Izin Diperpanjang, Harga Saham Freeport pun Terbang

0
122
Harga saham Freeport McMoran Inc. hari ini naik 1,58% ke posisi US$12,20

Nusantara.news, Jakarta – Inilah berkah kedatangan Barrack Obama ke Indonesia bagi negaranya. Saham Freeport McMoran Inc. di New York Stock Exchange (NYSE) pada perdagangan sesi pertama hari ini meningkat 0,19 poin (1,58%) menjadi US$12,20 per lembar saham menyusul merebaknya kabar perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia di Papua.

Berdasarkan data Bloomberg New Wire, pada perdagangan sesi pertama harga saham Freeport sempat menyentuh level tertinggi di posisi US$12,30 jelang penutupan sesi pertama. Namun akhirnya ditutup stabil di posisi US$12,20 per lembar saham.

Rapat gabungan sejumlah menteri ekonomi yang dipimpin Menko Perekonomian Darmin Nasution pada Selasa (4/7) terkait Freeport membicarakan empat hal. Yakni masalah perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter), divestasi saham, serta stabilitas investasi.

Dari keempat hal tersebut, dikabarkan persoalan perpanjangan kontrak karya PT Freeport disepakati 2 x 10 tahun. Artinya pada termin pertama kontrak karya diperpanjang dari 2021 menjadi 2031, sementara pada termin kedua diperpanjang dari 2031 menjadi 2041 setelah terlebih dahulu dilakukan evaluasi.

Karuan saja pasar bereaksi positif atas isu tersebut. Tentu saja hal ini positif bagi Freeport McMoran, para pemegang saham, dan juga bagi Indonesia dimana Feeport beroperasi.

Kenaikan harga saham ini juga merupakan bagian dari dampak positif pembicaraan mantan Presiden Barrack Obama dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor. Dikabarkan salah satu tema pembicaraan itu adalah masalah Freeport, sehingga pembicaraan dua orang penting itu ditindaklanjuti dengan rapat gabungan para menteri.

Menko Perekonomian Darmin Nasution kemarin memimpin rapat soal Freeport dan dihadiri oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarmo, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Peristiwa ini mengingatkan pada saat Wakil Presiden AS Mike Pence, bertandang ke Indonesia dan menemui Presiden Jokowi pada 20 April 2017. “Freeport is done, sudah ditandatangani,” demikian kata Menlu Retno Marsudi, waktu itu.

Benar saja, selang beberapa lama, PT Freeport Indonesia langsung mendapat izin untuk mengekspor konsentrat tembaga sebesar 1.113.105 wet metric ton (WMT). Hebatnya, Surat Persetujuan Ekspor (SPE) dari Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan  diterbitkan Jumat malam (21/4). Padahal Freeport baru mengajukan permohonan pada hari Kamis (20/4) tepat di hari pertemuan Wapres Pence dengan Presiden Joko Widodo.

(Lihat: Wapres AS Pulang, Izin Ekspor Freeport Datang)

Rangkaian panjang lobi-lobi tingkat tinggi para mantan Presiden AS untuk membantu korporasi di AS bukanlah hal baru. Masih segar dalam ingatan ketika Bill Clinton menjadi perantara perpanjangan kontrak Chevron di Senegal, saat itu perusahaan tambang Cina Zijin Mining Group Company Limited siap mengambil alih jika Chevron tidak diperpanjang. Akhirnya Chevron menang.

Beredarnya kabar mengenai kemungkinan perusahaan Cina mengambilalih kepemilikan PT Freeport Indonesia dari tangan Freeport McMoran Amerika Serikat nampaknya semakin beralasan setelah Freport McMoran menjual saham mayoritasnya di tambang perunggu Tenke Fungurume di Republik Demokratik Kongo kepada Molybdenum Tiongkok senilai US$2,65 miliar (ekuivalen dengan Rp35,25 triliun).

Selain itu, Barrick Gold milik Aaron Regent yang juga tangan kanan Li Khai Shing dan Tambang di Tenke Fungurume di Republik Demokratik Kongo oleh Molybdenum Tiongkok, juga telah membeli saham kepemilikan Freeport beroperasi di Chili.

