ISIS Lakukan Serangan Total Masuk dan Kuasai Indonesia?

0
221

Nusantara.news, Jakarta –  Keterlibatan anak di bawah umur dan wanita dalam aksi teror di Surabaya Minggu (13/5/2018) dan (14/5/2018) mencuri perhatian. Banyak pihak yang bertanya-tanya bagaimana bisa anak-anak dilibatkan dalam aksi teror? Rupanya pelibatan anak-anak dan wanita itu merupakan doktrin baru Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Pelibatan anak-anak dan wanita yang pertama kali terjadi di Indonesia itu, merupakan cara ISIS mengelabui polisi. Pelibatan anak anak dan wanita ini sekaligus sinyal bahwa ISIS diduga akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk masuk, menguasai dan menjadikan Indonesia atau salah daerah di Indonesia sebagai basis baru ISIS setelah terdesak di Raqqa, Suriah.

Indonesia Basis Baru ISIS

Indonesia sangat patut meletakkan ISIS sebagai pusat perhatian. Sebab tidak kurang Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu yang mengungkapkan, bahwa ada upaya kelompok radikal ISIS memindahkan basisnya di Asia Tenggara dari Marawi di Filipina ke Indonesia.

“Pemindahan itu sudah disiapkan dengan matang oleh para simpatisan ISIS di Indonesia. Pemindahan tersebut adalah perintah dari pimpinan ISIS di Kabul, Afghanistan,” kata Menhan saat memberikan pernyataan kepada pers di Jakarta, Senin (14/5/2018).

Faktanya, ISIS memang pula sudah terdesak di Raqqa, Suriah.  Pimpinan ISIS Abu Bakr al Baghdadi sendiri sekarang tidak diketahui keberadaannya.

ISIS juga sudah terdesak di Marawi, Filipina, sehingga masuk akal jika Indonesia dirancang sebagai basis baru.

Indonesia memang pula memiliki peluang menjadi basis ISIS yang baru pengganti Raqqa, karena jumlah anggota ISIS di Indonesia sangat banyak. Menurut pengamat teroris Al-Chaidar, yang juga dosen Ilmu Politik Universitas Malikussaleh, jumlahn anggota ISIS di Indonesia mencapai 2 juta orang yang tersebar di sejumlah basis gerakan meliputi Medan, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Yogyakarta, dan Bandung.

Tidak ada keterangan, apakah jumlah ini termasuk orang yang pernah masuk ke Suriah atau Raqqa atau yang sempat terbang ke Turki tetapi tidak sempat masuk ke Suriah karena dipulangkan oleh pemerintah Turki.  Yang jelas, jumlah orang Indonesia yang sempat terbang ke Turki dan dipulangkan ke Indonesia sebelum masuk Suriah, cukup banyak.

Menurut data dari Kementerian Dalam Negeri Turki seperti dilansir News.com.au, Sabtu (15/7/2017), dari total 4.957 militan asing ISIS yang ditangkap di Turki, warga Rusia adalah yang terbanyak di dunia, yakni 804 orang. Militan terbanyak kedua adalah militan ISIS dari Indonesia yang jumlahnya mencapai 435 orang.

Berdasarkan fakta-fakta ini maka teror di Mako Brimob dan Surabaya tidak pada tempatnya dipandang sebagai sebuah peristiwa yang terjadi atau dipicu oleh suatu kasus tertentu seperti kasus makanan, alias kasus yang bersifat insidentil. Sebab, diduga kuat, dua peristwa yang terjadi secara beruntun itu merupakan rangkaia dari gerakan ISIS untuk mulai masuk, bergerak dan selanjutnya menguasai Indonesia dan menjadikan salah satu kota di Indonesia sebagai basis utamanya.

Sinyal ini tercium kuat dari penangkapan anggota ISIS di Cianjur sebelum melakukan aksi teror sebelum teror di Surabaya.  Kemudian, pada Selasa (15/5/2018) juga terjadi baku tembak antara tim Densus 88 dengan kelompok terduga teroris di kawasan Kelurahan Manukan Kulo, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Jawa Timur. Hal sama terjadi di Medan.

Entah aksi apa lagi yang akan terjadi. Semua ini semakin meyakinkan bahwa di internal ISIS tampaknya sudah diumumkan, saatnya masuk, bergerak, dan menguasai Indonesia.

Serangan Total ISIS

Militansi ISIS sudah tidak diragukan, terutama yang pernah berperang atau belajar perang di Afganistan atau Suriah.

Dunia sudah mengetahui militan ISIS sudah digembleng atau sudah diradikalisasi. Ada empat radikalisasi yang dilalui.

