Jalan Terjal Gus Ipul Menuju Pilgub Jatim

0
136
Gus Ipul, Wakil Gubernur Jawa Timur (Sumber: Tino Oktaviano)

Nusantara.news, Kota Malang – Pesta demokrasi, atau Pilgub Jatim 2018 semakin dekat. Bakal pasangan calon juga mulai melakukan aneka manuver.  Komunikasi antar partai intens dilakukan untuk mendapatkan tiket menjadi calon. Sampai saat ini belum ada yang menyandang status sebagai calon gubernur.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) yang sejak jauh hari sudah mempersiapkan diri dan berkomunikasi dengan partai politik, sampai saat ini masih menyandang status bakal calon. Menurut Gus Ipul dirinya dan PKB sedang mematangkan koalisi dan menjalin komunikasi dengan pimpinan partai bakal kawan koalisi.

“Iya semuanya masih digodok, kami masih akan melakukan pembicaraan tahap akhir atau finalisasi kepada partai koalisi ,” jelasnya.

Ketika ditanya tentang bakal calon pesaing yang sama – sama memiliki latar belakang yang sama Nahdlatul Ulama (NU) yang juga akan maju dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018, Gus Ipul mengaku hal itu merupakan tantangan.

“Iya pasti terjal, yang namanya kompetisi gak ada yang lempeng. Apalagi memiliki kedekatan latar belakang yang sama. namun, kita serahkan saja ke masyarakat,” kata saat ditemui wartawan di Graha Cakrawala UM, Kamis (5/10/2017) lalu.

Sebelumnya, Gus Ipul juga sudah menghadapi jalan terjal. Ketika itu PKB sempat mengatakan akan mengusung Abdul Halim Iskandar alias Pak Halim yang tidak lain kakak kandung Ketua Umum PKB Adbul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Halim merupakan Ketua DPW PKB Jatim sekaligus orang nomor satu di DPRD Indrapura. Berbagai alat peraga Halim sempat menyebar di seluruh Jawa Timur seperti baliho, spanduk, banner, sosial media termasuk Youtube.

Tidak kurang Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar  ketika itu sudah turut ke bawah menyosialisasi pencalonan Halim.

Namun, pada pertengahan Mei 2017 beredar surat yang berisikan tanda tangan dari sejumklah kiai, berlabel ‘Instruksi Ulama’ yang meminta PKB dan NU mengusung satu calon saja untuk Pilgub Jatim 2018 yakni Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). Salah satu alasan dan dalih untuk itu adalah hasil survei elektabilitas Gus Ipul yang lebih unggul daripada Halim Sejak saat ini nama Halim meredup, dan nama Gus Ipul muncul ke permukaan.

Bursa kandidat Pilgub Jawa Timur 2018 mulai panas setelah Khofifah Indar Parawansa memastikan diri maju sebagai salah satu kandidat calon gubernur. Sejauh ini, baik Khofifah maupun Gus Ipul sama-sama dinilai memiliki elektabilitas tinggi dan diprediksi akan bersaing ketat dalam Pilgub Jatim 2018.

kedua tokoh ini memiliki latar belakang sama yakni di kalangan NU. Gus Ipul didukung PKB, sedang Khofifah Indar Parawansa didukung Muslimat dan Fatayat NU.

Kehadiran Khofifah mendorong Gus Ipul mulai agresif mempersiapkan diri.

Agresifitas itu dibaca oleh Universitas Negeri Trunojoyo, Mochtar W Oetomo sebagai tanda-tanda Gus Ipul gentar. Gus Ipul menunjukkan bahwa dia kurang percaya diri. “Padahal, sebagai incumbent wakil gubernur dua periode, popularitas Gus Ipul lumayan, cukup bagus, dan mempunyai kekuatan yang luar biasa, jika dibandingkan lainnya,” kata Mochtar W Oetomo.

Menurut Muchtar, ada beberapa alasan sehingga Gus Ipul agresif mengenalkan diri. Pertama karena dia sebelumnya belum memiliki partai pendukung di mana dia menjadi kader. Dia memang harus agresif sebagai strategi meningkatkan nilai tawar.

“Ibarat sepak bola, pertahanan paling baik adalah menyerang. Ini yang dipakai Gus Ipul saat ini. Agar kandidat lain tidak punya kesempatan, maka dia begitu agresif,” tutur mantan dosen Unitomo tersebut.

Namun, Mochtar menganggap strategi tersebut cukup riskan. Apalagi bila kegiatannya tersebut dilakukan dengan mendompleng jabatannya sebagai wakil gubernur, tokoh NU maupun tokoh Jawa Timur. “Sikap agresif seperti itu bisa menjadi buah simalakama bagi Gus ipul.  sebab masayarakat tidak suka dengan calon yang terang-terangan mengemukakan ambisi seperti itu.  Gus Ipul bisa dianggap serakah dan kemaruk. kalau mau Gus ipul harus ubah strategi yang lebih soft, sehingga masyarakat bersimpati,” urainya.

Disinggung mengenai bakal calon yang baru dua yang menonjol yakni Gus Ipul dan Khofifah, Mochtar menganggap hal itu sebagai strategi. Kandidat lain sengaja diam untuk menunggu momentum. “Mereka ingin melihat Gus Ipul tergelincir lebih dulu, setelah itu mereka baru muncul. Banyak tokoh di Jawa Timur yang memiliki potensi, seperti Pak Halim (Ketua DPRD Jatim), Tri Risma (Walikota Surabaya), Mas Kanang (Bupati Ngawi) dan lainnya,” tandasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here