Jalan Rusak, Potensi Kerugian Jatim Capai Rp7 Miliar per Hari

0
103

Nusantara.news, Surabaya – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mendesak kepada pemenang lelang proyek pembangunan jalan nasional untuk segera mempercepat pekerjaan jalan yang rusak.

Sebagaimana diketahui, klaim sepihak Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VIII bahwa 99,08% jalan mulus dibantah keras oleh Gubernur Soekarwo, dan meminta BBPJN untuk intropeksi diri. Kenyataan di lapangan banyak jalan nasional rusak dan berlubang.

Kondisi paling parah terjadi di Desa Betoyo, Kecamatan Manyar, Gresik. Perbaikan jalan yang sebelumnya dikenal sebagai jeglongan sewu itu menimbulkan permasalahan baru. Kondisi terakhir jalan sepanjang 15 KM yang menghubungkan Kabupaten Gresik – Kabupaten Tuban seolah menjadi padang pasir dengan debu yang menebal.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf ketika melakukan sidak ke jalan Sembayat, Gresik, Minggu (12/3/2017) merasa prihatin dengan kondisi jalan saat ini. Sembari membagikan masker, pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mendorong kepada pemenang lelang perbaikan jalan nasional untuk segera mereralisasikan pekerjaannya, karena sudah banyak menimbulkan korban.

“Kami (Pemrpov Jatim) berharap pemenang lelang untuk segera memperbaiki kondisi jalan nasional yang rusak di wilayah Jawa Timur. Ya, paling tidak melakukan penyiraman jalan agar debu tidak menggangu pemakai jalan seperti halnya yang terjadi di Sembayat, kasihan pemakai jalan. Kita juga harus melindungi keamanan para pemakai jalan,” jelasnya kepada wartawan, Minggu (12/3/2017).

Tak hanya pemakai jalan yang merasa dirugikan dengan kondisi tersebut. Dari sektor ekonomi, kerusakan jalan juga merugikan masyarakat Gresik, apalagi posisi kota ini berada di ring 1 sebagai pusat industri di Jawa Timur.

“Saya prihatin atas kondisi jalan menuju Sembayat yang berdebu. Debu yang ada ini akibat penyelesaian pembangunan serta dampak dari banyaknya lubang  jalan di daerah ini yang terkenal dengan jeglongan sewu,” tegas Gus Ipul.

Gus Ipul sangat berharap agar progres minimal dalam satu sampai dua minggu ini sudah ada perbaikan jalan di Desa Betoyo, Manyar Gresik dan sekitarnya. Paling tidak untuk meminimalisir debu yang menebal dan agar bisa menyiram jalan dengan air, sehingga masyarakat sekitar dan pemakai jalan bisa nyaman.

“Tiap hari kami menerima pengaduan masyarakat terhadap kerusakan jalan melalui layanan pengaduan di pemprov. Akan tetapi, kami tidak bisa berbuat banyak selama anggaran untuk pembangunan harus melalui Kementrian Pekerjaan Umum lewat Balai Besar. Tugas kami adalah terus mendorong dan mengingatkan penyelesaian pembangunan jalan agar masyarakat tidak dirugikan,” pungkasnya.

Kerugian Ekonomi Akibat Jalan Rusak di Gresik

Gubernur Soekarwo menyatakan bahwa pada tahun 2016 pekonomian Jawa Timur, berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, tercatat Rp1.855 triliun atau 14,95% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sementara iti pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, jika dilihat dari lapangan usaha industri pengolahan, mempunyai kontribusi 28,92%, perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil sepeda motor sebesar 18% dan pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 13,31%.

Dari struktur PDRB Jawa Timur yang besarnya mencapai Rp1.855 triliun tersebut  28,92% diantaranya adalah kontribusi dari industri. Hal ini merurut Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto beberapa waktu yang lalu di Mojokerto mengindikasikan bahwa Jawa Timur sudah masuk menjadi provinsi industri bersama Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hal ini penting, karena industri merupakan lokomotif pembangunan di Indonesia.

Menanggapi kondisi jalan rusak di wilayahnya, Bupati Gresik Sambari Halim menyebutkan, akibat kerusakan pada ruas jalan tersebut, kerugian ekonomi diperkirakan berkisar Rp 7 miliar per hari . Meski tidak menyebutkan dengan detail, namun nilai kerugian tersebut langsung ditanggung oleh pelaku ekonomi dan masyarakat.

“Ruas ini merupakan jalan utama yang menghubungkan dua pelabuhan, yakni di Kabupaten Lamongan dan Gresik serta sejumlah kawasan industri di Gresik. Nilai tersebut masih taksiran sementara, bahkan bisa lebih dari itu,” kata Sambari Halim saat dikonfirmasi wartawan di Gresik.

Ditambahkan, meskipun kondisi jalan rusak berada di wilayahnya, namun Pemkab Gresik tak bisa berbuat banyak untuk mengatasi kerusakan jalan. Penyebabnya adalan status jalan di berada bawah pengelolaan pemerintah pusat, yakni Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VIII.

“Kalau kami melakukan perbaikan, malah bisa disalahkan, soalnya pengalokasian anggarannya berbeda. Yang bisa dilakukan Pemkab Gresik adalah menghimbau kepada pemakai jalan untuk sementara untuk menghindari ruas-ruas jalan rusak di Sembayat, Gresik,” tambahnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here