Pertama, agitasi, antara lain dengan memainkan hal yang sangat personal, seperti kemiskinan, trauma, ketidakadilan tanpa harapan, dan ketakutan.  Kedua, tahap identifikasi diri dalam kelompok atau grup dengan menekankan pentingnya merasa memiliki ikatan.  Tahap ketiga melalui Indoktrinasi meliputi peningkatan kapasitas, jaminan pribadi.  Tahap keempat, tahap ekstrimisasi melalui aksi, pengorbanan, dan menyerahkan diri secara utuh demi kepuasan diri.

Belum lagi latihan militer yang mereka jalani seperti di Aceh, Poso dan lain sebagainya. Aksi militan ISIS di Mako Brimob membuktikan militansi dan keahlian perang mereka.

Jumlah anggota ISIS di Indonesia yang mencapai 2 juta orang juga menjadi persoalan tersendiri. Jumlah ini tidak setara dengan jumlah anggota Densus 88 yang katakanlah mencapai 2.000 orang. Bahkan juga tidak setara dengan jumlah seluruh peronel kepolisian yang menurut Kapolri Tito Karnavian mencapai 430 ribu personel pada tahun 2016.

Pelibatan anak anak dan wanita menjadikan ISIS tidak saja semakin kuat, tetapi juga semakin memperluas ruang gerak.

Pelibatan anak anak dan wanita yang merupakan doktrin baru jihad global ala ISIS itu, menurut pengamat terorisme dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Zaki Mubarak pelibatan anak anak dan wanita itu dilatabelakangi sejumlah kepentingan.

Analisa Zaki, alasan utamanya adalah karena ISIS mulai kekurangan sumber daya anggota laki-laki dewasa karena tewas dalam medan perang atau ditangkap oleh pemerintah negara setempat.

Menurut Zaki aksi ISIS yang menggunakan anak-anak dalam serangan bom seperti di Surabaya itu pernah terjadi di Damaskus, Suriah pada  Desember 2016. Sebuah rekaman video beredar di Internet memperlihatkan adegan militan ISIS memberikan ceramah kepada dua anak perempuan, berusia kurang dari sepuluh tahun.  Di badan salah seorang anak itu kemudian dipasangkan rangkaian bom yang diaktifkan menggunakan kendali jarak jauh. Dalam adegan selanjutnya diperlihatkan kedua bocah yang membawa bom itu berjalan memasuki kantor polisi Damaskus, Suriah, dan kemudian terjadi ledakkan.

Pelibatan anak-anak dan wanita juga berkaitan erat dengan tipu muslihat ISIS. Anak-anak lebih mudah mengelabui aparat kemanan dan masyarakat, ketimbang menggunakan lelaki dewasa. Sebab pola serangan seperti ini belum dikuasai oleh aparat kepolisian.

“Kan selama ini kepolisian cuma fokus pada lelaki berjenggot, yang punya karakteristik seperti teroris. Anak-anak kan sosok yang jauh dari prediksi dan perkiraan kepolisian, makanya mereka disuruh untuk melakukan aksi bom bunuh diri,” kata Zaki.

Alasan lain, menurut Zaki, adalah untuk menyebarkan propaganda kepada pengikut dan simpatisan ISIS yang tersebar supaya lebih memacu diri dalam berjihad. Menurutnya, hal itu adalah salah satu taktik ISIS untuk membangun emosi para pengikutnya sebelum beraksi.

“Melalui pelibatan anak-anak dan wanita itu terselip pesan, ‘Apakah Anda tak malu dengan anak-anak ini?’ Mereka mengajak, ‘Jangan berleha-leha di rumah, karena anak-anak saja sudah masuk ke medan perang, apakah kalian para pemuda tak malu?,” kata Zaki.

Menurut Zaki, ISIS juga sudah mengembangkan iming iming atau janji untuk pengantin bom bunuh diri. Para pengantin bom bunuh diri, saat ini tak lagi diperdaya dengan janji bertemu dengan 72 bidadari yang ada di surga. Saat ini para perekrut menanamkan keyakinan pelaku akan masuk surga secara bersama-sama jika dalam serangan turut mengajak keluarga.

“Saya melihat ada keyakinan keagamaan ketika mereka melakukan aksi bom bunuh diri bersama keluarga, maka akan bersama-sama dibangkitkan di surga,” kata Zaki.

Jadi, konsepnya bukan lagi bertemu 72 bidadari di surga seperti yang  dipopulerkan oleh gembong teroris Noordin Mohamad Top pada era 2005-2006. Saa ini konsepnya, mereka dibangkitkan bersama di  alam surga.

Sedemikian rupa, militansi, radikalisasi, pergeseran konsep bom bunuh diri, doktrin pelibatan anak-anak dan wanita,  menjadi kekuatan yang tampaknya akan diimplementasikan ISIS dalam melakukan serangan secara menyeluruh atau serangan total untuk masuk, menguasai dan menjadikan Indonesia atau salah satu kota di Indonesia sebagai basis baru ISIS pengganti Raqqa.

Keterlibatan TNI

Ketua DPR Bambang Soesatyo mengemukakan, revisi UU Terorisme yang semula dijadwalkan selesai pada Juni 2018 akan dipercepat dan selesai pada bulan Mei 2018 ini juga.

