Iqtishadiyah 211, Umat Islam di Jawa Timur Tolak Asing dan Aseng

0
221

Nusantara.news, Surabaya – Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia saat ini termarginalkan dalam berbagai aspek, terutama Ekonomi. Padahal, kekayaan negeri ini berlimpah, ironisnya, kekayaan itu ludes disedot asing bahkan ada kekuatan besar yang ingin mengeruk habis alam Indonesia. Apakah umat Islam harus tinggal diam?

Untuk menyikapinya, sejumlah Kyai, Habaib dan cendikiawan muslim Jawa Timur berhimpun di Ponpes Riyadlul Jannah, Pacet, Mojokerto, Sabtu (21/1/2017). Mereka membangun Gerakan “Iqtishadiyah 211’. Tujuannya selain menjaga kedaulatan ekonomi dalam negeri jugapenguatan Islam ahlussunnah wal-jamaah sebagai pilar NKRI.

Gerakan ‘Iqtishadiyah 211’ ini merupakan bukti bahwa umat Islam bisa besar kalau bersatu padu. Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa umat Islam tidak boleh terbelakang secara ekonomi. Untuk itu, pemberdayaan umat Islam harus terus dilakukan baik secara moral maupun ekonomi.

“Saya setuju dan sangat mendukung. Dengan begitu umat (rakyat) tidak hanya dipandang sebagai beban oleh pemerintah, tetapi, mampu mandiri, bahkan memberikan kontribusi positif demi keutuhan bangsa,” tegas Kiai Ma’ruf kepada insan pers usai acara.

Senada, Dewan Penasehat PBNU Rais Aam menuturkan bahwa umat Islam harus membuat langkah kongret ‘Iqtishadiyah 211’, serta berharap stabilitas politik Indonesia bisa terjaga dengan baik. “Ulama berharap bangsa ini utuh, bersatu, saling pengertian, tidak mudah salah paham,” tambahnya.

Gus Solah: Negeri Ini Sudah Dijajah Asing

Hal yang sama disampaikan Pengasuh PP Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), menurutnya, pentingnya membenahi sektor wirausaha menjadi pekerjaan rumah yang utama sebagai landasan kekuatan ekonomi Indonesia, khususnya di pesantren dengan pemberdayaan ekonomi umat.

Gus Solah juga tidak mengelak soal kondisi dinamika politik Indonesia khusunya bagi ormas Islam, menurutnya gejolak perpolitikan yang tidak sehat saat ini harus disudahi dan kembali bersama-sama untuk menata Indonesia lebih baik lagi.

“Diakui bahwa kondisi bangsa ini sangat memprihatikan, apalagi dengan pemberitaaan media-media sosial yang sangat tidak bertanggung jawab. Sebagai umat Islam mari bersama-sama membangun bangsa ini dengan jalan yang selalu diridhoi Allah SWT,” tegas Gus Solah.

Gus Solah juga tak menampik jika negeri ini sepertinya sudah dijual ke investor asing yang mempunyai modal besar dan bisa menguasai segala sektor. “Ekonomi kita sudah dikuasai asing dan aseng. Umat Islam harus bangkit, baik secara moral maupun ekonomi. Kita jangan mau dijajah lagi secara ekonomi. Potensi umat Islam sangat besar, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan, Gerakan ‘Iqtishadiyah 211’ ini merupakan bukti bahwa umat Islam bisa besar kalau bersatu padu,” tandasnya.

Para ulama sadar, bahwa, saat ini ekonomi Indonesia masih dikuasai segelintir konglomerat, sehingga perlu adanya upaya pemerataan kesejahteraan, tujuannya agar tidak ada kesenjangan yang terlalu jauh. Kekuatan ekonomi asing harus dikurangi, karena ini membuat kehormatan bangsa dipertaruhkan.

“Faktanya mereka yang merasa kuat secara modal dan ekonomi bisa mempengaruhi kebijakan pemerintahan, sehingga kadang pemerintah terkesan kurang pro rakyat kecil. Karena itu umat Islam harus bersatu, jangan terkotak kotak. Dimulai dari hal yang sederhana, insya Allah akan besar dan menjadi tegaknya kedaulatan umat,” tambahnya.

Ekonomi Pesantren Yang Mandiri

Gus Solah juga menyayangkan bagaimana mungkin ada lembaga yang peduli pesantren seperti Yayasan Peduli Pesantren (YPP), bertujuan untuk memberikan suntikan dana di kalangan pesantren, ironisnya dipimpin seorang yang bukan muslim Hary Tanoesoedibjo dan Bendahara Umum Stien Maria Schouten.

“Faktanya banyak orang kita (Islam) yang justru tergiur, akhirnya ‘menggelepar’ karena kepincut dengan besarnya uang. Ini harus diatasi, dan tidak mungkin bisa, kalau ekonomi pesantren tidak mandiri,” jelasnya.

Senada, Pengasuh PP Riyadlul Jannah Pacet, Mojokerto KH Mahfudz Syaubari, yang dikenal sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia harus kuat secara ekonomi, dan dimulai dari pesantren. “Penguatan pendidikan dan ekonomi pesantren, ini sangat penting guna mencetak kader bangsa yang handal,” jelasnya.

Jadi? Ada beberpa point yang dihasilkan untuk menyelamatkan bangsa dari gerusan asing yang ingin memecah belah Islam yang pada akhirnya merusak keutuhan NKRI.

Pertama, tugas ulama adalah menyiapkan anak didik dan santri untuk menjadi mutafaqqihin. Secara organisasi membentuk umat yang berwawasan kebangsaan. Melindungi umat dari kesesatan dan kemurtadan, termasuk dari liberalisasi.

Kedua, saat ini umat Islam dan rakyat Indonesia harus bangkit menjaga kedaulatan ekonomi negara RI. Karena ekonomi Indonesia sedang dijajah oleh asing. Dari itu pesantren perlu kerjasama di bidang ekonomi secara profesional.

Ketiga, harus ingat pendiri dan pejuang NKRI adalah tokoh tokoh Islam, sehingga tongkat estafet sudah selayaknya diperankan oleh para santri dan masyarakat pribumi.  Keempat, membentuk harakah (gerakan) ‘Iqtishadiyyah 211’ untuk mendukung kedaulatan ekonomi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here