Israel tak Menggubris Trump Soal Pembangunan Permukiman Yahudi

0
93
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Palestina Mahmud Abbas di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (3/5) lalu

Nusantara.news, Washington DC – Setelah menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump menerima kedatangan Presiden Palestina Mahmud Abbas di Gedung Putih pada Rabu (3/5) kemarin.

Pertemuan diantara keduanya diharapkan melahirkan terobosan-terobosan baru terkait proses perdamaian Timur Tengah. “Semoga saja sesuatu yang luar biasa dapat terjadi antara Palestina dan Israel,” ungkap Trump sebagaimana ditulis kantor berita AFP di Oval Office.

Abbas duduk sambil tersenyum di samping Trump, tapi tidak memberikan pernyataan apa pun. Keduanya diharapkan menyampaikan pernyataan bersama setelah pembicaraan mereka, meskipun belum ada tanda-tanda akan diselenggarakannya jumpa pers usai pertemuan.
Sebelum bertemu Netanyahu, Presiden Trump berjanji akan membicarakan rencana pembangunan permukiman Yahudi di wilayah yang masih menjadi sengketa antara Israel dan Palestina. Selama ini rencana pembangunan itu menjadi ganjalan utama dalam perundingan perdamaian Israel-Palestina.

“Ya, kami akan terus melakukan pembicaraan dengan perdana menteri, dan presiden akan terus melakukan pembahasan,” papar juru bicara Gedung Putih Sean Spicer, Senin (1/5) dalam jumpa pers setelah ditanya, apakah Netanyahu menghina Presiden AS terkait laporan bahwa Israel berencana membangun 15.000 rumah di Yerusalem Timur.

Sebelumnya Trump bersumpah mengusahakan kesepakatan perdamaian Israel dengan Palestina. Saat Jumpa Pers Februari 2017 lalu Trump mendesak Netanyahu agar menahan rencana pembangunan permukiman untuk mewujudkan perdamaian.

Namun pada pekan lalu Menteri Perumahan Israel Yoav Galant tampaknya tidak menggubris seruan Trump. Kementerian yang dipimpinnya dan Dinas Pelayanan Kota Yerusalem tetap akan melanjutkan rencana pembangunan selama dua tahun ke depan sebanyak 25.000 rumah, dan 15.000 di antaranya akan dibangun di Yerusalem Timur, yang direbut dan diduduki Israel sejak 1967 melalui perang Timur Tengah.

“Kami akan membangun 10.000 unit di Jerusalem dan sekitar 15.000 lainnya di batas kota Yerusalem. Itu akan kami lakukan,” tantang Yoav Galant.

Namun kengototan Israel itu disebut Saeb Erekat, juru bicara utama Palestina, sebagai pelanggaran sistematis terhadap hukum internasional dan “sabotase yang disengaja” dalam upaya melanjutkan perundingan.

“Semua permukiman di wilayah Palestina yang diduduki adalah ilegal menurut hukum internasional,” katanya.

Ia menimpali, “Palestina akan terus meminta bantuan kepada badan internasional untuk menahan Israel, kekuasaan pendudukan, bertanggung jawab atas pelanggaran beratnya terhadap hukum internasional di seluruh wilayah Palestina yang didudukinya.”

Berita Channel 2 menyiarkan sebuah pengumuman tentang pembangunan pemukiman dapat mulai dikerjakan pada “Hari Jerusalem” tahun ini. Menurut kalender Ibrani bertepatan pada 24 Mei, ketika Israel merayakan pendudukan bagian timur kota itu.

Tahun ini adalah ulang tahun ke-50 pendudukan Yerusalem Timur yang akan diperingati dengan rencana perayaan besar-besaran. Kunjungan Trump diperkirakan berlangsung saat perayaan itu atau setelah 22 Mei.

Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara mereka, yang diharapkan akan terdiri dari wilayah Tepi Barat Sungai Jordan yang saat ini diduduki, dan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas.

Trump mengatakan dalam sebuah wawancara di Gedung Putih pada Kamis (27/4) bahwa ingin melihat kesepakatan damai Israel dan Palestina.

“Saya ingin melihat perdamaian antara Israel dan Palestina,” kata Trump.
Ia pun menandaskan, “Tidak ada alasan untuk tidak terjadinya perdamaian antara Israel dan Palestina. Tidak ada alasan apapun.”

Pada Januari, dua hari setelah Trump menjabat Presiden AS, Netanyahu sudah bersiap mencabut pembatasan pembangunan permukiman di Jerusalem Timur, dan menyetujui izin pembangunan ratusan rumah baru di wilayah itu.

Keinginan membangun pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur selalu mendapat kecaman saat AS dipimpin Barack Obama. Di bawah Trump, Netanyahu berharap mendapatkan lampu hijau untuk membangun permukiman Yahudi di wilayah pendudukan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here