Ironi Impor di Tengah Melimpahnya Produksi Beras

1
205
Petani membersihkan gabah dari sisa jerami setelah dipisah menggunakan mesin perontok padi, di Tulungagung, Jawa Timur, Senin (31/7). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/kye/17

Nusantara.news, Jakarta – Dalam 6 tahun terakhir, tercatat sejak 2011 hingga 2016, produksi padi nasional dalam bentuk gabah kering giling (GKG) jumlahnya terus meningkat. Terakhir kali, tahun 2016, produksi padi nasional 79,141 juta ton atau ada kenaikan 4,96% dibandingkan satu tahun sebelumnya yang mencapai 75,398 juta ton.

Sepanjang dua tahun pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla memang terjadi lonjakan kenaikan produksi GKG nasional secara signifikan. Tahun 2014 di akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono produksi GKG nasional hanya 70,846 juta ton, dan satu tahun di bawah kepemimpinan Jokowi sudah ada lonjakan produktivitas gabah sebesar 6,37%.

Produksi padi 2016 diprediksi mencapai 79.141.325 ton GKG atau meningkat 3.743.511 ton (4,97%) dari Angka Tetap (ATAP) 2015 sebesar 75.397.841. Kenaikan produksi terjadi di Pulau Jawa sebanyak 1,22 juta ton dan di luar Pulau Jawa sebanyak 2,52 juta ton. Kenaikan produksi terjadi karena naiknya luas panen seluas 919.098 hektar (ha) atau meningkat 6,51% dari 14.116.638 ha menjadi 15.035.736 ha.

Persentase kenaikan produksi padi tahun 2016 tertinggi Jambi (48,13%), diikuti Sumatera Selatan (21,81%), Kalimantan Barat (15,21%), Lampung (11,13%), Sumatera Utara (8,86%), Kalimantan Selatan (7,67%), Sulawesi Selatan (7,66%), Banten (7,56%), Jawa Barat (6,83%) dan Jawa Timur (2,93%). Memang, dalam 6 tahun terakhir, terjadi tren kenaikan produksi padi sebagaimana terlihat pada data berikut ini

Produksi beras di Indonesia didominasi oleh para petani kecil, bukan oleh perusahaan besar yang dimiliki oleh perusahaan swasta atau negara. Para petani kecil memiliki andil pasokan sekitar 90% dari keseluruhan produksi beras di Indonesia. Setiap petani itu memiliki lahan rata-rata kurang dari 0,8 hektar.

Namun, sudah mencukupi kah produksi padi nasional dengan kebutuhan konsumsi nasional? Mengutip hasil survei Survei Sosial Ekonomi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, kebutuhan beras per kapita per tahun adalah 98 Kg. Sumber lain, anehnya juga dari BPS juga menyebutkan, konsumsi beras per kapita per tahun turun dari 124 Kg menjadi 114 Kg per tahun.

Sebut saja kebutuhan per kapita mencapai 114 Kg per tahun, dengan jumlah penduduk 261,1 juta pada 2016 (BPS) maka diperlukan konsumsi beras sekitar 29,8 juta ton beras. Sedangkan panen padi dalam bentuk GKG pada 2016 mencapai 79,141 juta ton. Apabila diubah menjadi beras, dari 79,141 juta ton GKG dengan nilai konversi 62,74% akan menghasilkan beras sebesar 49,653 juta ton. Artinya ada surplus beras sekitar 20 juta ton.

Tapi kenapa tahun 2016 lalu BPS masih mencatat angka impor beras sebesar 1,2 juta ton? Entah ada kesalahan di pendataan panen atau kesalahan dalam menghitung kebutuhan beras per kapita. Keanehan ini yang mestnya diteluri sejak ujung hingga pangkal sehingga karut marut persoalan beras nasional dapat cepat diatasi apabila muncul permasalahan di lapangan.

Adanya beras impor itu, papar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Agung Hendriadi menjelaskan, besarnya impor beras itu terkait dengan sisa kontrak tahun 2015. Selain itu impor juga diperlukan sebagai beras cadangan pemerintah.  Persoalannya, dalam hitung-hitungan berdasarkan kebutuhan beras per kapita per tahun sebenarnya tahun-tahun sebelumnya juga surplus.

 

Maka menjadi sulit dimengerti apabila di satu sisi pemerintah gembar-gembor swasembada beras dengan menunjukkan angka statistik peningkatan produksi yang fantastis, namun di sisi lain, setidaknya hingga tahun 2016 yang lalu ternyata kita masih impor 1,2 juta ton beras. Terus apa gunanya pertunjukan angka-angka yang fantastis itu? Ironis memang.[]

1 KOMENTAR

  1. Impor itu adalah salah satu instrument untuk penstabil harga dibeberapa wilayah Indonesia yang tidak memiliki Lumbung Padi dan beras yang cukup, ada beberapa propinsi yang “Impor ” beras dari Propinsi tetangganya contohnya Riau, Untuk anda ketahui beras Lokal Paling Murah di Pekanbaru saat ini adalah Rp.12.000 jenis cisokan atau !R64 . Jadi pengamat Boleh tapi jangan Tendensius dan Bodoh.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here