudah keluar dari pasar modal (capital outflow) hampir Rp50 triliun, melampaui dana keluar dari pasar modal tahun lalu. Turunnya kepemilikan asing di pasar saham cukup wajar lantaran beberapa tahun terakhir, asing secara masif masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia, India dan Filipina.

Maka ketika ada sentimen tertentu, investor asing paling banyak keluar dari tiga negara tersebut.

Dengan penurunan indeks hari ini ke level 5.683,5, artinya IHSG sejak Januari 2018 yang sempat bertengger di level tertinggi 6.700, mengalami penurunan 1.016,5 atau terkoreksi 15,17%.

Penyebab anjlognya IHSG secara keseluruhan dipicu oleh beberapa faktor global dan nasional. Pertama, efek dari perang dagang global, terutama AS dan China. Hal ini berimbas pada valuasi saham terutama yang terimbas dengan ancaman perang dagang.

Kedua, pelemahan rupiah yang dipicu oleh komplikasi perang dagang, defisit transaksi perdagangan, beban pokok dan bunga utang, kenaikan bunga The Fed, hingga impor berlebihan di sektor pangan.

Bagi para pelaku pasar, pelemahan IHSG hingga ke level 5.683,5 bukanlah kabar yang mengejutkan. Justru pasar telah mengantisipasi jauh-jauh hari dengan melepas porfolio saham.

Nilai price-to-book sebagai indikator nilai wajar saham di Indonesia hari ini memang agak mahal. Hampir tak ada obat yang bisa menormalkan angka IHSG, kecuali indeks melakukan koreksi secara alami.

Menanggapi penurunan IHSG terlemah se-Asia, Direktur Utama BEI Inarno Djayadi berencana akan mengundang para pelaku pasar. Pihaknya akan menjelaskan kondisi makro ekonomi yang masih stabil untuk meredam kepanikan pasar.

BEI ingin memberikan pencerahan kepada pelaku pasar dengan menghadirkan para pembicara dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan analis agar mereka melihat persoalan pasar secara proporsional. Disamping BEI juga ingin mengajak pelaku pasar untuk membangun persepsi yang sama agar IHSG bisa kembali membaik.

Menurut Inarno, apa yang terjadi di pasar saham saat ini hanya sekadar persepsi. Bahwa banyak pihak yang menahan dolar AS sehingga rupiah terus terpuruk. Hasil ekspor yang dikonversi ke rupiah hanya 13%. Semua simpan dolar AS, bagaimana enggak tipis pasokannya.

Untuk itu, perlu dibuat kampanye secara masif untuk menjual dolar AS. Rasa nasionalisme rakyat Indonesia yang sudah besar harus diterapkan juga di sistem keuangan.

“Kalau semua menahan dolar AS dan ekspektasi pelemahan terus ya berat ya. Oleh karena itu perlu keyakinan dari kita semua ya. Perlu menularkan nasionalisme Asian Games ke pasar modal dan keuangan Indonesia. Cintailah Rupiah,” ujarnya.

Akankah upaya otoritas pasar modal, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Bursa Efek Indonesia, mampu mengembalikan IHSG yang dinilai sudah overvalued? Atau justru IHSG sedang menuju titik equilibrium baru? Semoga mimpi buruk ini tak berlanjut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here