Italia Diambang Krisis, Presiden Bubarkan Kabinet Populis

0
360
Carlo Cottarelli yang ditunjuk presiden Italia sebagai pelaksana tugas perdana menteri

Nusantara.News, Roma – Sebelumnya Presiden Italia hanya menjalankan tugas-tugas seremonial kenegaraan, hampir tidak pernah menggunakan hak konstitusionalnya – membubarkan pemerintahan dan mengangkat pelaksana tugas perdana menteri untuk menghindari kekosongan pemerintahan.

Namun kali ini Presiden Italia Sergio Mattarella – dengan alasan tidak setuju dengan calon menteri keuangan yang diajukan koalisi Partai Gerakan Bintang Lima Anti Kemapanan dan Partai Liga Ultra Kanan – memveto pembentukan kabinet yang memperpanjang krisis politik di Italia. Sejak pemerintahan sebelumnya – Silvio Berlusconi – demisioner menjelang pemilu 4 Maret 2018 Italia tidak memiliki pemerintahan.

Stagnasi Politik

Meskipun sempat terkatung-katung karena perbedaan prinsip – akhirnya kedua partai populis masing-masing Partai Gerakan Bintang Lima Anti Kemapanan dan Partai Liga Ultra Kanan -sepakat membentuk pemerintahan koalisi dengan menunjuk seorang akademisi sekaligus lawyer Giuseppe Conte sebagai perdana menteri. Awalnya Presiden Italia Sergio Mattarella merestui penunjukan ini (Baca : Pemerintahan Populis Italia Ancaman bagi Uni Eropa).

Plt PM Cottarelli dan Presiden Italia Sergio Mattarella

Terakhir kali kondisi stagnan karena koalisi bersikeras menempatkan ideolog “Eurosceptic” Paulo Savona menjabat menteri keuangan. Tidak adanya titik temu ini yang membuat Sergio Mattarella pada Minggu Pahing (27/5) lalu menggunakan hak-hak konstitusionalnya memveto kabinet koalisi dan menunjuk Carlo Cottarelli sebagai pelaksana tugas perdana menteri.

Parlemen tidak tinggal diam atas keputusan presiden. Dengan tidak adanya dukungan parlemen Cottarelli juga dipastikan gagal membentuk pemerintahan. Kedua partai pemenang yang sudah siap  membentuk pemerintahan sebelum diveto oleh presiden – masing-masing Partai Gerakan Bintang 5 Anti Kemapanan yang dipimpin oleh Luigi de Maio dan Partai Liga yang dipimpin oleh Matteo Salvini – akan menggerakan pendukungnya melakukan aksi jalanan.

Krisis politik di Italia itu mencemaskan sejumlah investor. Pasar keuangan global dibuat gonjang-ganjing dengan indikasi anjloknya harga saham gabungan di sejumlah bursa efek dunia. Pelaksana Tugas PM Italia Cottarelli telah menjadwalkan bertemu presiden untuk mengagendakan pemilu ulang yang diharapkan mengkahiri krisis politik di negaranya.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media di Eropa, Cottarelli – mantan ekonom International Monetary Fund (IMF) – yang diangkat presiden menjadi PM sementara oleh presiden telah gagal mendapatkan dukungan dari partai-partai besar di Italia.  Kemungkinan besar Cottarelli tahu diri dan enggan dilantik menjadi perdana menteri.

Secara konstitusional presiden Italia dapat memilih untuk mengabaikan pembentukan kabinet oleh pemerintahan koalisi sekaligus mengagendakan pemilihan umum pada bulan Juli. Namun pemilihan umum yang baru juga masih dibayang-bayangi oleh berbagai jajak pendapat yang menempatkan partai-partai politik populis anti Uni Eropa – dengan ideolog Eurosceptic Paulo Savona – posisinya semakin menguat. Dan kondisi itu akan menjadi pukulan yang keras bagi pasar keuangan di Eropa dan Dunia.

Italia sebagai ekonomi ke-4 terbesar di Uni Eropa memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas perekonomian dunia. Dengan alasan itu pula presiden tidak menerima pengangkatan mantan menteri perindustrian Italia Paulo Savona yang tidak setuju dengan Euro sebagai mata uang tunggal Uni Eropa sebagaimana telah diputuskan dalam perjanjian

Tentu saja Di Maio – selaku pimpinan Partai Gerakan Bintang 5 Anti Kemapanan – tidak tinggal diam. Dia sudah menyerukan protes damai dan mendesak pendukungnya bersatu membuat kebisingan. “Penting bagi kita melakukan semuanya secara bersama-sama,” ujarnya.

Pawai dan demonstrasi, jelas Maio, akan diselenggarakan di kota-kota besar Italia, termasuk acara hari libur nasional di Roma pada tanggal 2 Juni untuk memperingati terbentuknya Republik Italia paska Perang Dunia II. Begitu pun dengan pimpinan Partai Liga Matteo Salvini yang juga menyerukan protes massal sekaligus menuding Brussel dan Jerman berada di balik keputusan veto presiden.

