Iran Uji Rudal Buatan Rusia, Ledek Amerika?

0
298

Nusantara.news, Teheran – Militer Iran dilaporkan telah berhasil melakukan tes sistem rudal S-300 yang dibeli dari Rusia. Berita ini muncul di tengah ketegangan antara Iran dan AS, serta tak lama setelah Trump berjanji akan bersikap keras terhadap Iran.

Kenapa Iran uji rudal buatan Rusia? Sementara belakangan hubungan AS dan Rusia (Trump dan Putin) terlihat sedang “mesra”. Trump juga diisukan tengah membahas soal pencabutan sanksi senjata nuklir oleh AS terhadap Rusia. Apakah yang dilakukan Iran sedang meledek Amerika?

Pengujian terhadap efektivitas sistem rudal tersebut dilakukan di kawasan yang dijuluki Damvand, dihadiri oleh sejumlah komandan tinggi militer dan pejabat Iran.

Sebagaimana dilaporkan kator berita Iran Tasnim, Sabtu (4/3), Sistem S-300 diuji melalui simulasi kondisi peperangan elektronik dan untuk deteksi, identifikasi, intersepsi serta kemampuan menembak sasaran.

Kesepakatan pembelian sistem rudal buatan Rusia S-300 antara Rusia dan Iran terjadi pada 2007, namun kemudian terhenti setelah penerapan sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran pada pertengahan 2010.

Teheran akhirnya mencapai kesepakatan internasional pada tahun 2015 dan berjanji  untuk membatasi program pengembangan nuklir, dengan imbalan penghapusan sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan Iran.

Pada April 2015 Rusia melanjutkan pembicaraan penjualan dan pengiriman S-300 dengan Iran, dan pada bulan Desember 2016, Duta Besar Iran di Moskow Mehdi Sanayee menegaskan bahwa Rusia telah mengeksekusi kontrak.

Sistem pertahanan udara ini akhirnya dikirim oleh Rusia Februari lalu setelah bertahun-tahun mengalami penundaan. Iran telah berusaha untuk memperoleh sistem tersebut dalam menanggapi ancaman Israel, tapi Rusia telah menahan pengiriman proyek senilai USD 800 juta  selama bertahun-tahun sejalan dengan sanksi PBB yang diberlakukan atas program nuklir Iran.

Sistem rudal tersebut dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 200 kilometer yang bisa menarget berbagai benda terbang termasuk rudal balistik dan drone.

Komandan pertahanan udara Iran Jenderal Farzad Esmaili mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa Iran juga telah memiliki sistem pertahanan udara yang diproduksi dalam negeri, yang dijuluki Bavar 373, menurutnya sistem tersebut lebih maju dari S-300, dan akan segera diuji.

“S-300 adalah sistem yang mematikan bagi musuh-musuh kita dan yang membuat langit kita lebih aman,” kata sang jenderal.

Bulan lalu, Iran juga melakukan uji coba rudal balistik, dan Presiden AS yang baru Donald Trump telah memperingatkan Teheran. Menanggapi kecaman AS, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa Iran tidak akan menyerang duluan, persenjataan Iran hanya untuk mempertahankan diri jika ada provokasi.

Iran menguji rudal balistik, hanya satu hari setelah AS memberikan sanksi terkait imigrasi lewat perintah eksekutif presiden AS yang baru Donald Trump, Februari lalu.

Setelah itu administrasi Trump mengeluarkan sanksi baru terhadap Iran atas sejumlah entitas yang terkait dengan uji coba rudal balistik, ini dilakukan AS sebagai sikap keras terhadap Teheran.

Baru-baru ini, menurut sebuah laporan Kantor Naval Intelligence AS, Iran merencanakan untuk membeli sejumlah alutsista seperti kapal perang permukaan, kapal selam, dan rudal anti-kapal pada tahun 2020, yakni setelah berakhirnya embargo senjata dari PBB.

Dilaporkan juga bahwa pada Selasa pekan lalu Iran telah melakukan serangkaian latihan angkatan laut besar-besaran di perairan nasional dan internasional terdekat, latihan telah dilakukan sejak sejak awal Februari. Latihan angkatan laut Iran termasuk peluncuran Torpedo terbaru yang berlangsung sukses. []

Baca juga:

Sudah Warganya Dilarang Masuk AS, Iran Dijatuhi Sanksi

Jelang Pertemuan, Trump-Netanyahu Kompak Sikapi Iran

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here