Revisi UU Teroris ini akan membuat polisi memiliki payung hukum untuk melakukan tindakan sebelum terjadi aksi teror.

Pada draft revisi itu ada klausul yang mengatakan polisi sudah bisa menangkap orang yang terlibat dalam jaringan terorisme. Seseorang bisa ditangkap apabila ia berkumpul dan melakukan pertemuan dengan membahas aksi-aksi teror dan menyerempet pada aksi radikalisme.

Dalam draft revisi itu, polisi juga bisa menahan terduga teroris dengan berbekal minimal dua alat bukti. Jika sebelumnya alat bukti harus berupa aksi dan bentuk ancaman, saat ini cukup apabila terduga teroris melakukan komunikasi via surat elektronik dan alat elektronik lainnya. Data analisis transaksi keuangan juga menjadi salah satu alat bukti.

Poin-poin revisi ini sangat penting, selain memberikan keleluasaan kepada polisi, khususnya Densus 88 untuk mendekteksi rencana dan pergerakan teroris yang saat ini dilakukan melalui internet, untuk selanjutnya menangkapnya.

Jika DPR menyetujui draft revisi UU Teroris yang disusun pemerintah, maka setelah disahkan, polisi sudah bisa memburu dan menangkap seluruh terduga teroris yang ada di Indonesia. Polisi diyakini sudah memiliki catatan siapa-siapa terduga teroris di Indonesia dan diyakini sangat mampu dan memiliki payung hukum untuk mendeteksi komunikasi internet dan surat elektronik yang dilakukan teroris.

Pertanyananya, apakah setelah revisi UU teroris disahkan, dan polisi  memburu terduga teroris maka tamat pula aksi teroris di Indonesia?

Ada beberapa kendala dalam hal ini. Pertama, jumlah personel Densus 88 terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah anggota ISIS yang mencapai 2 juta orang.

Dalam hal ini pula, saatnya DPR menghentikan perdebatan tentang pelibatan TNI dalam mencegah aksi terorisme. Gerakan ISIS sudah sangat jelas bukan gerakan kriminal biasa, sehingga keterlibatan TNI menjadi keharusan.

Selain itu, dan yang tidak kurang pentingnya adalah bagaimana dengan pelibatan anak-anak dalam aksi teroris seperti terjadi di Surabaya? Apakah setiap anak terduga teroris juga ditangkap?

Anak teroris Surabaya itu, seperti dikemukakan dalam sejumlah berita,  terindikasi juga sudah diradikalisasi. Terbukti pernyataan Walikota Surabaya Tri Risma Harini tentang anak salah satu teroris yang menolak mengikuti pelajaran agama dan  pelajaran Pancasila alias Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). “Mereka punya cita-cita yang tidak biasa. Pernah ditanya, apa cita-citanya. Dia menjawab, ingin mati syahid,” ucap Risma melalui siaran pers, Senin, 14 Mei 2018.

Ini membuktikan anak terduga teroris itu sudah  teradikalisasi.

Tetapi tidak semua. Terbukti anak pelaku bom Rusunawa, Wonocolo, Sidoarjo, yang selamat, menolak diajak oleh ayahnya berjihad. Kepada kapolri Tito Karnavian, anak pelaku teroris Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo berinisial AR itu menceritakan, bahwa kegiatan ayahnya sehari-hari menjadi penjual jam tangan online dan seringkali mendengarkan ceramah melalui internet. Dia juga mengatakan bahwa ayahnya seringkali mengajaknya berjihad, namun ia menolak dengan alasan tidak sesuai pemikirannya dan bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Kepada Kapolri Tito Karnavian, AR juga membenarkan bahwa bom yang meledak pada malam itu memang milik ayahnya yang dirakit sendiri. Belajar melalui internet dan youtube. Awalnya, AR tidak memahami bahwa yang dirakit itu adalah bom hingga menyebabkan ledakan di kamar.

Kapolda Jawa Timur Irjen Machfud Arifin mengatakan anak-anak didoktrin oleh orangtuanya. Khusus di Sidoarjo, orangtua sengaja tidak menyekolahkan anaknya. Anak-anak itu selalu dibawa ke pengajian jaringan radikal.

Orangtuanya menyuruh sang anak mengaku homeschooling jika ditanya oleh orang lain. “Padahal tidak ada sekolah, dituntun, dikurung dengan doktrin-doktrin khusus,” ujar Machfud saat jumpa pers di Mapolda Jatim, Selasa (15/5/2018).

Fakta AR menolak berjihad membuktikan tidak semua anak terduga teroris sudah teradikalisasi. Oleh sebab itu, pihak terkait khususnya Komisioner Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) peting mengeluarkan rekomendasi tentang hal ini sebelum Densus 88 memburu terduga teroris pasca disahkannya revisi UU Teroris. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here