Jabar Bertabur Bintang, Tapi Parpol Gamang Usung Cagub

0
78

Nusantara.news, Jakarta – Pelaksanaan pesta demokrasi Rakyat jawa barat (Jabar) tak sampai setahun lagi, namun hingga saat ini sejumlah partai politik (parpol) belum menentukan sikap dalam menentukan pasangan calon yang akan diusung.

Kondisi politik di Jabar memang unik, sebab banyak calon yang terbilang memiliki elektabilitas dan kualitas yang mumpuni, namun parpol masih gamang menentukan pilihannya.  Artinya, parpol di Jabar sebenarnya tidak kesulitan mencari tokoh untuk dimajukan dalam perebutan kursi nomor satu di Jabar. Sejumlah tokoh yang mumpuni dan memiliki elektabilitas tinggi sudah menyatakan diri untuk maju, seperti Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Deddy Mizwar (Wagub Jabar yang juga aktor senior), Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta dan juga Ketua DPD 1 Golkar Jabar), dan terakhir muncul Yusuf Macan Effendi alias Dede Yusuf yang masih menjabat Ketua Komisi IX DPR dari Fraksi Demokrat, mantan Wagub Jabar yang juga aktor film.

Dengan bekal ketokohannnya, keempat nama tersebut dijamin populer bagi masyarakat Jabar. Selain itu, mereka juga memiliki rekam jejak yang baik, karena belum pernah terseret kasus korupsi dan skandal hitam lainnya.

Kemungkinan yang menjadi kesulitan bagi parpol adalah keinginan untuk mendorong kadernya, sementara parpol sendiri minim kader yang memiliki elektabilitas. Dari keempat nama yang memiliki elektabilitas tinggi tersebut, hanya Dedi Mulyadi dn Dede Yusuf yang benar-benar murni kader parpol. Sedangkan, Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar bukanlah kader parpol.

Logikanya,  Demokrat selayaknya menentukan sikap mengusung Dede Yusuf, namun sikap itu tak kunjung muncul. Dede dipaksa bersaing dengan Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat Iwan Sulanjana dan anggota DPR Herman Khaeron.

Begitupun dengan Golkar, hingga kini masih menggantung nasib Dedi Mulyadi. Belakangan Dedi meradang karena dimintai mahar sebesar Rp 10 miliar dari orang yang mengaku dekat dengan DPP Golkar.

Sementara, Ridwan Kamil yang sudah diusung Nasdem dan PKB belum bisa bernafas lega. Sebab, gabungan kursi di DPRD Jabar kedua parpol yang mengusungnya itu belum memenuhi syarat untuk mengajukan calon, Nasdem hanya 5 kursi dan PKB 7 kursi sehingga totalnya 12 kursi. Sementara syarat mengajukan calon minimal 20 kursi.

Satu-satunya parpol yang bisa mengajukan calon sendiri hanya PDI-P yang memiliki jumlah 20 kursi di DPRD Jabar. Namun, hingga saat ini partai moncong putih belum juga menentukan sikap. Begitupun dengan PKS memiliki 12 kursi yang santer disebut akan kolaborasi dengan Gerindra memiliki 11 kursi tampaknya masih gamang. Padahal, bila PKS dan Gerindra bergabung dengan total kursi 23, berarti sudah cukup untuk mengusung pasangan calon.

“Kami memang sudah banyak menerima nama untuk Pilkada Jabar, tapi masih kami pantau. Insha Allah, nanti saatnya akan kami sebutkan siapa calon yang tepat,” kata Ketua DPP Gerindra, Sodik Mudjahid.

Apabila kegamangan parpol menentukan sikap karena faktor kehati-hatian mengingat Jabar miniatur Indonesia dengan jumlah pemilih terbanyak 32 juta, maka itu bisa dimaklumi. Tapi, jangan sampai kegamangan itu karena dipengaruhi kepentingan kelompok tertentu, maka tentu akan menghianati demokrasi. Apalagi bila dicermati Jabar kini ‘diserbu’ sejumlah megaproyek, diantaranya milik swasta seperti Meikarta, maka semua kemungkinan bisa terjadi. Semoga semua itu tidak benar, sehingga tujuan pesta demokrasi mencari pemimpin ideal harapan rakyat Jabar benar-benar bisa terwujud.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here