Sehingga, merebaknya kabar bahwa sebuah konsorsium Cina akan membeli kepemilikan saham PT Freeport Indonesia menjadi semakin memiliki sandaran historis mantan-mantan Presiden AS. Pada Februari 2017 lalu, Jaringan Pro Demokrasi sempat menaruh kekhawatiran terhadap kemungkinan Freeport Indonesia diambilalih oleh perusahaan Cina.

Kekhawatiran Jaringan Pro Demokrasi jika Cina berhasil merebut kepemilikan saham Freeport, Cina kemungkinan akan membawa para pekerjanya dari negerinya untuk mengisi seluruh struktur manajemen Freeport di semua tingkatan, mulai dari manajemen tingkat atas hingga menengah serta bawah.

Semua proses itu melibatkan mantan-mantan orang nomor satu di AS, dan rerata berhasil. Restu perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia oleh Kemeneterian ESDM ternyata direspon positif oleh pelaku pasar. Mereka memborong saham Freeport sehingga mampu meningkatkan kapitalisasi pasar saham Freeport di NYSE hingga mencapai US$20 miliar atau ekuivalen dengan Rp266 triliun.

Sempat jatuh

Sebenarnya harga saham Freeport sempat jatuh di posisi terendah yakni di level US$10,62 per lembar saham, yakni sepekan sebelum pemilihan presiden AS. Level tersebut terjadi lantaran adanya isu kontrak karya Freeport tak akan diperpanjang.

Setelah proses pemilihan berlangsung dan pengumuman kemenangan Donald Trump-Mike Pence, harga saham Freeport naik hingga US$12,09 per lembar saham. Kenaikan saham ini dipicu oleh janji-janji politik Trump yang akan membangun infrastruktur besar-besaran, termasuk membangun tembok di sepanjang perbatasan AS dan Meksiko.

Saat itu, Trump berjanji akan mengeluarkan anggaran hingga US$275 miliar untuk pembangunan selama 5 tahun masa pemerintahannya. Pada saat yang sama Trump pun memegang saham Freeport walaupun tidak besar, kemenangannya juga membawa implikasi positif terhadap harga saham Freeport hingga diperdagangkan pada level tertinggi US$15 per lembar saham.

Namun lagi-lagi isu divestasi saham PT Freeport Indonesia dan penghentian masa perpanjangan kontrak karya sampai 2021, kembali menghempaskan harga saham Freeport hingga ke level US$11,21 per lembar saham pada 21 Juni. Itu sebabnya Obama dengan segala pamornya menjalankan tugas bertemu Jokowi dan ditindaklanjuti pertemuan para menteri terkait. Hasilnya, kontrak karya Freeport diperpanjang hingga 2031.

Diperkirakan harga saham Freeport ke depan masih akan terus naik dan boleh jadi melebihi level US$20 per lembar saham. Harga saham Freeport dalam sejarahnya pernah menyentuh level tertinggi US$62 pada 2014 dan terendah US$7 per lembar saham pada 2005.

Itu sebabnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengusulkan dua dari 52 perusahaan asing yang pendapatannya berasal dari Indonesia untuk melantai di BEI. Dua di antara perusahaan itu adalah PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara.

Tito pun mengusulkan hal itu ke Presiden Jokowi. “Presiden telah minta daftarnya dan saya berikan ke beliau,” kata Tito di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (4/7).

Ia menyatakan, 52 perusahaan tersebut meliputi berbagai sektor usaha, mulai dari properti, hingga kelapa sawit. Adapun, total nilai kapitalisasi pasarnya ditaksir di atas Rp400 triliun.

Tito sengaja melapor kepada Jokowi agar perusahaan-perusahaan tersebut dapat didorong untuk mencatatkan saham di BEI. Contohnya, Freeport Indonesia yang pendapatan besarnya berasal di Indonesia patut melantai di bursa efek lokal. Sedangkan untuk Newmont, dirinya mengatakan perusahaan tersebut telah sepakat untuk segera mencatat perdagangan saham di BEI.

Jika usulan Tito ini diamini Presiden, maka ke depan PT Freeport Indonesia langsung masuk dalam 10 emiten terbesar di pasar modal. Semoga saja bisa terealisasi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here