ISIS Kuat Karena Negara Dalang

0
85
Pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi

Nusantara.news, Jakarta  – Mampukah Densus 88 menghadapi kekuatan ISIS Indonesia? Pertanyaan ini sangat tergantung pada pertanyaan, apakah yang bergerak di Indonesia hanya ISIS Indonesia atau ISIS Indonesia didukung atau dibackup diam-diam oleh suatu negara tertentu atau negara dalang, seperti ISIS di Suriah dan Irak yang awalnya didukung Amerika Serikat sebagaimana diakui oleh mantan Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton?

Jika ISIS Indonesia bergerak sendiri tanpa didukung negara dalang, maka bentuk aksi yang muncul tidak akan dalam bentuk perang dengan menurunkan peralatan perang seperti di Irak dan Suriah. Kalau ada perang, bentuknya sebatas gerilya di pedesaan.

Selebihnya, sksi yang muncul akan terbatas pada aksi teror seperti yang sudah dikenal selama ini, seperti aksi peledakan bom, aksi menghunus samurai seperti di Riau, atau mungkin akan dikembangkan dengan aksi menabrak orang dengan kendaraan sebagaimana terjadi di London Bridge 3 Juni 2017, di mana sebuah mobil van melaju kencang dan menabrak dengan membabi-buta, menewaskan enam pejalan kaki dan 3 teroris.

Aksi seperti ini relatif tidak mengerikan sebagaimana terjadi di Irak dan Suriah. Aksi seperti ini juga sudah biasa dihadapi oleh Densus 88.

Jenis aksi seperti ini, diyakini bahkan bisa diredam oleh Densus 88, karena informasi tentang pelaku dan jaringan teroris di Indonesia relatif sudah dikuasai atau sudah teridentifikasi oleh Densus 88. Penguasaan itu tidak saja hasil kerja intelijen, tetapi juga diperoleh dari kesaksian tersangka atau saksi dari teroris yang diadili di pengadilan, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, jika revisi UU Teroris dengan klausul yang diajukan pemerintah, di mana terduga teroris bisa ditahan hanya dengan dua alat bukti permulaan, maka Densus bisa melakukan penangkapan sebelum mereka beraksi. Sebab, mengumpulkan dua alat bukti permulaan dalam batas batas tertentu bukan perkara sulit. Dua alat bukti itu bisa diperoleh dari kegiatan teroris yang marak beredar melalui internet.

Lain halnya kalau ISIS didukung oleh suatu negara dalang sebagaimana terjadi saat awal- sampai tiga tahun ISIS berperang Irak dan Suriah. Kalau ISIS didukung negara dalang apalagi sekelas Amerika Serikat, maka situasinya bisa berkembang seperti di Suriah dan Irak, di mana ISIS Indonesia akan didukung oleh ISIS internasional dan mungkin juga disusupi tentara profesional yang menyamar sebagai ISIS ditambah dengan masuknya persenjataan yang dibeli di pasar gelap dan disalurkan melalui jalur gelap.

Dukungan negara dalang tersebut juga akan membuat situasi tidak kondusif. Apalagi jelang  pemilihan presiden seperti sekarang ini, keterlibatan negara dalang akan memecah belah kekuatan politik dan seterusnya.

Dalam perspektif ini Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) berisi pasukan super elit dari tiga matra TNI, yakni Sat-81 Kopassus, Denjaka TNI AL, dan Bravo 90 TNI AL, yang akan diaktifkan kembali, menjadi sangat urgen.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah ada peluang negara dalang masuk membonceng ISIS Indonesia?

Mengacu pada keberadaan Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya sumber daya alam, maka kemungkinan itu tentu saja ada. Sebab terorisme sekarang ini bukan lagi terorisme dari kaum idealis radikal melawan pemimpin tiran seperti terjadi di Rusia di zaman Tsar, atau terorisme rakyat melawan pemerintah penjajah sebagaimana terjadi di sejumlah negara termasuk Indonesia pada masa penjajahan Belanda, atau terorisme negara ketiga yang miskin melawan negara kapitalis rakus.

Terorisme sekarang ini merupakan bentuk lain dari penjajahan. Hanya saja, penjajahnya tidak terang-terangan seperti jaman dulu. Penjajahnya sekarang ini bertindak sebagai dalang, dan pasukan yang diturunkan bukan pasukan negara dalang, melainkan pasukan di dalam negara yang dijajah itu sendiri, yakni organisai teroris.

Inilah yang populer disebut dengan proxy war, atau perang para kaki tangan, perang para boneka. Aktornya, merupakan kombinasi aktor negara dengan aktor non-negara. Motifnya sama, yakni pengusaan ekonomi, seperti sumber daya alam, perdagangan  dan lain sebagainya.

Negara mana yang berpotensi menjadi negara dalang yang membackup ISIS Indonesia? Salah satu kemungkinannya adalah Amerika Serikat. Mengapa Amerika Serikat, karena kiblat pembangunan Indonesia yang sejak Soeharto condong ke Amerika Serikat, sejak Jokowi berubah dan condong ke China. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here