Ironi Korban Terorisme Palsu

0
227

Nusantara.news, Jakarta – Selintas kelompok teroris (ISIS) Islam Irak dan Suriah tampak seperti teroris atau kelompok radikal revolusioner yang berkembang tahun 1880 hingga 1920-an yang berjuang untuk reformasi politik menentang pemerintahan tiran. Setelah pengakuan Hillary Clinton, ISIS yang kini bangkrut, tak lain merupakan kelompok teroris palsu yang dikendalikan teroris asli yakni Amerika. ISIS tak ubahnya agen Mossad yang diturunkan oleh Israel dalam Operasi Suzannah untuk memecah belah Mesir dan Amerika tahun 1954. Kini Irak dan Suriah sudah hancur. Irak butuh Rp1.200 triliun sedang Suriah butuh Rp4.329 triliun untuk pemulihan. Berapa bantuan Amerika?

Varian Terorisme Dunia

Menurut Black’s Law Dictionary atau kamus Amerika yang dipublikasi tahun 1951, terorisme diartikan sebagai kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia dengan maksud mengintimidasi penduduk sipil, memengaruhi kebijakan pemerintah, dan memengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau pembunuhan. Kebanyakan ahli sepakat bahwa tindakan yang tergolong kedalam tindakan terorisme adalah tindakan-tindakan yang memiliki elemen kekerasan, tujuan politik dan teror.

Oleh sebab itu tindakan teror dibedakan dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya bersifat langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah, karena kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror juga tidak sama dengan vandalisme yang motifnya merusak benda-benda fisik.

Tindakan teroris berbeda pula dengan tindakan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta , tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa.

Berbeda dengan Yakuza atau mafia Costa Nostra yang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangan.

Tindakan mafia dan lain sebagainya itu tadi memang juga menimbulkan rasa takut atau teror. Tetapi tujuan mereka lebih sempit ketimbang tujuan kaum teroris. Tujuan teror mafia sekadar memperjuangkan kepentingan sempit, sedang tujuan teroris adalah politik terkait kebijakan negara.

Dalam sejarah, aksi terorisme mengalami beberapa perkembangan. David C. Rappoport, seorang guru besar ilmu politik  di Universitas California Los Angles Amerika Serikat, yang dikenal sebagai seorang tokoh pendiri studi tentang terorisme, dalam buku “Four Waves of Teror” menyebut empat generasi atau empat varian terorisme.

Pertama, varian terorisme yang berkembang selama kurun waktu 1880 hingga 1920-an. Kelompok teroris gelombang pertama muncul dengan tujuan memenangkan reformasi politik sipil dari tindasan pemerintahan otoriter. Salah satunya adalah kelompok revolusioner yang melakukan teror terhadap keluarga Tsar Rusia. Kelompok revolusioner ini dipimpin oleh Boris Viktorovvich Savinkov yang dikenal sebagai “jenderal teror.”

Kedua, varian terorisme yang bermunculan pada kurun waktu 1920-an sampai 1960-an. Pada masa ini berkembang kelompok-kelompok yang berusaha memperjuangkan kedaulatan nasional, seperti Irish Republican Army (IRA) di Irlandia, dan Front Liberation Nationale (FLN) di Aljazair. Pejuang kemerdekaan Indonesia yang disebut belanda teroris, termasuk dalam hal ini.

Ketiga, varian teroris gelombang ketiga yang mulai bermunculan pada 1970-an. Varian yang muncul para era ini berideologi kiri revolusioner, seperti Brigade Merah Italia (Red Brigades) dan Japanese Red Army. Kelompok teroris gelombang ketiga ini menganggap dirinya sebagai pembela kepentingan negara dunia ketiga melawan kekuatan kapitalisme global.

Keempat, varian teroris gelombang keempat digerakkan oleh ideologi revolusioner serta dorongan religius. Contoh kelompok tersebut adalah Al-Qaeda. Yang menjadi karakteristik terpenting dari kelompok gelombang keempat adalah mereka tidak ragu menjadikan warga sipil sebagai korban atau target kekerasan.

Contoh kasusnya adalah serangan terhadap Gedung World Trade Center di New York City. Dan yang masih terjadi adalah aksi teror yang dilakukan ISIS di Raqqa Suriah dan di sejumlah tempat di dunia.

Selain empat varian teroris tersebut, sejumlah literatur juga menyebut terorisme oleh negara. Terorisme negara ini ada dua varian. Pertama, untuk mempertahankan kekuasaan. Terorisme jenis ini mungkin bisa disebut sebagai varian kelima dari empat varian yang dikemukakan David C. Rappoport. Kedua, untuk memperjuangkan kepentingan negara. Terorisme jenis ini mungkin bisa dikategorikan sebagai terorisme varian yang keenam.