Pasar Keuangan Goyang

Kekawatiran atas gejolak politik di Italia telah menggoyang pasar saham di Wall Street yang terpengaruh oleh anjloknya harga saham di Eropa. Prospek pemilu baru yang masih memungkinkan partai euroseptic memperkuat posisi mereka telah meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas nilai mata uang Euro.

Index harga saham gabungan Dow Jones merosot 1,6% dan S & P 500 kehilangan 1,2% setelah FTS MB Italia ditutup merosot 2,7% dan pasar saham utama lainnya di Eropa kehilangan veluasi lebih dari 1%. Aksi jual di obligasi Italia melebihi aksi jual selama 2 tahun yang mencapai 2%. Artinya terjadi lobjakan terbesar penjualan obligasi dalam tempo satu hari – dan itu mengulang kejadian 26 tahun yang lalu.

Pergerakan harga obligasi penting karena mempengaruhi biaya pinjaman bagi pemerintah. Utang Italia sekarang ini mencapai 130% dari output (PDB) perekonomiannya. Penjualan obligasi itu juga telah menghantam saham bank-bank Uni Eropa yang terkena utang pemerintah, terutama di Italia. Banco BPM, Banco Generali, Unicredit dan BPER Banca ditutup anjlok sekitar 5% hingga 6,7%.

Di Wallstreet, JP Morgan turun 3,7% dan Bank of America serta Citigroup juga mengalami penurunan hingga 3%. Morgan Stanley anjlok 5,3%.

Anjloknya saham bank juga menyeret sejumlah pasar saham utama di Eropa. Pada penutupan FTSE 100 Inggris turun hampir 1,3%, sedangkan DAX Herman turun 1,5% dan Cac Perancis turun 1,3%. “Pasar sudah berada dalam keadaan panik,” ucap Giuseppe Sersele – seorang fund manager di “Anthilia Capital Partners” yang mencatat “kurangnya kepercayaan dalam prospek keuangan publik Italia”.

Mohamed El-Erian – kepala penasehat ekonomi di Allianz di AS mentakan, “Jika situasi politik di Italia memburuk, spillovers jangka panjang akan dirasakan di AS melalui dolar yang lebih kuat dan pertumbuhan Eropa yang lebih rendah.

Seberapa besar pengaruh krisis Italia terhadap perekonomian dunia? Analis ekonomi BBC World Service – Andrew Walker – menyebutkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Italia yang sangat tajam adalah pertanda adanya peningkatan kegelisahan tentang prospek ekonomi. Tapi Andrew mencatat situasinya tidak – setidaknya belum – mendekati tingkat tekanan keuangan pada puncak krisis keuangan zona euro pada tahun 2011-2012.

Ketika ada aturan informal yang kadang-kadang digunakan – bahwa negara-negara mungkin membutuhkan bailout jika imbal hasil obligasi sepuluh tahun mereka – pada dasarnya biaya tahunan pinjaman uang selama sepuluh tahun – dipertahankan lebih dari 7%. Italia sudah mencapai level itu pada episode singkat sebelumnya. Namun kini sekitar 3% atau mungkin lebih tinggi dari itu – tetapi belum menyala merah.

Sebagaimana diberitakan, Gerakan Bintang 5 Anti Kemapanan yang meraih 33% suara pemilih dan Liga dengan kekuatan 17% suara pemilih sudah sepakat membentuk pemerintahan yang belakangan diveto oleh presdien dengan alasan menempatkan sosok anti uni Eropa duduk di menteri keuangan – telah memperpanjang krisis politik di Italia.

“Kami telah melihat aksi jual yang tajam untuk asset beresiko karena masalah politik Italia semakin dalam, dan investor tampaknya membuang eksposur mereka ke Italia,” terang Neil Wilson – kepala analis untuk Markets.com

“Namun masalahnya, apakah ini semata-mata masalah Italia atau salah satu yang berisiko signifikan ke seluruh Eropa?” tandas Wilson.

Pemberitaan di koran-koran Italia

Di sisi lain surat kabar Italia memberitakan Carlo Cottarelli akan sulit membentuk pemerintahan – dan kalau pun berkuasa akan sulit menjalankan pemerintahannya. Surat kabar “Manifesto Kiri” mengulas, “Tidak mudah menemukan orang yang siap tinggal di pemerintahan selama beberapa bulan, tanpa kepercayaan di parlemen, dan disalibkan oleh dua pihak terkuat yang siap menerkamnya.”

Harian sentris “Corriere Della Sera” menunjukkan Cottarelli akan menjadi “tangan tetap di belakang kemudi, di perairan pasar (bebas) yang dijanjikannya untuk bermain kasar, tetapi itu akan sulit bagianya untuk beroperasi karena dia akan menjadi perdana menteri tanpa kepercayaan (dari parlemen).”

Tentu, Indonesia juga mesti tanggap dan memperhatikan gejala political unrest di Italia ini.[] Sumber BBC News

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here