Banyak contoh kasus tentang terorisme oleh negara atau terorisme varian yang kelima. Antara lain perang kotor di Argentina pada tahun 1970-an di mana negara menggunakan taktik-taktik teror terhadap rakyatnya sendiri. Pada 1976, militer Argentina menggulingkan pemerintahan Isabel Peron dan melakukan kampanye terhadap semua orang yang dicap subversif, yang dianggap membentuk basis sosial untuk pemberontakan kiri dengan kekerasan.

Di Indonesia terorisme oleh negara ini disebut dilakukan terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) antara tahun 1965 – 1969. Pemerintah Indonesia juga dituduh telah melakukan terorisme negara untuk mengendalikan dan menindas beberapa kelompok separatis, yaitu Aceh, Timor Timur dan Papua.

Irak pada masa pemerintahan Saddam Hussein (1979 – 2003), dianggap juga terlibat banyak serangan senjata kimia terhadap penduduknya sendiri, untuk menggagalkan aksi-aksi yang mengarah kepada revolusi, dan menenangkan kelompok-kelompok etnis. Irak juga melakukan serangan gas kimia terhadap Iran selama Perang Iran-Irak. Kejadian yang paling dikenal adalah Serangan gas racun Halabja pada Maret 1988 yang menewaskan 5.000 orang.

Contoh terorisme yang dilakukan oleh negara tetapi bukan untuk tujuan mempertahankan kekuasaan, melainkan untuk memperjuangkan kepentingan negara atau terorisme varian yang keenam, antara lain dilakukan oleh Israel dalam sejumlah kasus.  Antara lain penggunaan rakyat sipil Palestina sebagai tameng manusia, operasi-operasi pembunuhan yang dilakukan Israel dan Mossad, serta operasi pembunuhan tokoh Arab yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.  Taktik-taktik kontroversial ini dinilai oleh Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdoğan dan pendiri CNN Ted Turner sebagai terorisme negara.

Israel juga melakukan terorisme negara, dalam kasus yang dikenal dengan nama  “Suzannah’s Operation” yang terjadi tahun 1954 ketika pemerintah Israel menggelar operasi teror rahasia terhadap AS dengan sandi “Operasi Suzannah.”

Operasi ini memplot membunuh warga AS dan meledakkan berbagai instalasi AS di Mesir.  Rencana Israel adalah meninggalkan barang bukti yang keliru seolah-olah rezim Mesir lah yang telah melakukan sabotase, sehingga AS di belakang Israel, berperang melawan Mesir.

Ketika itu, agen-agen Yahudi berhasil meledakkan kantor pos dan perpustakaan AS di Kairo dan Alexanderia. Naas bagi Israel, ketika akan meledakkan bioskop AS, Metro Goldway Meyer Theatere, bom agen Israel Laudewijk F. Paulus meledak premateur.

Oleh karenanya Mesir maupun AS berhasil mengungkap dan memberhentikan plot ini pada tahap-tahap awal. Contoh lain adalah Perang Enam Hari, yang terjadi pada tanggal 8 Juni 1967. Selama perang enam hari ini, Israel juga melakukan tindakan teror yang serius terhadap AS.  Pada waktu itu, Israel menggunakan pesawat tempur dan kapal-kapal torpedo tanpa identitas untuk melancarkan serangan terhadap kapal angkatan laut AS, USS Liberty. Serangan ini menewaskan 34 orang dan melukai 171 orang.

Terorisme Palsu

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, bom Surabaya tidak hanya terkait aksi teror ISIS tingkat global, tapi juga pembalasan atas peristiwa yang terjadi di tingkat nasional. Menurut Tito, aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo ini merupakan balasan atas penangkapan pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid dan Jamaah Ansharut Daulah, kelompok yang terafiliasi ISIS di Indonesia, yaitu Aman Abdurrahman.

“Saya sampaikan, diduga pembalasan kelompok JAD karena pimpinannya, Aman Abdurrahman pada Agustus lalu tak dibebaskan,” kata Tito Karnavian di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Senin (14/5/2018).

Siapa ISIS? Cikal bakal ISIS adalah almarhum Abu Musab al-Zarqawi, warga Yordania yang mendirikan Tawhid wa al-Jihad di tahun 2002. Setahun setelah invasi Irak yang dipimpin Amerika Serikat, Zarqawi menyatakan dukungan kepada Osama Bin Laden dan membentuk Al Qaeda di Iraq (AQI).

Taktik Zarqawi dipandang pemimpin Al-Qaida sebagai terlalu ekstrem. Tahun 2006, AQI mendirikan organisasi Negara Islam di Irak (ISI) yang kemudian melemah karena peningkatan pasukan AS dan pendirian dewan Kebangkitan oleh suku Arab Sunni yang menolak kebrutalan. Setelah menjadi pemimpin di tahun 2010, Baghdadi membangun kembali ISI. Mereka bergabung dalam pemberontakan menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad, mendirikan Front al-Nusra.

April 2013, Baghdadi mengumumkan penggabungan pasukannya di Irak dan Suriah dan diciptakannya Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Juni 2014, ISIS menguasai Kota Mosul, dan maju ke selatan menuju Baghdad. Pada akhir bulan Juni, setelah mengkonsilidasi penguasaan beberapa kota, ISIS menyatakan pendirian khalifah dan mengubah nama menjadi Negara Islam (Daulah Islamiyah).

Apakah ISIS murni gerakan milisi? Pengakuan  mantan Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton, ISIS adalah buatan dan dibiayai Amerika Serikat yang pembentukannya diumumkan 5 Juni 2013.

Apa tujuannya Amerika membentuk dan membiayai ISIS? Tidak lain adalah untuk memecah belah Timur Tengah, dan sudah barang tentu di balik semua itu ada kepentingan ekonomi, politik dan sebagainya.

Oleh sebab itu, terorisme ISIS tidak dapat disamakan dengan terorisme varian pertama, yang berkembang selama kurun waktu 1880 hingga 1920-an, dan berjuang untuk memenangkan reformasi politik sipil dari tindasan pemerintahan otoriter sebagaimana dilakukan kelompok revolusioner yang dipimpin jenderal teror  Boris Viktorovvich Savinkov terhadap keluarga Tsar Rusia.

Terorisme ISIS yang mengatakan mengusung pembentukan khilafah yaitu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran Islam di mana aspek-aspek yang berkenaan dengan pemerintahan seluruhnya berlandaskan ajaran Islam, hanya klaim.

Kelompok teroris ISIS dengan demikian juga tidak masuk dalam teroris yang dikategorikan David C. Rappoport sebagai kelompok teroris varian keempat yakni teroris yang mengusung ideologi revolusioner serta dorongan religius. Sebab, Amerika Serikat sebagai pembentuk dan pembiaya ISIS sudah barang tentu sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.

Masuk dalam varian mana teroris ISIS. Tidak dapat dipungkiri, ISIS masuk teroris varian keenam, atau teroris negara (Amerika Serikat) yang dibentuk dan dioperasikan untuk memperjuangkan kepentingan Amerika Serikat.

ISIS tidak ubahnya agen Mossad  yang sengaja diturunkan Israel untuk melakukan aksi terorisme negara dalam operasi yang dikenal dengan nama  “Suzannah’s Operation” tahun 1954, yang bertujuan menyulut perang antara Mesir dan Amerika di mana Israel berada di belakang Amerika.

Bedanya, apabila dalam “Suzannah’s Operation” Israel menjadikan agen-agennya sebagai teroris, sedang dalam dalam kasus ISIS, Amerika menjadikan ISIS sebagai terorisnya.

Mengapa Amerika kemudian menyerang ISIS yang sebelumnya sudah menguasai Mosul, Tikrit, Falluja dan Tal Afar di Irak dan Raqqa di Suriah, juga menguasai lapangan minyak? Karena kepentingan Amerika terhadap ISIS sudah tercapai, atau ISIS mulai bergerak sendiri dan karena itu harus dihentikan.

Aksi terorisme ISIS di Irak dan Suriah kini sudah bangkrut. Pimpinan ISIS Abu Bakr al-Baghdadi kini tidak diketahui keberadaannya. Rusia mengklaim Abu Bakr al-Baghdadi sudah terbunuh. Namun ada spekulasi Abu Bakr al Baghdadi masih hidup, dan berkat bantuan pengikutnya bersembunyi di sebuah daerah bernama Al Jazeera.

Irak dan Suriah kini sudah dihancurkan oleh ISIS. Voice of Amerika (VOA) melaporkan, Irak diperkirakan membutuhkan dana sekitar 88,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.200 triliun untuk membangun kembali kota-kota yang dihancurkan ISIS.

Apa kata Amerika atas kebutuhan dana itu? Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengatakan, akan mengumumkan bantuan lebih dari 3 miliar dollar AS atau hanya Rp40,9 triliun.

Sementara Suriah, menurut Badan Agenda Nasional untuk Masa Depan Suriah (NAFS) yang bekerja bersama Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan hingga hari ini total biaya Perang Suriah mencapai 327 miliar dolar, atau Rp4.329 triliun. Jumlah tersebut adalah kalkulasi dari 227 miliar dolar akibat pengangguran, dan 100 miliar dolar akibat kerusakan fisik.

Apa kata Gedung Putih terkait bantuan untuk pemulihan Suriah setelah diluluhlantakkan oleh ISIS yang dibentuk dan dibiayai Amerika? Semula Amerika mengatakan akan membantu. Namun, Kantor Berita The Wall Street Journal (WSJ), Jumat 30 Maret 2018 melaporkan, Gedung Putih telah menginstruksikan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat untuk membekukan dana bantuan lebih dari USD200 juta atau setara Rp2,7 triliun yang diperuntukkan bagi upaya pemulihan di Suriah.  Menurut WSJ, laporan tersebut muncul satu hari usai Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan niatnya berhenti terlibat dalam konflik Suriah sesegera mungkin. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here